Bagaimana APGC Mid-Amateur Championship menjadi jawaban bagi para pegolf amatir untuk terus mengejar prestasi, sekaligus menegaskan bahwa karier di level amatir tidak sesingkat yang dibayangkan kebanyakan orang.
Bayangkan melakukan perjalanan ke berbagai daerah dan negara setiap pekannya sambil memainkan olahraga yang Anda sukai. Pada akhir pekan–entah itu Sabtu, entah itu Minggu–Anda menerima cek setelah menuntaskan sebuah turnamen. Lalu berkemas dan siap menempuh perjalanan berikutnya untuk mengikuti turnamen selanjutnya.
Mungkin demikianlah impian begitu banyak pegolf junior dan amatir elit. Mereka membangun karier sejak dini, menembus level elit, lalu beralih profesional dan berusaha membangun warisan dengan berkiprah pada Tour profesional–Asian Tour, Japan Golf Tour Organization, DP World Tour, PGA Tour, JLPGA Tour, Ladies European Tour, LPGA Tour.
Faktanya, peluang untuk bisa berkarier secara konsisten pada sebuah Tour profesional sangatlah kecil. Brendon Elliott, yang menulis untuk GolfWRX, menyebutkan peluang untuk menembus Korn Ferry Tour, yang merupakan batu loncatan menuju PGA Tour hanyalah sebesar 0,02% atau 1:5.000. Sementara untuk menembus Epson Tour, batu loncatan menuju LPGA Tour, berada di angka 0,025% atau 1:4.000. Adapun peluang untuk mencapai DP World Tour ada di angka 0,013% atau 1:7.500. Sementara PGA Tour berada di angka 0,01% atau 1:10.000.

Untuk konteks di Asia, angkanya bisa lebih brutal lagi, mengingat intensitas kompetisi regional dan realitas finansial yang tinggi ikut menjadi faktor penentu. Dalam kerangka Asian Tour, di mana tiap tahun lebih dari 500 pegolf berjuang untuk memperebutkan 35 peringkat teratas untuk mendapatkan keanggotaan, rasio keberhasilannya ada di kisaran 5-7% dari kelompok elit, dengan peluang bagi rata-rata pegolf amatir level elit bisa menembus Tour ini bisa berada di kisaran 0,1%.
Jonathan Xavier Hartono, pegolf amatir terbaik dalam dua edisi terakhir Ciputra Golfpreneur Tournament bahkan mengungkapkan dirinya tidak punya peluang untuk berkarier sebagai pegolf profesional. Ia menorehkan skor 11-under 277 untuk finis di posisi T14 pada edisi 2024 dan 5-under 283 untuk finis di posisi ke-50 pada 2025.
Kompetisi Mid-Amatir Memberi Jawaban
Kehadiran APGC Mid-Amateur Golf Championship dalam dua tahun terakhir jelas menjadi solusi yang tepat bagi kelompok pegolf yang di atas kertas masih memiliki level kompetitif yang tinggi, tapi kemudian memilih jalur profesi berbeda dan menjadikan golf hanya sebagai hobi.
”Bagi beberapa negara, kompetisi mid-amatir masih dipandang bukan sebagai kompetisi besar. Namun, untuk negara-negara seperti Amerika Serikat, kompetisi ini merupakan ajang yang sangat besar,” ujar anggota dewan direksi Asia-Pacific Golf Confederation, Yoshihiro Nishi.
Kategori mid-amatir sengaja dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan kompetisi bagi para pegolf berusia 25 tahun ke atas, yang dengan alasan tertentu, memilih tetap mempertahankan status amatirnya.

”Kelompok usia ini termasuk kelompok usia produktif yang memiliki karier masing-masing dengan golf sebagai hobi. Kami ingin memberi kesempatan kepada para pegolf yang ingin berkompetisi, meskipun mereka sudah memiliki komitmen lain, seperti keluarga dan pekerjaan, untuk bertanding di lingkungan yang lebih kompetitif,” sambung Nishi lagi.
Indonesia sendiri cukup beruntung lantaran kategori mid-amatir sudah mulai dipopulerkan oleh Amateur Golfers of Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Bahkan kompetisi regular yang mereka adakan menjadi salah satu referensi penting bagi APGC untuk akhirnya bisa menggelar ajang ini.
Jika tahun lalu ajang ini diikuti oleh 76 peserta dari 11 negara (Australia, Brunei Darussalam, Hong Kong, Indonesia, India, Jepang, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Selandia Baru, dan Singapura), edisi kedua kali ini hanya diikuti oleh 54 peserta dari 8 negara–Amerika Serikat, Brunei Darussalam, Hong Kong, Indonesia, India, Jepang, Myanmar, dan Singapura. Dari segi angka, jumlah ini jelas belum menunjukkan angka ideal. Meski begitu, Nishi menegaskan bahwa fokus APGC saat ini adalah memopulerkan kompetisi mid-amatir ini untuk mencapai level popularitas yang diharapkan.
”Terkesan seperti telur dan ayam memang, tapi kita harus memulai sesuatu dan membuat orang makin tertarik. Keberhasilan Yutaka Toyoshima, yang merupakan salah satu pegolf amatir papan atas di Jepang, dalam menjuarai edisi perdana tahun lalu ikut membuat sejumlah pegolf Jepag lainnya tertarik untuk mengikuti ajang ini,” tuturnya lagi.
”Saya kira kita belum mendapat pengakuan yang cukup untuk kategori mid-amatir. Jadi, kami ingin mengembangkannya selangkah demi selangkah. Kami berharap asosiasi golf negara anggota APGC bisa terus mempromosikan ajang ini kepada komunitas masing-masing.”

