Pekan ini menjadi pekan penting terakhir bagi Indonesia pada tahun 2018 ini. Sekitar 3.990 kilometer dari Jakarta, 13 wakil Indonesia akan turun bertanding dalam ajang South East Asia Amateur Golf Team Championship di Naypyitaw, Myanmar, besok (20/12). Inilah ajang terakhir dari kalender kompetisi yang diikuti oleh sejumlah wakil terbaik Indonesia.
Ada empat ajang yang akan dipertandingkan dalam gelaran SEA Amateur Golf Team Championship ini. Ajang pertama ialah Putra Cup, yang kini memasuki penyelenggaraan ke-58. Putra Cup merupakan ajang yang ditujukan bagi para pegolf amatir yang lebih senior. Selain itu, juga digelar ajang Lion City Cup yang diprakarsai oleh Singapura pada 2004 dengan tujuan memberikan ajang golf junior beregu, yang kala itu masih sangat langka.
Jika Putra Cup dan Lion City Cup ditujukan bagi para pegolf putra, ajang Santi Cup dan Kartini Cup ditujukan bagi para pegolf putri. Santi Cup, digelar untuk pertama kalinya pada 2006 sebagai prakarsa dari Thailand. Sementara Indonesia menyumbangkan Kartini Cup bagi para pegolf putri yang lebih junior, yang mulai dipertandingkan pada 2013.
Pada pekan ini, Tim Putra Cup Indonesia diwakili oleh Almay Rayhan Yagutah, M. Rifqi Alam Ramadhan, Seandy Alfarabi, dan Alfred Raja Sitohang. Sementara untuk Tim Lion City Cup, Kentaro Nanayama, Gabriel Hansel Hari, dan Dominikus Glenn Yuwono terpilih untuk turun bertanding.

Adapun dari ajang putri, Ribka Vania, Marcella Pranovia, dan Nanda Winnet Soraya diplot untuk turun pada ajang Santi Cup. Sedangkan Viera Permata Rosada, Aurelia Grace Nicole, dan Meva Helina Schmit akan turun pada ajang Kartini Cup.
Bagi Tim Indonesia, tantangan terbesar dalam mengikuti ajang penting ini ialah tak satu pun dari tim yang pernah bermain di lapangan yang menjadi lokasi penyelenggaraan ajang ini. Tuan rumah Myanmar menetapkan City Golf Course di Nay Pyi Taw untuk kegiatan pekan ini, pilihan yang sebenarnya sangat disayangkan, mengingat Myanmar juga memiliki lapangan berkelas internasional, seperti Pun Hlaing Golf Club, yang menjadi tuan rumah Leopalace21 Myanmar Open selama tiga tahun terakhir.
Beruntung kekhawatiran soal lapangan akhirnya pupus setelah Tim Indonesia akhirnya menjajal lapangan kemarin (18/12).
“Kondisi lapangan sangat baik, malah jauh lebih baik ketimbang yang kami bayangkan sebelumnya. Hanya saja green masih agak lambat,” ujar Gian Perkasa, yang turut mendampingi para atlet Indonesia selaku Manajer Tim.

Gian menambahkan, komposisi yang dihadirkan dalam tim kali ini merupakan komposisi terbaik yang sangat penting bagi perkembangan tiap atlet yang terpilih. Sebelum berangkat, ke-13 atlet ini juga telah berkumpul dan berlatih intensif di bawah pengawasan David Milne dan Lawrie Montague. Salah satu pelatih Indonesia Alga Topan juga ikut menjadi bagian dari tim.
Dari segi prestasi, Thailand diperkirakan masih menjadi lawan terkuat. Meskipun sebagian dari atlet amatir turun pada Asian Games telah beralih profesional, Tim Negeri Gajah Putih ini dikenal memiliki tim pelapis yang juga tangguh. Adapun Tim Filipina juga masih memiliki kekuatan di sektor putri, terutama dengan kehadiran Bianca Isabela Pagdanganan yang turut memberi kontribusi bagi keberhasilan negaranya memenangkan medali emas beregu Asian Games.
“Saya pikir, yang penting mereka bisa memberikan performa yang sebaik-baiknya pada ajang ini,” ujar Gian.
Meskipun dua pegolf terbaik Indonesia, Naraajie Emerald Ramadhan Putra, Kevin Caesaro Akbar, dan Jonathan Wijono tidak tampil pekan ini, kehadiran pemain lain, seperti Seandy Alfaraby dan Alfred Raja Sitohang untuk Putra Cup; Kentaro, Hansel, dan Glenn untuk Lion City Cup dianggap sangat penting, terutama mengingat betapa dominannya Naraajie, Kevin, dan Jonathan. Absennya tiga pemain teratas itu menjadikan Almay sebagai pegolf berperingkat tertinggi pada World Golf Amateur Ranking, yaitu 437.

