Pekan ini para pegolf terbaik Indonesia akan kembali mendapat ujian dari para pegolf terbaik dunia dan Asia ketika Bank BNI Indonesian Masters presented by Bank BTN, PT Lautan Luas Tbk, and Bank Mandiri kembali bergulir. Ini sekaligus menjadi panggung ujian pamungkas bagi 26 pegolf Indonesia yang akan berlaga di Royale Jakarta Golf Club.
Total angka tersebut hadir melalui sejumlah kategori, berdasarkan kategori keikutsertaan pada ajang yang menjadi turnamen tutup musim Asian Tour ini. Dari kategori pemain lokal, 20 nama dipastikan ikut bertanding, dengan 19 di antaranya adalah pegolf Indonesia. Mereka ini adalah 20 pegolf profesional terbaik menurut peringkat Order of Merit PGA Tour of Indonesia. Dari kategori pemain undangan, ada 3 nama lain yang muncul. Sementara guna memberi kesempatan berlaga pada level dunia, 4 spot lainnya diisi oleh empat pegolf top amatir Indonesia.
Danny Masrin jelas bakal memimpin kontingen Indonesia untuk berusaha meraih kehormatan di negeri sendiri. Tak salah jika menyebut bahwa Danny menjadi pegolf yang berpeluang besar untuk mencatatkan prestasi ketika turnamen ini bergulir Kamis, 13 Desember 2018 mendatang. Sejak beralih profesional pada 2015 lalu, Danny telah berkembang pegolf tersukses sepanjang sejarah Indonesian Golf Tour, sirkuit profesional Indonesia yang telah bergulir sejak 2014.
Tahun ini, Danny menjuarai dua ajang Indonesian Golf Tour. Kemenangan terakhir ia bukukan ketika menjuarai Indonesian Golf Tour Grand Final. Itulah gelar profesional ke-7 dalam kariernya, yang membuatnya berhasil melampaui pencapaian George Gandranata.
Selain itu, meskipun hanya mengikuti enam dari total delapan seri, Danny tidak pernah terlempar dari lima besar. Performa terburuk, jika bisa dikatakan demikian, pada Indonesian Golf Tour musim ini ialah ketika ia finis di peringkat T5 pada Seri IV. Kala itu ia hanya bermain even par. Sementara catatan skor terbaik ia torehkan ketika menjuarai Seri Grand Final dengan catatan skor 11-under 205, setelah pada Seri V ia menorehkan 10-under 206 untuk finis di peringkat ketiga.
“Saya sudah memiliki strategi yang cocok sejak tee off. …. Dengan begini saya tak perlu banyak berpikir ketika mulai bermain pada hari Kamis dan Jumat, dan juga akhir pekan.” – Danny Masrin
Performa yang relatif stabil itulah yang bakal coba ia ulangi lagi pekan ini.
“Sebelum bermain pada Queen’s Cup hosted by Thongchai Jaidee Foundation, saya memang terus berlatih di Royale Jakarta Golf Club. Dan dari aspek mental, saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya bermain melawan lapangan, bukan menghadapi Justin Rose atau Henrik Stenson. Target saya, kalau bisa bermain di bawah 70, saya akan sangat senang,” tutur Danny.
Sejauh ini persiapannya terbilang sangat baik. Ia menambahkan bahwa dari sejumlah latihan yang ia mainkan di Royale Jakarta Golf Club, ia sering bermain di bawah par.
“Jadi, saya sudah tahu dan sudah biasa bermain di bawah par. Hanya saja permainan di sekitar green, seperti chipping dan putting, harus benar-benar tajam,” imbuhnya lagi.
Pada awal tahun, Danny juga sempat membuat Indonesia menjadi sorotan dunia. Ketika bertanding pada SMBC Singapore Open, ia sempat bersaing dan memiliki peluang untuk menjadi pegolf Indonesia pertama yang menjuarai sebuah ajang Asian Tour dan Japan Golf Tour. Pada akhir putaran ketiga, ia berada di tempat keempat bersama Satoshi Kodaira, yang kemudian menjuarai ajang PGA TOUR. Keduanya hanya berjarak lima stroke dari Sergio Garcia.
Sayang pada putaran final Danny malah bermain 75. Tapi dengan total skor 5-under 279, ia bisa finis di tempat ke-12 bersama tiga pemain lainnya. Itu merupakan prestasi terbaik baginya dalam sebuah ajang Asian Tour dan Japan Golf Tour.

Sementara pada ajang Asian Development Tour, Danny meraih hasil terbaiknya ketika bermain pada Ciputra Golfpreneur Tournament presented by Panasonic. Ia mencatatkan 15-under 273 dan hanya selisih satu stroke saja untuk bisa mengikuti babak play-off. Hasil positif ini sekaligus melanjutkan permainan bagusnya tiap kali bermain di Damai Indah Golf Bumi Serpong Damai Course. Ia bahkan sempat berujar, “Kalau Indonesian Masters dimainkan di sini (BSD Course), saya yakin bisa juara,” mengingat catatan skornya yang kerap bagus.
Tapi bermain di Royale Jakarta Golf Club pada penghujung tahun dan dengan curah hujan yang mulai tinggi, Danny juga menyadari bahwa faktor alam juga menciptakan tantangan yang berbeda sehingga mesti menyiapkan strategi tersendiri.