Salah satu tantangan ialah mayoritas pegolf yang berusia dari 25 tahun umumnya baru memulai karier profesional mereka dan berjuang menaiki jenjang karier masing-masing. Barulah ketika mereka berusia 40-an, sebagian mereka bisa kembali melirik kompetisi prestasi.
Potensi Mid-Amatir Memperpanjang Usia Kompetitif Jalur Amatir
Syren Johnstone menyebut langkah APGC menggelar APGC Mid-Amateur Championship sebagai langkah yang sangat krusial bagi pengembangan golf di wilayah Asia Pasifik. Mantan anggota Tim Nasional Hong Kong ini sempat absen dari bermain golf selama 15 tahun lantaran berbagai kesibukan dan tanggung jawab, dan baru mulai kembali bermain golf dalam lima tahun terakhir.
”Saya kira kategori mid-amatir menjadi sangat krusial. Kalau melihat pemain yang berusia 16-25 tahun, mereka adalah pemain yang luar biasa. Lalu saat mulai berumur 25 tahun, banyak yang mulai mundur dari jalur ini, tapi mereka masih punya level kompetitif yang sangat bagus sebagai pemain amatir,” ujar Johnstone, yang tahun lalu mengikuti tiga ajang APGC–Asia-Pacific Amateur Team Championship Nomura Cup, APGC Mid-Amateur Championship, dan APGC Senior Amateur Championship.
”Dari pengalaman tahun lalu, saya melihat adanya kualitas pemain yang tidak ditemukan di kategori senior. Di level mid-amatir ini Anda bisa melihat beberapa pemain yang bagus, bahkan ada mantan pegolf Tour juga.
Ia memandang APGC Mid-Amateur Championship menjadi jalur prestasi lanjutan bagi para pegolf amatir di kawasan Asia Pasifik yang memungkinkan mereka yang tidak berkarier sebagai pegolf profesional untuk terus menekuni olahraga ini secara serius. Ajang ini praktis menjamin jenjang kompetisi prestasi bagi para pegolf amatir untuk usia yang lebih panjang lagi.

”Saya selalu melihat kategori mid-amatir ini menjadi semacam jalur prestasi karena rasanya pastilah berat ketika Anda tak lagi bisa mengikuti kompetisi tertentu karena sudah berusia 25 tahun. Dan kategori ini juga menjadi feeder system menuju kategori senior. Dalam hal ini APGC menjalankan tugas yang luar biasa!” tegas Johnstone.
Nishi menambahkan ajang besar, seperti U.S. Mid-Amateur Open membuka peluang kompetisi ke level tertinggi, sekaligus terhormat.
”Jadi, kami melihat betapa besar potensi dari kategori ini dan kami ingin membangun komunikasi dengan badan internasional lain, seperti USGA agar mempertimbangkan membuka satu spot bagi juara APGC Mid-Amateur Championship, mengingat bahkan sampai saat ini R&A saja belum memiliki kompetisi mid-amatir,” lanjut Nishi.
Mungkin salah satu tantangan di kategori ini ialah bahwa mendapatkan sponsor untuk mengikuti kompetisi amatir bukanlah hal yang mudah. Nishi menyebut, meskipun kompetisi mid-amatir berpeluang menjadi kompetisi besar di Asia Pasifik, tidak semua asosiasi bisa mensponsori wakilnya untuk bertanding. ”Berbeda dengan junior dan kompetisi amatir lainnya, para peserta mid-amatir ini berangkat dengan biaya sendiri,” ujar Nishi.
Bagaimanapun juga, kompetisi mid-amatir menjadi panggung yang paling dekat dengan mayoritas pegolf amatir. Para pegolf akhir pekan bahkan bisa lebih merasa relevan mengingat banyak yang tidak memiliki kekuatan dan kecepatan, layaknya para pegolf profesional yang berkarier pada berbagai Tour profesional. Bukan tidak mungkin satu-satunya aspek yang belum dimiliki mayoritas pegolf akhir pekan adalah dari segi level kompetitifnya, sesuatu yang justru bisa dimiliki seiring meningkatnya jam terbang saat mengikuti kompetisi prestasi.


