Lee Taehee meraih gelar Asian Tour pertama dengan kemenangan dramatis.

GS Caltex Maekyung Open masih menjadi panggung yang menunjukkan ketangguhan para pegolf Korea. Uniknya, untuk urusan ini, turnamen ini bahkan melebihi ajang Korea Open sekalipun. Dalam 14 tahun berturut-turut, para pegolf Korea silih berganti menjuarai turnamen ini. Sementara rekor terpanjang yang terjadi pada Korea Open hanyalah tujuh kali berturut-turut, yang terjadi pada periode 2012-2018.

Lee Taehee berhasil melanjutkan tongkat estafet ini dari sang juara edisi tahun lalu, Park Sanghyun, sekaligus mempertahankan tradisi ini. Pegolf berusia 34 tahun ini bahkan menunjukkan semangatnya untuk menjaga tradisi tersebut sejak putaran pertama, dengan tak melepas posisi teratas hingga akhir turnamen.

Namun, siapa yang mengira kalau gelaran ke-38 kali ini harus kembali berlangsung dramatis? Seperti halnya Park Sanghyun ketika menjuarai edisi ke-37 tahun lalu, kali ini penentuan juara pun harus dilakukan dengan memainkan babak sudden death play-off. Ini menjadi play-off ke-8 sejak turnamen ini digelar pertama kalinya pada 1982.

Seperti halnya putaran final sebuah turnamen, hari terakhir The 38th GS Caltex Maekyung Open Golf Championship ini pun berlangsung dengan sangat seru. Lee yang berbagi tempat teratas dengan pegolf Finlandia Janne Kaske, dan memegang keunggulan empat stroke dari pesaing terdekat mereka, memang berhasil mempertahankan jarak para pemain lain, tapi tidak di antara keduanya.

Juara edisi 2010 Kim Dae-hyun berusaha mengejar keduanya, namun harus puas bermain dengan skor total 8-under 276 setelah mencatatkan skor terendah 65 pada hari terakhir. Adapun sang juara bertahan Park Sanghyun juga berusaha agar bisa mempertanankan gelarnya, namun ia pun harus puas finis dengan skor 278.

Sepanjang 18 hole pada putaran final yang dimainkan di Nam Seoul Country Club itu, baik Lee maupun Kaske sama-sama berada pada posisi memegang kendali di sembilan hole pertama. Lee memegang keunggulan itu berkat dua birdie di empat hole pertama, namun Kaske membalikkan kondisinya dengan birdie dan eagle di hole 5 dan 7, usai Lee tersandung di hole 7.

Keadaan kembali seperti ketika keduanya memulai putaran final ini di hole 14 par 5 setelah Lee mendapat birdie, sementara Kaske justru tersandung dan mendapatkan bogey. Dengan keduanya sama-sama mendapat bogey di hole 16 dan 17, Lee nyaris menuntaskan turnamen ini di hole 18 kalau saja bukan karena ketangguhan putt dari lawannya.

Kaske harus memainkan pukulan keduanya dari bunker fairway, yang justru gagal mengantarkan bolanya ke green. Upayanya untuk mendapat birdie di sana kemudian membuat bola melewati hole hingga 30 kaki. Beruntung di sana ia bisa mengamankan par, yang sekaligus membawa keduanya memainkan sudden death play-off.

“Hari ini merupakan hari terindah dalam hidup saya. … Kini saya menargetkan untuk menjuarai Order of Merit KPGA.” – Lee Taehee

Keputusan langka yang diambil komite, pukulan tee off yang mendarat di divot, dan tiga putt Kaske di hole ke-75 itu menjadi warna dari babak sudden death ini. Usai keduanya sama-sama mendapat double bogey dan bogey di dua hole play-off pertama, komite menempatkan posisi pin di green 18 itu menjadi lebih mudah. Lee memanfaatkan ini dan mencatatkan birdie, sementara Kaske harus menerima kekalahannya usai mendapat double bogey lantaran terpaksa melakukan tiga putt.

“Hari ini merupakan hari terindah dalam hidup saya. Ini momen yang akan saya kenang selamanya. Saya mulai memikirkan Tour yang lebih besar, seperti Asian Tour dan European Tour,” ujar Lee setelah memastikan kemenangan ini.

“Kedi saya sangat membantu di lapangan. Dia sudah seperti saudara buat saya dan kami berlatih bersama di lapangan ini. Dia juga pegolf profesional, tapi tidak menembus kualifikasi untuk turnamen ini. Kini saya menargetkan untuk menjuarai Order of Merit KPGA.”

Tak hanya Lee yang berbangga atas keberhasilannya ini. Salah satu sosok yang berperan di balik kemenangannya ini ialah pemegang dua gelar GS Caltex Maekyung Open Golf Championship, yaitu Choi Sang-ho (1991 dan 2005). Salah satu pegolf legendaris Korea ini pernah mencatatkan sejarah sebagai pegolf tertua yang pernah menjuarai sebuah ajang Asian Tour saat memenangkan turnamen ini untuk kedua kalinya tahun 2005. Kala itu Choi berusia 50 tahun dan 145 hari. Choi berperan melatih Lee di Nam Seoul Country Club dalam periode 2003-2010.

Meski harus finis sebagai runner-up, Janne Kaske mencatatkan hasil terbaiknya selama bermain pada ajang Asian Tour. Ia berpeluang mempertahankan kartu Asian Tour untuk musim depan dengan kini berperingkat 7 pada Habitat for Humanity Standings. Foto: Asian Tour.

Selain itu, keluarganya juga menghadirkan kejutan tersendiri bagi Lee.

“Saya sebenarnya meminta keluarga saya agar tidak datang hari ini karena ada banyak debu di sini, tapi mereka akhirnya malah datang untuk mendukung saya,” ujar Lee yang sempat bermain pada dua ajang PGA TOUR, The CJ CUP @ Nine Bridges 2018 dan Genesis Open 2019 setelah menjuarai Genesis Championship 2018, gelar profesional kedua baginya.

Kaske sendiri memang tidak menang kali ini, namun ia masih bisa menerima hasil ini lantaran hanya menargetkan untuk mempertahankan kartu Asian Tour untuk musim depan. Pemegang dua gelar Asian Development Tour dan lulusan Augusta State University ini harus jatuh bangun untuk menembus Asian Tour. Setelah gagal menembus Q-School pada tahun 2012, ia kembali mencobanya pada 2015, namun kembali mengalami kegagalan, sampai akhirnya berhasil lulus Q-School pada 2018 lalu.

“Pada satu titik, saya sepertinya akan menang dengan mudah. Tapi saya malah mulai melakukan kesalahan-kesalahan konyol,” ujar Kaske. “Bagus juga bisa memiliki kesempatan (untuk menang), tapi saya sulit menganalisisnya. Bagaimanapun juga, ini merupakan hasil yang bagus buat saya, bahkan ini menjadi hasil terbaik bagi saya selama bermain dalam ajang Asian Tour. Hasil ini jelas akan membantu saya mempertahankan kartu untuk musim depan.”

Finis sebagai runner-up ini turut melambungkan peringkat Kaske ke posisi 7 pada Habitat for Humanity Standings.

Leave a comment