“Saya sudah memiliki strategi yang cocok sejak tee off. Banyak hole di sini yang bisa dimainkan, entah dengan 3-wood, entah dengan driver. Saya sudah latihan di semua hole, bagaimana jika kondisi ketika angin berlawanan arah dan ketika angin justru membantu saya. Jadi saya tahu, kalau angin membantu di hole tertentu, saya akan memainkan 3-wood, tapi kalau angin berlawanan, saya akan memainkan driver. Dengan begini saya tak perlu banyak berpikir ketika mulai bermain pada hari Kamis dan Jumat, dan juga akhir pekan,” jelasnya.
Penjelasan yang sangat menarik, lantaran ia menyebut frasa “akhir pekan”. Jelas ini menunjukkan keyakinannya untuk bisa menembus putaran akhir pekan.
Kondisi cuaca belakangan ini juga membuatnya bersiap untuk menghadapi penundaan akibat cuaca buruk. Dan ia merasa perlu untuk lebih akrab dengan rough yang basah.
“Sebenarnya, persiapan saya sangat minim sekali karena sebenarnya saya masih dalam suasana bulan madu dan baru pulang Rabu malam. … (Tapi) mereka mendorong saya untuk tetap bermain.” – George Gandranata
“Besok pagi (pagi ini, 11/12) saya mengikuti pro-am dan setelah itu saya mau melanjutkan latihan di area short game supaya bisa lebih mengenali rough dan rumput yang basah. Minggu ini kita pasti akan mengalami penundaan akibat hujan. Jadi, itulah persiapan saya untuk minggu ini,” tandasnya.
Lain Danny, lain pula George. Jika Danny menunjukkan persiapan yang matang, George justru akan mengandalkan pengalamannya bermain di Royale Jakarta Golf Club dan menjadi pegolf terbaik Indonesia, sebagaimana yang ia lakukan tahun lalu ketika ia mencatatkan skor 1-under 287. Kala itu, mengingat turnamen ini menjadi bagian dari Panasonic Swing, George pun mendapat tiket untuk mengikuti ajang Panasonic Open Golf Championship di Jepang.
Usai melepas masa lajangnya pada 6 Oktober 2018 lalu, George baru bisa menikmati bulan madunya dalam beberapa pekan terakhir, mengingat sejumlah jadwal turnamennya.
“Sebenarnya, persiapan saya sangat minim sekali karena sebenarnya saya masih dalam suasana bulan madu dan baru pulang Rabu malam. Rencana ini memang sudah saya rancang dari setahun yang lalu dan sayangnya waktu itu saya masih belum tahu jadwal Bank BNI Indonesian Masters presented by Bank BTN, PT Lautan Luas Tbk, dan Bank Mandiri. Dan ternyata, turnamen ini dilangsungkan sehari setelah kembali,” tutur pegolf yang kini berada di tempat ke-2 Order of Merit PGA Tour of Indonesia ini.

“Saya sempat diskusi dengan Pak Jimmy dan teman-teman lain dan mereka mendorong saya untuk tetap bermain, jadi saya akan tetap bermain. Hari Kamis pagi saya akan driving, putting, dan chipping, semoga saja tidak kaku-kaku amat. Jadi, kali ini saya lebih tidak memiliki ekspektasi.”
Meskipun demikian, George jelas masih memiliki peluang untuk menutup tahun ini dengan prestasi maksimal. Performanya sepanjang tahun ini juga tidak bisa dibilang jelek. Sama seperti Danny, George juga meraih dua gelar profesional tahun ini. Setelah menjuarai Indonesian Golf Tour Seri I, ia juga sukses menjadi pegolf profesional pertama yang menjuarai The Gunung Geulis Championship sponsored by Credit Suisse, sebuah ajang match play pertama bagi pegolf profesional Indonesia.
Edisi tahun lalu menjadi tahun terbaik bagi Indonesia. Untuk pertama kalinya sejak turnamen ini mulai dipertandingkan pada 2011, Indonesia menempatkan tujuh wakilnya hingga putaran final. Kala itu George, Rory Hie, Joshua Andrew Wirawan, Kurnia Herisiandy, Naraajie Emerald Ramadhan Putra yang menjadi satu-satunya amatir yang lolos cut, Rinaldi Adiyandono, dan Ramadhan Alwie menikmati turnamen selama empat putaran penuh. Dengan perkembangan golf di Indonesia setahun terakhir, publik jelas patut berharap bahwa prestasi lebih baik bisa terulang lagi pekan ini.
Untuk memastikan masyarakat golf Indonesia bisa mendukung para pegolf tuan rumah, sekaligus menikmati golf kelas dunia yang disuguhkan oleh nama-nama besar, seperti sang juara bertahan dan peraih medali emas Olimpiade Justin Rose, Olimpian dan juara The Open 2016 Henrik Stenson, pegolf India sensasional Shubhankar Sharma yang baru saja menjuarai Habitat for Humanity Standings Asian Tour, juara edisi 2014 Anirban Lahiri, dan nama-nama top lainnya, panitia menggratiskan tiket menonton pada pekan ini. Bank BNI Indonesian Masters presented by Bank BTN, PT Lautan Luas Tbk, and Bank Mandiri jelas bakal menjadi tontonan dan hiburan menarik bagi para pencinta golf Indonesia.


