Delapan hal berikut menjadi sorotan menarik dari gelaran Mandiri Ciputra Golfpreneur Junior World Championship yang berakhir awal Juni yang lalu.

Edisi ke-26, 12 Negara Peserta
Mandiri Ciputra Golfpreneur Junior World Championship tahun ini menjadi penyelenggaraan pertama sejak pandemi melanda dunia. Periode tahun 2020-2022 menjadi satu-satunya periode absen sejak kejuaraan ini mulai digelar tahun 1993.
Gelaran pekan lalu juga menjadi gelaran ke-26 dan hampir diikuti total 13 negara dan 105 peserta. Vietnam hampir menempatkan satu wakilnya, namun pada saat-saat terakhir gagal memberangkatkan pemainnya lantaran terkendala faktor dokumen.
Selain Indonesia, negara lain yang mengirimkan wakilnya ialah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Australia, China, Filipina, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Rekor 18 Hole
Jika Nasa Hataoka mencatatkan skor kemenangan terendah dengan keunggulan terbesar sepanjang kejuaraan ketika memenangkan ajang ini tahun 2016 silam, Parin Sarasmut mencatatkan sejarah dengan menciptakan rekor skor terendah, 10-under 62.
”Rasanya semua hole bisa memberi birdie hari ini,” tutur pegolf berusia 14 tahun ini.
Skor 62 tersebut ia bukukan dengan memadukan empat birdie di sembilan hole pertamanya, yang ia mulai dari hole 10 di Damai Indah Golf PIK Course. Tatkala beralih ke sembilan hole berikutnya, ia mencatatkan birdie di hole 1, 2, 5, 6, 8, dan 9 yang terbukti menjadi modal yang sangat penting untuk memberi gelar internasional pertama baginya.

Dua Hole-in-One
Untuk pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraan, hole-in-one tercipta tidak hanya sekali, tapi dua kali. Pada putaran pertama Kittada Kosalutta menorehkan hole-in-one di hole 12 par 3. Mengayunkan 8-iron miliknya, Kosalutta menyaksikan bagaimana bola mengarah langsung ke pin, memantul sekali di green, lalu masuk ke lubang. Hole-in-one ini menjadi yang pertama kalinya ia ciptakan selama bermain golf.
Pada putaran kedua, giliran pegolf Jepang Yuka Nishina yang memasukkan bolanya dalam satu pukulan di hole 3 dengan menggunakan wedge-nya.

Petaka di Hole 18
Hole 18 di Damai Indah Golf PIK Course kerap menciptakan drama yang menyakitkan. Tahun 2011 silam Rory Hie nyaris menjuarai Indonesia Open kalau saja tidak gara-gara pukulannya keluar area permainan di hole ini. Pada pekan lalu giliran Kosalutta yang merasakan hal serupa.
Setelah memulai putaran final terpaut lima stroke dari rekan senegaranya, Sarasmut, Kosalutta baru bisa menyamai catatan skor sang pimpinan klasemen itu di hole 17. Memasuki hole 18 dalam posisi sama-sama 12-under, pukulan approach dengan 3-wood miliknya justru berakhir di dasar kolam di sisi kanan, yang kemudian membuahkan bogey. Alhasil, Sarasmut menjuarai ajang ini dengan kemenangan satu stroke.
Meskipun bernasib berbeda lantaran masih bisa menjuarai ajang ini, Suvichaya Vinijchaitham meninggalkan Jakarta dengan ganjalan di hole 18 ini. Dalam tiga putaran yang ia mainkan di lapangan garapan Robert Trent Jones Jr. ini ia mencatatkan 5-over hanya di hole itu saja. Skor terbaiknya di sana hanyalah bogey pada hari kedua dengan sisanya mencatatkan double bogey.

Bonus bagi Para Pemenang
Mandiri Ciputra Golfpreneur Junior World Championship kali ini turut menghadiahi sejumlah pemain untuk mengikuti kejuaraan bergengsi, FCG Callaway Junior World Championship di Palm Desert, California, Amerika Serikat. Kittada Kosalutta (Juara Divisi A Putra) dan Parin Sarasmut (Juara Divisi B Putra) asal Thailand, pegolf Filipina Ralph Rian Batican (Juara Divisi C Putra), pegolf Thailand lainnya Suvichaya (Juara Divisi A Putri), wakil Singapura Chen Xing Tong (Juara Divisi B Putri), dan satu-satunya wakil Indonesia Annabele Leimena (Juara Divisi C Putri) memastikan spot masing-masing untuk kejuaraan bergengsi tersebut.
Adapun Sarasmut, yang menjadi juara umum putra mendapat hak untuk mengikuti ajang Asian Development Tour, BNI Ciputra Golfpreneur Tournament, yang tahun ini akan dilangsungkan pada 23-26 Agustus 2023 di Damai Indah Golf BSD Course.

