Randy Bintang dan Rayhan Latief akan kembali memimpin kubu Indonesia beranggotakan enam pegolf dalam mengejar kemenangan bersejarah pada edisi ke-17 Asia-Pacific Amateur Championship.
Oleh Chuah Choo Chiang
Tuntutan pada ajang Asia-Pacific Amateur Championship sungguh sederhana, tapi tak kenal ampun—tampilkan permainan empat putaran dan 72 hole yang mendekati sempurna dan hadiahnya bisa menjadi kenangan sepanjang masa.
Bagi mereka yang berani bermimpi dan mewujudkan janji tersebut, kenikmatan dari menjuarai Kejuaraan amatir paling prestisius di wilah Asia Pasifik ini akan menjadi peluang yang didambakan untuk bersaing pada ajang Masters Tournament dan The Open.
Dan dengan kerja keras, dedikasi, serta keberuntungan, kejayaan pada ajang Major pun menanti.
Fifa Laopakdee asal Thailand mewujudkan ambisi masa kecilnya pada tahun 2025 menyusul kemenangan memukai di Dubai, hampir 12 bulan lalu sembari ia menuliskan sejarah golf baru dengan menjadi pegolf amatir pertama dari negaranya yang menjuarai ajang Asia-Pacific Amateur ini.
Ia kemudian bersaing dengan para pegolf terbaik dunia dalam dua ajang Major tahun ini dan pemuda berusia 21 tahun itu kini bersemangat untuk menjadi pegolf kedua setelah Hideki Matsuyama (2010, 2011) yang sukses mempertahankan gelarnya di Te Arai Links, di Selandia Baru dari 29 Oktober-1 November mendatang agar bisa kembali menjejakkan langkahnya di Magnolia Lane dan merencanakan kunjungan ke St. Andrews tahun 2027.

”Benar-benar pengalaman yang menakjubkan,” ujar Fifa menyinggung debutnya pada The Masters.
”Jelas merupakan pengalaman sekali seumur hidup. Kesempatan yang sungguh luar biasa yang diberikan oleh AAC buat saya dan setiap pemain Asia Pasifik. Mereka memberikan kesempatan besar yang sungguh saya syukuri. Saya tak sabar untuk menuju Selandia Baru dan berusaha mempertahankan gelar saya, dan mengulangi pengalaman tersebut tahun depan. Pasti akan keren sekali,” imbuh pegolf Thai, yang kini menjadi mahasiswa senior pada Arizona State University.
Mereka menyebut golf itu ibarat maraton, dan bukan lari cepat, yang terbukti demikian bagi pegolf Jepang, Taisei Nagasaki, yang kurang beruntung. Ia memimpin enam stroke setelah tiga putaran di Dubai, namun tumbang di garis akhir lantaran berhasil dikejar oleh Fifa.
Pegolf Thai itu melejit dengan 5-under 32 di sembilan hole terakhirnya untuk skor putaran final 68, mengatasi ketertinggalan enam stroke, dan menciptakan tiga birdie berturut-turut dalam babak play-off untuk mengalahkan Nagasaki.
”Saya kira semua penggemar Thailand telah menanti sangat lama sampai pegolf amatir Thai atau profesional Thai bisa bersaing pada The Masters dan The Open. Luar biasa bagi saya, kedua orangtua saya, para penggemar Thai, dan seluruh negeri,” ujarnya.
Jelas mengecewakan bagi Nagasaki, yang kini berusia 17 tahun, yang sempat menghadapi putt birdie dari jarak 1,5 meter di hole terakhir putaran regulernya, yang memberinya kesempatan menang bulan Oktober lampau. Ia melewatkan kesempatan itu, lalu kalah di hole-hole tambahan sebelum akhirnya meneteskan air mata lantaran impiannya untuk mengikuti The Masters dan The Open sirna.

”Saya sangat kecewa pada diri sendiri. Benar-benar sulit menciptakan skor bagus. Rasanya mengecewakan,” ujar Nagasaki, yang finis dengan skor 74, sambil berurai air mata.
Asia-Pacific Amateur Championship kembali diadakan di Selandia Baru untuk kedua kalinya, kali ini dalam edisi ke-17, dengan lapangan Te Arai Links yang memukai tak jauh dari Auckland. Lapangan ini akan menyambut 120 pegolf amatir terbaik dari 41 organisasi anggota Asia-Pacific Golf Confederation (APGC).
Sejak pertama kali digelar tahun 2009, sejumlah peserta terkemukanya mencakup Matsuyama, Cameron Smith dari Australia, dan Ryan Fox asal Selandia Baru telah memenangkan gelar Major. Hal ini membuktikan bahwa Kejuaraan yang diluncurkan oleh APGC, The R&A, dan Masters Tournament benar-benar sukses melambungkan banyak bintang masa depan golf.
Matsuyama menjadi pegolf Asia pertama yang menjuarai The Masters tahun 2021 lalu, sementara Smith menjuarai The Open tahun 2022, dan Fox juga memenangkan The Open bulan Juli lalu.
”Saya berutang banyak terima kasih kepada Augusta National dan akan selamanya bersyukur untuk kesempatan bermain pada The Masters dan membantu mewujudkan mimpi saya bermain golf secara profesional. Menjuarai Asia-Pacific Amateur 2010 sungguh mengubah hidup saya,” ujar Matsuyama, kini menjadi pegolf Asia dengan gelar PGA Tour terbanyak lewat 11 kemenangan.

