George Gandranata mengincar hasil positif sepekan sebelum mengikuti Indonesian Masters 2023.

(RALAT: Pada artikel pertama, kami menginformasikan bahwa George memenangkan gelar profesional terakhirnya pada 2018, seharusnya 2019. Informasi ini telah kami masukkan ke artikel ini. Mohon maaf atas kekeliruan tersebut.)

Sudah empat tahun berlalu sejak terakhir George Gandranata memenangkan trofi. Tahun 2019 silam, ia sempat memenangkan dua gelar, yang sekaligus menjadi dua trofi terakhir yang ia angkat. Akan tetapi, pegolf berusia 37 tahun ini berpeluang untuk mengakhiri penantian tersebut. Setelah Indonesian Tourism Golf Pro Series ke-11 di Riverside Golf Club, ia akan kembali bermain di grup terakhir, kali ini dengan selisih dua stroke dari Almay Rayhan Yagutah, yang memimpin di puncak klasemen sementara dengan skor total 4-under 140.

Uniknya, ia tampil pada Seri ke-17, yang digelar di Lotus Lakes Golf Club, Karawang, Jawa Barat ini tanpa melakukan putaran latihan. Memanfaatkan pengenalannya terhadap lapangan yang sempat memberinya satu kemenangan pada era Indonesian Golf Tour, George mencatatkan dua putaran dengan skor 1-under 71 untuk kembali bersaing di jajaran atas.

Meski dibilang cukup akrab dengan Lotus Lakes Golf Club, kombinasi lapangan yang dimainkan pada pekan ini sebenarnya tidaklah sama dengan lapangan yang ia mainkan sebelumnya.

”Sembilan hole terakhir itu lebih akrab rasanya karena saya sudah main tiga kali, sedangkan yang di sembilan hole pertama itu baru kali ini saya mainkan. Jadi, mungkin terasa lebih akrab dari tee dan sudah tahu bagaimana memainkannya,” jelas George, yang memainkan kombinasi Orchid dan Jasmine dalam kesempatan terdahulu.

”Sebenarnya, hari ini pukulan saya lebih banyak memenuhi green in regulation, dan, ya, lebih tahu saja tempat yang salah di mana, dan lebih nyaman dengan lapangan golfnya, terutama yang di sembilan hole pertama.” — George Gandranata.

Hal ini terlihat juga dari kartu skornya. Dalam dua putaran ini, total ia menorehkan lima birdie dengan dua bogey hanya di sembilan hole terakhirnya.

Meski demikian, pengalaman memainkan sembilan hole pertama pada hari pertama kemarin (7/11) terbukti membantunya mengubah strategi dan pendekatan pada permainannya tadi.

”Contohnya hole 7, kemarin saya memakai driver di sana. Seharusnya saya memukul fade, tapi malah lurus sehingga bolanya malah menembus masuk pepohonan. Tadi saya memakai 3-wood sehingga bolanya sampai ke fairway, hasilnya malah hampir birdie,” jelasnya.

Kompleksitas olahraga golf di level yang tinggi kembali menjadi bagian dari permainannya hari ini. Meski berhasil lebih meminimalisasi bogey, jumlah birdie yang ia raih hari ini juga lebih sedikit; dari menorehkan lima birdie kini ia menorehkan hanya dua birdie.

”Sebenarnya, hari ini pukulan saya lebih banyak memenuhi green in regulation, dan, ya, lebih tahu saja tempat yang salah di mana, dan lebih nyaman dengan lapangan golfnya, terutama yang di sembilan hole pertama,” sambung George, yang hari ini bermain even par di sembilan hole pertamanya, satu stroke lebih baik ketika menorehkan dua bogey dan satu birdie pada putaran pertama.

 

George Gandranata, ITGPS 4.
Finis di tempat kedua, di belakang Jonathan Wijono, pada Seri 4 menjadi prestsi terbaik George Gandranata pada ITGPS musim 2023. Foto: Yongki Hermawan.

 

Sayangnya, putting-nya kali ini hanya bisa memberinya dua birdie.

”Hari ini permainan saya di hole-hole par 5 kurang bersih, hanya bisa main 1-under di par 5, sementara kemarin bisa 3-under. Kita lihat besok, semoga besok (hasilnya) bagus, putting-nya bisa masuk. Jadi, kalau besok bisa memanfaatkan hole-hole par 5, menurut saya sih bisa ada peluang untuk menang,” ujarnya lagi.

George turut memuji PGA Tour of Indonesia (PGATI) yang menyiapkan posisi pin lebih menyerupai turnamen-turnamen di level Asian Development Tour (ADT) dan Asian Tour. Baginya, kebijakan ini akan menjadi sangat penting bagi para pegolf Indonesia untuk bisa lebih terbiasa dengan posisi pin di kedua level turnamen yang lebih tinggi itu.

”Turnamen lokal ini, belakangan, penempatan pin-nya sudah bagus. Artinya, ditempatkan di posisi yang susah, tapi masih adil. Mungkin PGATI sudah melihat dari ADT dan Asian Tour kalau posisi pin itu harus susah supaya kita bisa membiasakan diri bermain dalam turnamen-turnamen yang lebih besar,” tuturnya. ”Jadi, apakah saya akan bermain dengan lebih agresif? Tidak karena memang ada beberapa posisi pin yang memang jangan diserang karena risikonya besar. Jadi, kita memanajemen risiko saja.”

Tahun ini George sebenarnya sempat memainkan putaran final sebagai salah satu pemimpin klasemen. Pada ITGPS 4 yang berlangsung di Damai Indah Golf BSD Course, ia menjadi pemuncak klasemen bersama Jonathan Wijono, Elki Kow, dan Ditya Novianto dan akhirnya menuntaskan seri tersebut di peringkat kedua di belakang Jonathan.Ia juga sempat beberapa kali memulai putaran final di grup terakhir.

”(Saya) pilih menang besok dan main bagus minggu depan (pada ajang Indonesian Masters). Kalau bisa dua-duanya kenapa harus memilih?”

Meskipun punya kesempatan untuk mewujudkan kemenangan perdana pada era ITGPS, George menolak untuk berharap pemain lain, terutama Almay, melakukan kesalahan dalam putaran final besok.

”Pikiran yang mengharapkan pemain lain melakukan kesalahan itu sedikit keliru. Itu berarti kontrol tidak ada di tangan kita,” tegasnya. ”Kita berharap semua main bagus; lawan bermain bagus, tapi saya main lebih bagus lagi. Jadi, mungkin ada junior atau amatir yang berpikir seperti itu, pemikiran seperti itu bukanlah pemikiran yang akan membuat kita berkembang!”

Dengan ITGPS 17 ini menjadi turnamen terakhir menjelang Indonesian Masters, di mana George baru dua kali lolos cut dalam sembilan partisipasinya pada hajatan golf terbesar itu, hasil yang solid pada pekan ini bisa menjadi modal yang penting untuk memperbaiki catatan penampilannya di Royale Jakarta Golf Club pekan depan.

”(Saya) pilih menang besok dan main bagus minggu depan. Kalau bisa dua-duanya kenapa harus memilih?” tandasnya.