Musim 2022-2023 di kancah PGA TOUR menampilkan ”Kuartet Super yang Istimewa”, yang menjadi kekuatan dominan.
Oleh Jim McCabe.
Jika Anda diminta untuk memberi nama PGA TOUR edisi 2022-2023, kami sarankan untuk menamainya ”Kuartet Super yang Istimewa”.
Mungkin terkesan berlebihan dan melodramatis. Namun, rasanya tidak demikian jika mempelajari pencapaian yang diraih oleh ”Kuartet Super” ini–Scottie Scheffler, Rory McIlroy, Jon Rahm, dan Viktor Hovland. Kami menulis dengan urutan demikian karena begitulah posisi mereka pada puncak Official World Golf Ranking, masing-masing No.1-4 (pada 3 November 2023 saat artikel ini ditulis, dan bertahan bahkan hingga 27 Desember 2023).
Mari memulainya dengan fakta bahwa mereka merupakan empat pemain teratas dalam daftar peraih hadiah uang PGA TOUR (urutannya ialah Scheffler memenangkan US$21 juta; Rahm US$16,5 juta; Hovland US$14,1 juta; dan McIlroy US$13,9 juta). Lalu tambahkan lagi total 11 kemenangan yang mereka raih, termasuk The Masters untuk Rahm, THE PLAYERS Championship untuk Scheffler, dan TOUR Championship sebagai hadiah utama PGA TOUR, FedExCup, untuk Hovland.
Oh, bukankah kami juga menyebut bahwa awal musim jelas menjadi miliki Rahm (ia memenangkan empat gelar dalam 10 turnamen pertamanya, diakhiri dengan Jaket Hijau di Augusta National). Lalu Hovland memenangkan dua turnamen FedExCup Playoff, BMW Championship dan TOUR Championship.
Bagaimana jika hal berikut ini menjadi contoh. Setelah memulai tiga turnamen dari Seri FedExCup dengan skor 72, inilah 11 skor berikutnya: 64-65-69-69-68-65-61-68-64-66-63. Jika ditotalkan, ia bermain 46-under dalam 11 putaran tersebut dan setelah T13 pada FedEx St. Jude Classic, Hovland memenangkan dua turnamen Playoff berikutnya, yaitu BMW Championship dan TOUR Championship.

Hadiah bagi Hovland ialah FedExCup, perburuan individu yang didambakan setiap pemain. Namun, bukan berarti koleganya dalam ”Kuartet Super” itu pulang dengan tangan hampa ketika musim 2022-2023 berakhir.
Apalagi karena total hadiah uang mereka mencapai US$64 juta. Tambahan lagi ketika total sepuluh besarnya mencapai 49. Dan beginilah catatan mengesankan lainnya.
Scheffler, misalnya, mengoleksi total 17 kali finis di sepuluh besar dalam 23 turnamen. Ia menang dua kali, dua kali finis di tempat kedua, dan lima kali berada di tempat ketiga.
Bagi McIlroy, bagaimana jika prestasi seperti ini membuatnya meninggalkan musim 2022-2023 dengan penuh gaya: sepuluh besar dalam tujuh turnamen terakhirnya?
Rahm tak cuma memenangkan Masters pertamanya, tapi ia juga finis di sepuluh besar dalam dua ajang Major lainnya, U.S. Open dan Open Championship.

Sementara untuk Hovland, kemenangan-kemenangannya (Memorial, BMW, TOUR Championship) dalam turnamen-turnamen besar terkesan mengherankan untuk peringkat dunianya (ia berada di luar 10 besar pada sebagian besar musim lalu). Dan jika ingin menikmati sesuatu yang lebih manis lagi, cobalah ini: Hovland bermain under dalam 72 hole pada 21 dari 22 ajang stroke play. Sisanya ia bermain even par.
Sungguh sebuah konsistensi dan sungguh suatu kecemerlangan dari awal hingga akhir musim. Jika para penggemar golf terhibur oleh kuartet super dengan 11 kemenangan dalam 48 pekan, atau 23% dari jumlah turnamen, mereka mungkin penasaran adakah penjelasan dalam hal ini.
Hal ini patut dipertimbangkan: berilah kredit untuk keputusan PGA TOUR yang melangkah ke jadwal baru pada musim 2022-2023. Dengan 12 turnamen mendapat ”peningkatan” status dan para pemain top diminta mengikuti semuanya, plus 8 turnamen lainnya–minimal 20 turnamen–yang Anda dapatkan ialah sebuah filosofi yang dihadirkan oleh para pemain tersebut.
”Hal yang (Komisioner) Jay (Monahan) minta ialah agar para pemain (elite) membuat komitmen untuk lebih sering bermain bersama sehingga bisa menjadikan produk ini menjadi lebih menarik,” ujar McIlroy pada awal musim 2022-2023.
Anda bisa saja berpendapat bahwa dengan bertanding lebih sering satu dengan yang lain, para pemain terbaik di dunia ini bisa tetap tajam, tetap berada dalam puncak permainan mereka, dan berkembang pesat oleh tantangan-tantangan tersebut. Kami mendokumentasikan betapa lihainya keempat pemain teratas di dunia ini, tapi tetap ada fluktuasi dari posisi tersebut, yang turut menampilkan para pemain kelas dunia lainnya dalam kurun 2022-2023 ini.
Mulailah dengan hal berikut: tak hanya Scheffler dan Hovland yang lolos cut dalam 23 turnamen mereka. Xander, yang berada di peringkat 6, juga muncul.

