Aditi Ashok menampilkan permainan solid ketika memulai kompetisi golf wanita Olimpiade Tokyo 2020.
Lima tahun lalu Aditi Ashok masih remaja belia yang menikmati kesempatan berada di antara nama-nama besar golf. Kala itu ia menjadi kompetitor termuda dalam kompetisi golf Olimpiade Rio 2016.
Kini ia tampil pada Olimpiade Tokyo 2020 dan pegolf India ini menegaskan niatnya untuk menorehkan prestasi di Kasumigaseki Country Club, dan menjadi penantang medali bersejarah bagi negaranya.
Ashok, yang kini berusia 23 tahun, menorehkan skor 4-under 67 siang tadi (4/8). Bermain di bawah kondisi yang panas dan lembab, ia masih bisa terpaut satu stroke dari pimpinan klasemen sementara, Madelene Sagstrom dari Swedia. Kini ia berbagi tempat kedua dengan pegolf No.1 Dunia Nelly Korda.
”Waktu itu saya hanya berpikir untuk menikmati pengalamannya dan menetap di permukiman atlet, menyaksikan atlet-atlet lainnya, tapi kali ini saya benar-benar berpikir untuk meraih finis yang bagus. Semoga saya bisa bermain sebaik-baiknya dan berusaha memenangkan medali,” tutur Ashok. ”Menurut saya, pernah bertanding pada Olimpiade sebelumnya akan membuat Anda lebih siap, tidak terlalu kagum (pada panggungnya). Memang masih Olimpiade juga, dan masih sangat seru, tapi jelas saya lebih siap untuk kali ini.”
”Bermain pada LPGA dalam lima tahun ini telah membuat diri saya menjadi lebih baik sebagai seorang pemain ketimbang waktu di Rio.” — Aditi Ashok.
Ia berniat untuk menciptakan kenangan Olimpiade dan meminta ibunya untuk menjadi kedi pada pekan ini, menggantikan sang ayah yang melakoni tugas serupa di Rio. Jika ia masih begitu hijau lima tahun silam, kini ia menjadi pesaing berpengalaman di level LPGA Tour dengan dua gelar Ladies European Tour.
”Ibu saya menjadi kedi kali ini. Sebelumnya ayahlah yang membawakan tas saya, jadi pengalamannya sungguh luar biasa sehingga saya ingin ibu saya yang menjadi kedi berikutnya dan saya memenuhi janji tersebut,” tuturnya. ”Kali ini saya jelas lebih berpengalaman. Bermain pada LPGA dalam lima tahun ini telah membuat diri saya menjadi lebih baik sebagai seorang pemain ketimbang waktu di Rio. Dan saya pikir pengalaman Olimpiade ini, saya tidak meraih finis yang bagus waktu itu, tapi sekadar melihat efeknya bagi golf di India jelas sangat menginspirasi dan itulah yang memotivasi saya kali ini.”
Sejauh ini Ashok merupakan pegolf India pertama yang berhasil menembus LPGA Tour pada tahun 2017.
Banyak pengamat yang melihat bakatnya setelah berada di jajaran sepuluh besar dalam dua putaran di Rio sebelum akhirnya harus puas finis di posisi 41. Bermain di panggung Olimpiade membuat profilnya langsung melejit. Ia sendiri mengaku kaget ketika mendapati jumlah pengikutnya di media sosial melonjak drastis.
”Saya pikir pengikut saya di media sosial meledak. Menurut saya ada banyak yang ingin mencari tahu soal golf sehingga mereka bisa memahami bagaimana saya bermain dan kalau-kalau saya berpeluang meraih medali. Sepertinya, saya memiliki 4.500 pengikut di Twitter dan Facebook. Dan kemudian melambung menjadi 14.000 dalam semalam. Sangat banyak! Sekarang saya harus berpikir lebih dulu sebelum mengirimkan tweet,” ujarnya sambil tertawa.
”(Sebuah medali) pasti akan sangat besar maknanya karena golf wanita tidak benar-benar menjadi perhatian bagi masyarakat di India, ….” — Aditi Ashok.
Meski kondisi di lapangan panas dan lembab, Ashok masih bisa mengendalikan permainannya dengan sangat baik, bahkan sampai hole terakhir, ketika ia terpaksa finis dengan bogey. ”Sepertinya saya bermain lebih baik daripada yang saya harapkan karena banyak memainkan hybrid untuk memukul bola ke green. Jadi, saya tidak berharap bisa main 5-under hingga hole 17. Namun, saya bisa memasukkan beberapa putt dan memasukkan putt yang penting,” jelasnya lagi.
Sejauh ini kriket masih menjadi olahraga paling favorit di India. Bahkan masyarakat di sana memperlakukan olahraga tersebut bak agama. Namun, Ashok meyakini bahwa medali dari cabang olahraga golf bisa lebih menyoroti golf. ”Saya tak pernah mengira Olimpiade bisa berdampak begitu besar bagi India. Jadi, mengetahui kalau panggung ini bisa membuat lebih banyak pasang mata melihat golf, jelas merupakan suatu hal yang penting. Banyak orang yang masih mengingat saya sebagai pemain yang main bagus pada Olimpiade. Jadi, saya pikir dengan mengetahui fakta ini, saya menjadi lebih termotivasi lagi pekan ini.
”Pasti akan sangat besar maknanya karena golf wanita tidak benar-benar menjadi perhatian bagi masyarakat di India, jadi (sebuah medali) akan menjadi sangat penting bagi golf wanita. Menurut saya, hanya dengan menjadi atlet wanita di India, kami belum pernah memenangkan medali emas dan kami belu memenangkan medali sebanyak kaum pria. Jadi, menurut saya ini bisa menjadi tren yang bagus dan para atlet wanita yang bertanding dengan baik jelas menjadi sesuatu yang sangat positif bagi negara, seperti India.”
Ashok mulai mengenal golf secara kebetulan ketika ia dan kedua orangtuanya tersasar ke driving range, yang berada di seberang restoran favorit mereka di Bangalore. ”Biasanya kami sarapan di restoran yang berseberangan dengan driving range. Jadi, kami ingin mencobanya. Mereka memberi saya putter untuk bocah dan begitulah saya mulai bermain golf,” kenang Ashok.
”Saya menikmati melakukan putt. Seingat saya, saya berada di sana selama tiga jam sekadar putting di green. Jadi, seperti itulah saya memulai golf. Dan pada akhirnya, saya memperlajari seluruh permainan ini. Dan sepertinya, seiring dengan saya mengikuti turnamen junior dengan anak-anak sebaya lainnya menjadi suatu pengalaman yang tidak bakal saya dapatkan dalam kehidupan biasa. Bermain golf secara kompetitif dengan anak-anak sebaya sangatlah menarik bagi saya dan itulah yang membuat saya selalu kembali ke lapangan,” tandasnya.


