Tim Eropa sukses mempertahankan Solheim Cup di tengah kondisi yang cenderung memberatkan mereka. Lalu bagaimana mereka bisa sukses menaklukkan Tim AS?
Oleh Raka S. Kurnia, GolfinStyle.
Jawaban paling singkat dari pertanyaan pada judul kita di atas adalah karena Tim Eropa jauh lebih baik daripada Tim Amerika Serikat. Skor akhir 15-13 untuk Eropa membuktikan hal tersebut. Namun, jelas ada sejumlah kualitas lain yang membuat mereka menjadi yang terbaik.
Kemenangan Eropa ini mungkin mengejutkan, mengingat mereka memang terkesan tidak memiliki keunggulan sama sekali. Pandemi COVID-19 membuat para penggemar dari Eropa tidak dapat menyeberangi Samudra Atlantik untuk mengimbangi dukungan tuan rumah. Selain itu, peringkat para wanita Eropa masih kalah ketimbang para pegolf Amerika, yang dipimpin oleh peraih medali emas Olimpiade dan pegolf No.1 Dunia saat ini, Nelly Korda. Sedangkan peringkat terbaik dunia di kubu Eropa dipegang oleh Anna Nordqvist yang menempati peringkat 15 dunia.
Namun, seperti yang terpancar dari kompetisi di Kasumigaseki Country Club awal Agustus 2021 lalu, kompetisi seperti Solheim Cup mampu menciptakan nuansa yang jauh lebih kuat dari segi gengsi dan kebanggaan. Keunggulan kolektif Eropa menjadi kekuatan yang membantu mereka mengatasi hal-hal yang terlihat melemahkan posisi mereka.
Satu hal yang juga menonjol dari pertemuan kedua kubu ini ialah bagaimana para wanita Eropa memiliki ketangguhan mental yang luar biasa. Ketika Anda harus bertanding tanpa pendukung setia yang kerap mewarnai ajang seperti ini dan berhasil menganggap dukungan publik tuan rumah sebagai angin lalu, Anda telah menunjukkan ketangguhan secara mental. Seperti itulah para wanita-wanita Eropa di tanah Amerika.

Ketangguhan itu bisa tercipta lantaran pengalaman sebagian dari mereka yang kerap harus bertanding di berbagai negara, bahkan hingga Australia, yang terjauh, dan Afrika, yang jauh. Pada musim ini, sampai menjelang Solheim Cup digelar, para pegolf wanita Eropa telah berkelana ke 11 negara. Bahkan dengan pemain seperti Hall, Castren, Popov, Maguire, Nordqvist, maupun Sagstrom yang bermain pada LPGA, tak jarang mereka menyeberang ke Ladies European Tour untuk mengikuti sejumlah kompetisi.
Bandingkan dengan rekan Amerika mereka yang hanya berkunjung sebentar ke Asia setiap tahunnya, namun lebih banyak berkompetisi di negaranya. Selain Singapura dan Thailand, sebagai bagian dari Asian Swing, mereka berkunjung ke Perancis, Irlandia Utara, dan Skotlandia. Dua di antaranya untuk ajang Major.
Pengalaman kumulatif sebagian besar anggota Tim Eropa itu menciptakan energi yang berbeda, yang kemudian menciptakan pribadi-pribadi tangguh. Dan ketika ke-12 wanita itu berkumpul dalam satu tim, kekuatan mental kolektif yang merupakan gabungan dari delapan negara berbeda–sembilan jika Anda menghitung Catriona Matthew, sang kapten–itu kemudian ikut membantu menciptakan kejutan bagi Tim Amerika.
Kunci kemenangan Eropa jelas berada pada kemampuan mereka menciptakan kejutan pada hari pertama. Pasangan Skandinavia Anna Nordqvist (Swedia) dan Matilda Castren (Finlandia) sukses membuka keunggulan Eropa dengan menaklukkan Danielle Kang dan Austin Ernst pada sesi foursome. Mereka kembali mempersembahkan poin setelah menang telak 4&3 atas Lexi Thompson dan Mina Harigae pada sesi fourball. Melissa Reied dan Leona Maguire, serta pasangan Charley Hull dan Emily Pedersen ikut menyumbang poin pada sesi foursome. Maguire kembali menciptakan kesan yang kuat setelah kembali memberi poin bagi Eropa kala berpasangan dengan Georgia Hall pada sesi fourball, sekaligus memastikan awal yang solid 5,5 dan 2,5 bagi keunggulan Eropa.
Sesi fourball pada hari kedua juga ikut menjadi salah satu titik krusial bagi Eropa. Duet Carlota Ciganda dan pemain debutan lain asal Denmark Nanna Koerstz Madsen, serta Hull dan Pedersen yang menyumbangkan dua poin, serta keberhasilan Reid mencuri birdie di hole terakhir kala ia dan Maguire berhadapan dengan Lizette Salas dan Jennifer Kupcho, memastikan Eropa tetap memiliki keunggulan dua poin atas Amerika.

Sisanya, seperti yang sudah kita ketahui bersama, kedua kubu ini berbagi poin pada sesi tunggal hari Senin (7/9) kemarin, yang sekaligus memastikan Tim Eropa sukses mempertahankan trofi.
Sudah tentu ada sejumlah individu yang menonjol. Catriona Matthew, sang kapten, memuji penampilan nyaris sempurna Maguire. Pegolf Irlandia, yang memegang rekor 135 pekan sebagai pegolf amatir No.1 dunia ini menyumbangkan 4,5 poin tanpa pernah kalah. Seperti halnya Maguire yang menjadi pegolf Irlandia pertama yang menjadi bagian dari Tim Solheim Cup Eropa, Castren juga menjadi pegolf Finlandia pertama yang terpilih. Dan pemilihan itu tidak mengecewakan karena ia ikut menyumbang tiga poin. Madsen juga ikut menyumbangkan 1,5 poin bagi timnya. Dan meskipun Popov gagal menyumbangkan poin, penampilannya kali ini akan menjadi modal berharga untuk kembali bisa mewakili Eropa ketika Solheim Cup digelar di Cortesin Costa del Sol di Andalucia, Spanyol tahun 2023.
Meski demikian, kubu Amerika masih memegang rekor kemenangan terbanyak. Sejak ajang ini diselenggarakan untuk pertama kalinya tahun 1990, Tim Amerika telah memenangkan sepuluh edisi. Periode terbaik mereka terjadi pada era 2005-2009, ketika para wanita terbaik Amerika memenangkan trofi sebanyak tiga kali berturut-turut.
Kemenangan kali ini sekaligus menjadi kemenangan Eropa yang kedua kalinya diraih di Benua Amerika. Uniknya, pada tahun kemenangan pertama mereka di Negeri Paman Sam itu, Tim Eropa meraih kemenangan terbesar dalam sejarah Solheim Cup dengan skor kemenangan 18-10. Kubu Amerika sendiri meraih kemenangan terbesarnya pada edisi pertama, tahun 1990, degnan keunggulan 11,5 dan 4,5 atau unggul tujuh poin.
Pertanyaan selanjutnya ialah akankah keberhasilan kaum wanita ini akan berdampak pada tim pria tatkala Ryder Cup digelar dua pekan yang akan datang?