Hal mengesankannya, tiga dari enam pemain teratas juga menunjukkan penampilan yang sangat baik. Namun, yang juga mengagumkan ialah bahwa Rahm, McIlroy, dan pegolf No.5 Dunia Patrick Cantlay telah bermain total dalam 59 turnamen dan hanya lima kali gagal lolos cut.
Baik Cantlay, maupun Schauffele tidak meraih kemenangan, sesuatu yang cukup mengejutkan, mengingat betapa bagusnya permainan mereka. Scauffele bisa 11 kali masuk sepuluh besar dalam 23 turnamen, sedangkan Cantlay 10 dari 21 turnamen.
Bahwa keenam nama ini–Scheffler, McIlroy, Rahm, Hovland, Cantlay, Schauffele–tampil begitu mengagumkan dalam banyak turnamen mungkin membuat Anda yakin bahwa mereka hampir selalu memiliki semua panggung yang ada.
Secara statistik, hal itu mungkin berlaku bagi Scheffler. Soalnya, ia menempati posisi teratas dalam 12 kategori–termasuk yang paling penting (Scoring Average, Ball Striking, dan hadiah uang). Namun, kualitas itu juga terlihat di lini pegolf lainnya pada PGA TOUR.
Mantan pegolf No.1 Dunia Justin Rose dan Jason Day meraih kemenangan untuk pertama kalinya, masing-masing, sejak 2019 dan 2018. Dan para pemain berkualitas berikutnya pun menyusul–Rickie Fowler dan Lucas Glover. Fowler meraih kemenangan pertamanya sejak 2019, Glover tak hanya menang sekali, tapi juga melakukannya berturut-turut. Situasi demikianlah yang membuatnya berjuang menahan tangis pada FedEx St. Jude Classic.
Tentulah, air mata yang ia teteskan di Memphis yang Glover lakukan tidaklah membuat para penggemar melihatnya hanya sebagai kemenangan yang membesarkan hati.

Sebagai pegolf yang mendapat dukungan besar di hadapan para penggemar tuan rumah, Nick Taylor memasukkan putt eagle dari jarak jauh untuk menjuarai RBC Canadian Open dan mengalahkan pegolf Ingris Tommy Fleetwood.
Pada hari Minggu berikutnya, Wyndham Clark yang tidak diunggulkan menjuarai U.S. Open, hanya beberapa pekan setelah ia meraih kemenangan PGA TOUR pertamanya di Quail Hollow, North Carolina. Dan berikutnya ialah Travelers Championship, turnamen yang dalam 12 tahun ingin dimenangkan oleh Keegan Bradley.
”Saya tidak bisa menggambarkan seperti apa rasanya,” tutur Bradley.
Ia berbicara soal penampilan mengagumkan pada putaran final, yang membantunya finis dengan 23-under dan meraih kemenangan di TPC River Highlands, di Cromwell, Connecticut. Kemenangan itu ia raih di hadapan ribuan penggemar di New England, yang menyebut kemenangan itu sebagai prestasi yang diraih oleh bocah asal kampung situ.
Sebenarnyan, omongan Bradley itu juga bisa digunakan untuk menggambarkan beberapa kemenangan yang terjadi pada musim 2022-2023. Penampilan mengagumkan itu sungguh ada di mana-mana–dan dilakukan oleh para pegolf terbaik di antara yang terbaik.