Mereka yang Tampil Menjanjikan
Para pemain ini mungkin tidak meraih gelar bergengsi, namun mereka menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan. Pertama tentunya Elaine Widjaja. Atlet Ciputra Golfpreneur Foundation ini makin berkembang setelah mendapat akses berlatih secara penuh di Damai Indah Golf. Pada awal tahun ini, ia mengungkapkan targetnya tahun ini ialah bisa bermain under secara lebih konsisten. Hal tersebut nyaris terwujud dalam tiga putaran pekan lalu setelah mengemas skor 70-72-71.
Skor 3-under 213 ini sekaligus menempatkannya sebagai pegolf putri Indonesia pertama sejak Rivani Adelia Sihotang, yang sukses menuntaskan kejuaraan dengan skor under. Rivani mencatatkan total 5-under 211 untuk menjadi pegolf Indonesia pertama yang menjadi juara umum putri pada tahun 2014, setahun setelah status juara umum putri mulai dipertandingkan.
Finis di tempat kedua dari pemain yang lebih baik, dua pekan setelah mempersembahkan medali perak untuk Indonesia pada SEA Games, jelas merupakan prestasi yang sangat baik.
Teuku Husein M. Danindra juga mencuri perhatian dengan menjadi pemain Indonesia terbaik di kelompok putra. Tampil dalam debutnya pada kejuaraan ini ia tampil mengesankan, sekaligus meramaikan persaingan.
Pegolf Singapura Chen Xing Tong menjadi nama lain yang layak jadi perhatian. Bermain tanpa ekspektasi apa-apa, ia berhasil memuncaki klasemen pada hari kedua, mengungguli Suvichaya dan Elaine. Keberhasilannya finis di tempat ketiga, satu stroke di belakang Elaine, cukup menegaskan bahwa penggemar Naruto ini menjadi salah satu pemain paling menjanjikan dari Singapura.

Pemain WAGR Bersinar
Memiliki peringkat pada World Amateur Golf Ranking yang tinggi jelas membanggakan. Namun, tidak memiliki peringkat juga tidak berarti seorang pemain tidak bisa menampilkan permainan yang menawan. Lihat misalnya yang dilakukan Yuka Nishina. Meski akhirnya harus berbagi posisi keempat dengan rekan senegaranya, Ryou Manaka, hole-in-one di hole 3 pada putaran kedua praktis membawanya ke jajaran dan sempat memberinya harapan untuk mewujudkan kemenangan.
Namun, memang para pegolf WAGR lebih banyak berbicara sepanjang pekan di PIK Course itu. Dari kelompok putri, 7 dari 10 pemain di jajaran sepuluh besar memiliki peringkat tertinggi. Suvichaya Vinijchaitham, yang mengawali pertandingan dari peringkat 315 tampil melampaui Elaine Widjaja (finis di posisi kedua, berperingkat 361 saat memulai kompetisi), Kyra Van Kan (8, 319). Sementara pegolf Singapura Chen Xing Tong yang berperingkat 878 finis di tempat ketiga dengan catatan 2-under 214.
Sebaliknya, sejumlah pegolf non-WAGR meramaikan sepuluh besar di kelompok putra. Meskipun sang juara di kelompok putra adalah pegolf yang memiliki peringkat pada WAGR—Parin Sarasmut berperingkat 1659 kala memulai kompetisi—praktis hanya ada tiga pegolf yang namanya terdaftar pada peringkat dunia tersebut. Selain Sarasmut, Kittada Kosalutta yang finis di tempat kedua (peringkat 1130) dengan peringkat tertinggi dalam ajang ini Rayhan Abdul Latief berada di jajaran atas.
Pegolf Jepang Yuzuki Shirano malah finis sendirian di tempat ketiga, sementara pegolf Filipina Miko Granada dan pegolf tuan rumah Teuku Husein M. Danindra berada di tempat keempat. Adapun Rayhan berbagi peringkat keenam dengan Devon Valentine asal Afrika Selatan. Sementara Troy Storm (8) beserta Irvyn Tan, Hayato Abe, dan Hiroki Ishiguchi (T9) menjadi nama-nama pemain yang belum memiliki WAGR.

Tim Thailand Bawa Pulang Kejuaraan Beregu
Duet Siradech Chanha dan Sarasmut (425) serta Suvichaya dan Jiranan Lim (431) turut menyumbangkan trofi juara beregu putra dan putri bagi Thailand. Sementara tuan rumah harus puas berada di posisi 5 untuk kategori putra dan putri. Duet Achmad Fani Nazarrudin dan Husein hanya mengumpulkan skor total 446, sedangkan duet Elaine dan Abigail Rhea Soeryo Wiharko mencatatkan skor total 460.