Fox juga mengapresiasi Asia-Pacific Amateur dalam membentuk karier amatirnya.
”Ini kesempatan untuk mewujudkan mimpi sebagai pegolf amatir dan kesempatan ini cukup keren, jelas sangat penting dalam pengembangan saya sebagai pemain, dan saya tahu banyak pemain di wilayah kami yang merasakan hal serupa selama bertahun-tahun…ada banyak pemenang luar biasa dan banyak pula dampaknya di sekitar wilayah Asia-Pacific,” ujar bintang Selandia Baru, yang juga menjadikan Te Arai Links sebagai lapangan latihannya.
Usai menikmati dua putaran di Augusta National bersama mantan juara Masters Fred Couples dan bintang Australia Min Woo Lee, Fifa sangat menghargai kesempatan untuk belajar dari para pegolf terbaik sembari melanjutkan perjalanan golfnya.
”Kalau ada waktu sejam, saya bisa menulis 100 hal yang saya pelajari pekan ini,” ujar Fifa setelah gagal lolos cut pada The Masters. ”(AAC) menjadi jalur yang luar biasa dan turnamen yang hebat bagi semua kami, untuk menunjukkan kepada dunia kalau ada pemain-pemain hebat di Asia Pasifik.”
Pegolf top amatir Indonesia Randy Bintang dan Rayhan Latief juga berniat untuk menjadi penantang dalam memenangkan gelar pertama bagi Indonesia pada Kejuaraan prestisius ini.
Kenneth Sutianto, William Wijaya, Jayawardana Dornan, dan Asa Najib Bhakti melengkapi lini Indonesia pada Kejuaraan yang diluncurkan tahun 2009 oleh APGC, The R&A, dan Masters Tournament untuk lebih mengembangkan golf amatir di wilayah ini.

Prestasi terbaik Indonesia dalam sejarah Kejuaraan ini diciptakan oleh George Gandranata, yang finis T17 di Singapura tahun 2011. Rayhan, mahasiswa tingkat dua pada University of North Texas, menyamai prestasi tersebut di Dubai tahun lalu dalam penampilan keempatnya pada Asia-Pacific Amateur.
”Turnamen ini sangatlah penting bagi saya,” ujar Rayhan yang berusia 19 tahun. ”Ini turnamen tahunan yang selalu saya prioritaskan tiap tahunnya karena kesempatan yang sangat Istimewa. Kalau menang, Anda berpeluang bermain dalam dua kejuaraan Major, jadi ini menjadi salah satu alasan mengapa ajang ini sangat berarti.”
Rayhan yakin kemenangan oleh pegolf Indonesia bisa berdampak luar biasa bagi golf di dalam negeri.
”Tentu akan sangat berarti bagi golf di Indonesia. Saya pikir (kemenangan itu) bisa membantu memperbesar industri golf di Indonesia dan mendorong lebih banyak orang untuk bermain golf,” ujarnya.
”Saya juga berpikir, (kemenangan) bisa menciptakan anutan baru Indonesia atau bintang baru Indonesia yang akan menginspirasi generasi berikutnya untuk bermain golf. Jadi, entah saya atau pemain Indonesia lainnya, menurut saya memenangkan AAC akan menjadi momen yang besar bagi golf di Indonesia dan bakal berdampak sangat positif untuk masa depan di Indonesia.”

Randy, kini berusia 22 tahun, mencatatkan finis terbaik dalam kariernya pada posisi T19 yang ia raih di Jepang tahun 2024, ketika ia tampil sebagai pimpinan klasemen putaran pertama. Tahun ini akan menjadi penampilan kelimanya secara berturut-turut dalam Kejuaraan amatir terkemuka ini.
”Saya sangat bersemangat untuk Selandia Baru, terutama di Te Arai Links, di mana akan menantang bermain di lapangan links,” ujar Randy. ”Saya akan berusaha upaya terbaik dan target saya ialah memenangkan turnamen ini. Hanya soal waktu saja karena para pegolf muda dan berbakat di Indonesia berkembang sangat pesat dan saya harap kalaupun bukan saya, pemain lain bisa memenangkannya dan membuat Indonesia berbangga.”
Pegolf berusia 18 tahun, Kenneth, telah tampil tiga kali sebelumnya, dengan finis T53 menjadi pencapaian terbaik yang ia raih tahun lalu. Ia berharap bisa terus berkembang dengan menunjukkan permainan meyakinkan. ”Ini ajang yang berada di daftar teratas saya tiap tahun. Semua pemain terbaik Asia Pasifik akan mengikuti turnamen ini dan target saya tahun ini ialah menembus 20 besar,” tutur Kenneth, yang sejauh ini telah mengoleksi sembilan kemenangan pada ajang World Amateur Golf Ranking (WAGR), termasuk lima gelar junior tahun ini.
”Semoga saya bisa mendapatkan permainan terbaik saya di Te Arai Links. Tidak ada yang mustahil bagi mereka yang mau bekerja keras dan cerdas. Kalau pemain Indonesia bisa menjuarai AAC, pasti menjadi berita yang sangat baik bagi industri golf di Indonesia.”
Tentang Penulis
Chuah Choo Chiang sempat mengepalai divisi komunikasi untuk PGA Tour Asia-Pacific dan Asian Tour selama lebih dari 25 tahun dan kini mengelola konsultasi PR miliknya sendiri.

