Jonathan Wijono menjadi kekuatan dominan terbaru di kancah golf profesional skala nasional dalam era Indonesian Tourism Golf Pro Series.
Nama Jonathan Wijono kini tampil sebagai figur dominan menyusul gelar kedua yang ia wujudkan di Jababeka Golf & Country Club pada 5 Mei 2023 lalu. Penampilannya pada ajang kedua dari total 30 turnamen Indonesian Tourism Golf Pro Series pada musim 2023-2024 ini terlihat istimewa. Namun, prestasi itu pada dasarnya merupakan kombinasi dari kualitas fisik dan permainan solid selama 54 hole dengan mantra klasik yang sama sekali bukan rahasia umum.
”Untuk pekan ini sebenarnya sih saya lebih mempercayai prosesnya, jadi lebih berusaha fokus pada rutinitas sebelum melakukan pukulan pre-shot routine, tidak terlalu peduli pada hasilnya, … itu sih yang menurut saya membantu,” tutur Jonathan.
Permainan Jowi menjadi penegasan ungkapan klasik dalam olahraga golf: ”You can’t win a tournament on the first day, but you can certainly lose it.” Anda tidak bisa memenangkan sebuah turnamen dari hari pertama, namun bisa kehilangan gelar karena penampilan hari pertama.
Persaingan antara Naraajie Emerald Ramadhan Putra dan Jowi sejak masa amatir jelas berlanjut di level profesional. Naraajie, yang sejauh ini masih beradaptasi di level Asian Tour, memang masih menampilkan kualitas permainan yang menempatkannya sebagai salah satu pegolf terbaik di Indonesia saat ini. Pada putaran pertama, delapan birdie dengan satu bogey yang ia raih membuatnya tampil sebagai penguasa puncak klasemen. Akan tetapi, Jowi, yang membukukan lima birdie dengan satu bogey untuk skor 4-under 68, menempatkan dirinya di posisi yang ideal untuk memulai perburuan gelar.

Lalu tatkala Naraajie hanya bisa melanjutkan permainannya dengan even par 72, Jowi menyalip pesaingnya itu dengan kembali mencatatkan skor 68, sekali lagi dengan kombinasi lima birdie dan hanya satu bogey untuk unggul satu stroke.
Pegolf tuan rumah Benita Yuniarto Kasiadi (73-65) dan atlet Ciputra Golfpreneur Foundation Peter Gunawan (69-69) yang memperbaiki posisi dan kini berbagi peringkat ketiga dengan skor total 138 menjadi elemen yang menciptakan persaingan menuju putaran final. Namun, Danny Masrin, yang memaksa Jowi melakukan play-off hingga empat hole pada Seri 1 di Gading Raya bulan Maret 2023 juga berpeluang menciptakan kejutan dengan skor total 139.
Bermain dalam grup pamungkas pada putaran final itu, Jowi dan Naraajie sama-sama menorehkan birdie di hole pertama mereka dan berbalas birdie hingga hole 4. Dan ketika Jowi memperbesar keunggulannya lewat birdie kedua yang ia raih dari hole 3, Naraajie mengimbangi dengan birdie di hole 4.
Celah di antara keduanya mulai bertambah ketika Naraajie justru mendapat bogey di hole 5, sementara Jowi kembali mencatatkan birdie di hole yang sama. Lalu bogey kedua dari hole 11 turut memperberat langkah Naraajie untuk mewujudkan kemenangan pertamanya sebagai pegolf profesional di sirkuit dalam negeri. Meskipun menambah birdie dari hole 7, 13, 14, dan 17, upaya Naraajie tak mampu menyaingi Jowi, yang pada hari itu menampilkan salah satu permainan terbaiknya dan menciptakan lima birdie tambahan tanpa satu bogey pun untuk menorehkan skor terendah sepanjang pekan, 8-uder 64.

Benita, yang memulai putaran final dengan terpaut dua stroke dari Jowi, juga menampilkan permainan mengagumkan. Sama seperti juniornya itu, putra pegolf legendaris Kasiadi ini juga bermain tanpa bogey dan mengemas lima birdie dan sebuah eagle untuk mencatatkan skor total 13-under 203, satu stroke lebih baik daripada Naraajie (204).
Kemenangan kedua secara beruntun ini jelas istimewa. Setelah bermain total 7-under 209 dan menempuh empat hole tambahan pada seri pertama, skor total 16-under 200 kali yang merupakan kombinasi dari total 18 birdie dan dua bogey jelas merupakan suatu peningkatan yang luar biasa. Selisih sebulan lebih seakan cukup bagi Jowi untuk kembali berkompetisi dan tampil dalam level yang melampaui rekan-rekan profesionalnya.
”Pasti ada keinginan untuk meneruskan kemenangan dari Gading Raya, cuma rencana permainannya tetap sama, tidak terlalu memikirkan hasilnya, lebih memikirkan rutinitas sebelum memukul. Sejauh ini, dari awal tahun ini, dengan mengubah cara pikir seperti itu banyak membantu saya, benar-benar performa saya lebih oke daripada tahun lalu. Ada beberapa perubahan swing, tapi untuk itu mungkin latihan tiap hari untuk sekadar memastikan bahwa saya melakukan hal yang benar,” jelasnya.
Meskipun mengemas kemenangan yang meyakinkan, Jowi mengaku menyimpan satu kelemahan yang masih harus ia atasi.

”Yang saya pelajari dalam dua minggu ini ialah berusaha sekadar menaruh bola di posisi (fairway) dari tee off karena bisa dibilang itu salah satu kelemahan saya sekarang ini. Chipping dan putting saya oke, pukulan kedua juga lumayan tajam, cuma pukulan tee yang lumayan turun, jadi itu yang perlu saya pertajam lagi,” sambungnya.
Hingga ketika artikel ini diterbitkan, Jowi terlihat masih membawa penampilan meyakinkan dari Jababeka ke Pondok Cabe Golf Club setelah mengakhiri putaran pertama Indonesian Tourism Golf Pro Series 3 dengan berbagi posisi teratas dengan Nasin Surachman. Jika berhasil kembali mengangkat trofi pada pekan ini, pegolf yang baru berusia 21 tahun ini akan menjadi pegolf pertama yang memenangkan tiga gelar secara berturut-turut pada era milenial ini. Pada era Indonesian Golf Tour, belum pernah ada pemain yang menang tiga kali secara beruntun.
Batal mewujudkan kemenangan pada seri kedua jelas mengecewakan. Namun, bagi Naraajie, ia masih bisa berbangga lantaran ia tidak bisa dibilang bermain dengan buruk.
”Bukan berarti permainan saya tidak bagus, Jowi bermain jauh lebih baik dan hal itu sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan,” ujar Naraajie mengakui ketangguhan rivalnya itu.
Perkembangan positif juga menjadi milik Peter Gunawan. Ia menjadi satu dari hanya tiga peserta yang mampu bermain under selama tiga putaran—pemain lainnya ialah Jowi dan Danny Masrin. Eagle yang ia raih di hole 16 sempat memberinya harapan untuk mengejar tiga besar, namun tujuh birdie dengan lima bogey pada 18 hole ketiga itu memberinya skor terbaiknya sepanjang pekan, 5-under 67. Kini ia mengusung misi untuk menerjemahkan penampilan positif ini ke panggung luar negeri.


