Anirban Lahiri kembali menampilkan permainan yang cukup untuk memberinya peluang mewujudkan gelar PGA TOUR pertamanya.

Dalam kondisi brutal di TPC Potamac, Anirban Lahiri berhasil menampilkan permainan yang cukup memberinya kesempatan meraih gelar PGA TOUR pertamanya lewat ajang Wells Fargo Championship. Ia menunjukkan perjuangan yang mengagumkan dengan menorehkan tiga birdie dan tiga bogey untuk menjadi salah satu penghuni peringkat ketiga dengan skor total 4-under 206. Kini ia hanya berjarak empat stroke dari Keegan Bradley, yang bermain dengan skor 67 dan menjadi pimpinan klasemen baru.

”Rasanya saya baru saja menjalani 12 ronde tinju profesional,” tutur pegolf berusia 34 tahun itu. ”Anda bertarung dengan segalanya, be rtarung dengan tubuh Anda, elemen cuaca, air, dingin, kondisi yang demikian. Perjuangan yang berat dan Anda harus gigih dan terus berjuang.”

Juara Indonesian Masters 2014 ini sukses memasukkan putt birdie dari jarak 7 meter dan 4,8 meter di hole 8 dan 9, sebelum putting-nya dari jarak 23 meter meleset di hole 10. Ia kemudian meraih birdie ketiganya di hole 14 dari jarak kurang dari 2,5 meter, namun harus mendapat bogey di hole 12, 15, dan 18.

Dalam kariernya bermain pada 157 turnamen PGA TOUR, Lahiri telah dua kali finis di tempat kedua. Pertama, pada ajang Memorial Tournament 2017. Yang kedua terjadi belum lama ini lewat ajang THE PLAYERS Championship bulan Maret 2022 lalu dan meraih hadiah uang terbesarnya selama ini, yaitu US$2,18 juta.

”Anda hanya perlu memikirkan pukulan berikutnya karena sulit untuk berkomitmen melakukan pukulan itu.” — Anirban Lahiri.

Sejak nyaris menang di TPC Sawgrass itu, bintang asal India ini sudah dua kali finis di 15 besar dalam tiga turnamen terakhir, sekaligus memperbaiki peringkat FedExCup-nya ke posisi 55.

”Anda hanya perlu memikirkan pukulan berikutnya karena sulit untuk berkomitmen melakukan pukulan itu, sulit untuk mengambil keputusan,” tuturnya. ”Jadi, Anda mesti benar-benar jelas sebelum melakukan pukulan dan itulah yang saya lakukan, dan itulah bagian yang mudahnya karena mengeksekusinya tidak mudah. Anda tidak boleh berpikir jauh, menemukan bola, dan memukulnya dan berpikir ke mana mesti menempatkannya. Saya bahkan tidak tahu kalau memukul ke pin yterlalu banyak karena peluang meninggalkan sebuah hole dengan membuang banyak pukulan juga tinggi. Mudah karena Anda tidak berpikir untuk memenangkan turnamen golf, Anda cuma memikirkan pukulan berikutnya.”

Namun, ia harus memukul bolanya dengan lebih baik lagi pada hari Minggu ini demi menjaga peluang kemenangan. Pada putaran ketiga itu, ia hanya memukul ke sembilan fairway. Toh permainan iron-nya sekali lagi memberinya sedikit kepuasan.

”Saat ini saya agak kecewa dengan drive yang buruk di sembilan hole terakhir, jadi itulah yang saya pikirkan sekarang; bagaimana memukul lebih banyak fairway karena bahkan dari sana pun sungguh sulit mengukur (pukulan),” ujarnya.

”Dan kalau bola masuk ke rough, Anda akan sampai pada titik di mana Anda mesti menyabet habis karena ada begitu banyak air di club yang pasti bakal Anda lihat, club tidak bakal meluncur menembus rumput sama sekali. Orang lain juga bakal kesulitan, jadi sejauh Anda bisa mendapatkan par dan memberi peluang birdie, Anda bisa mendapatkan posisi yang bagus.

”Sepertinya orang sudah menganggap saya pemain yang bagus di kondisi lapangan golf yang berat atau cuaca buruk, tapi menurut saya semua itu memiliki hal yang sama dan Anda hanya mesti melangkah. Anda bakal melakukan pukulan yang buruk yang membuat bola berada di posisi yang tidak bagus, tapi Anda harus terus melangkah. Sepertinya, saya menikmati tantangan dari menerima apa yang terjadi dan berusaha melangkah dan melakukan pukulan berikutnya.”