Kesempatan ini jelas patut dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak hanya untuk pribadi mereka masing-masing, tapi juga hal ini penting untuk meningkatkan kedalaman kekuatan Indonesia.
Pada sektor putri, kehadiran Nanda juga diharapkan dapat membantu tim, mengingat ia menjadi pemain paling senior dalam tim yang diturunkan kali ini.
“Sejauh ini kami memang sudah berkumpul dan berlatih bersama dengan mengikuti program dari David dan Lawrie. Buat saya pribadi, saya menargetkan untuk bisa tampil dan bermain dengan bagus, bisa menyelesaikan turnamen dengan maksimal,” ujar Nanda.
Nada yang lebih positif disampaikan oleh Ribka Vania, yang bersama Nanda akan turun dalam ajang Santi Cup. “Target pribadi saya ialah meraih emas untuk nomor individu dan beregu,” tegas pegolf yang menjadi wakil Indonesia pertama pada cabang olahraga golf ajang Youth Olympics di Argentina beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Almay Rayhan Yagutah dan M. Rifqi Alam Ramadhan mendapat suntikan berharga usai bermain pada Indonesian Masters pekan lalu. Keduanya memang hanya bermain dalam dua putaran, namun bertanding dalam turnamen berskala Asian Tour jelas sangat penting dalam persiapan untuk turun besok.
“Saya pikir saya harus lebih fokus. Mungkin kesannya sepele, tapi dari yang saya pelajari pada pekan lalu, saya tidak boleh mengurangi fokus karena berkurang sedikit saja, dampaknya akan sangat berasa,” ujar Alam, yang sempat meraih finis di tempat kedua pada Lion City Cup 2014.
Harapan prestasi jelas sesuatu yang wajar. Terutama mengingat Indonesia sudah sangat lama tidak menikmati prestasi maksimal. Pada ajang Putra Cup, Indonesia terakhir meraih gelar juara pada tahun 1994, setelah sebelumnya sempat menjuarai nomor beregu pada tahun 1977, 1978, dan 1992. Pada tahun 1992 dan 1994 itu, Indonesia dipimpin oleh pegolf amatir terbaiknya pada era tersebut, almarhum Sukamdi.
Nama Sukamdi sendiri melambung, di antaranya, berkat keberhasilannya memenangkan nomor individu Putra Cup sebanyak empat kali, yaitu pada 1988, 1992, 1994, dan 1995. Ia menjadi salah satu pegolf tersukses dalam sejarah Putra Cup. Pencapaiannya itu diimbangi oleh Prom Meesawat dengan mencatatkan empat kemenangan berturut-turut dari 1999-2003. Rekor kemenangan terbanyak masih dipegang oleh Luis Siverio dari Filipina, yang memenangkan tujuh gelar individu Putra Cup. Prestasi terbaik terakhir Indonesia pada ajang ini ialah ketika berhasil meraih tempat kedua beregu pada tahun 2012.

Sementara pada ajang Lion City Cup, Indonesia pernah meraih peringkat kedua pada tahun 2013. Kala itu Joshua Andrew Wirawan, Jordan Surya Irawan, dan Kevin Caesario Akbar berhasil menorehkan prestasi tersebut.
Indonesia memang belum pernah menjuarai Santi Cup ataupun Kartini Cup. Prestasi terbaik Indonesia pada ajang Santi Cup ialah finis di tempat keempat pada edisi 2012. Kala itu, Tim Indonesia beranggotakan Ika Woro Palupi, Nanda Winnet Soraya, Made Dita Widyantari, dan Gianti Mahardika. Sedangkan pada gelaran kedua Kartini Cup, yaitu pada 2014, Indonesia meraih peringkat kedua beregu dan individu, melalui Rivani Adelia Sihotang.
Terlepas dari harapan publik untuk prestasi di Myanmar, Lawri Montague menegaskan bahwa ajang pekan ini menjadi kesempatan yang sangat penting, khususnya bagi mereka yang baru pertama kali diturunkan dalam turnamen bergengsi ini.
“Kesempatan ini sangat baik untuk meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri atlet-atlet Indonesia. Beberapa pemin memang baru bergabung, tapi performa mereka juga cukup mengesankan dan kesempatan ini akan menjadi pengalaman bagus untuk mereka,” ujarnya.


