Inilah lima pegolf amatir Asia terbaik yang pernah tampil pada ajang Masters Tournament.
Pekan ini publik golf di Asia akan diwakili oleh pegolf Thailand Fifa Laopakdee. Sebagai juara Asia-Pacific Amateur Championship, pegolf berusia 20 tahun itu akan bermain bersama Juara Masters 1992 Fred Couple asal Amerika dan Minwoo Lee dari Australia.
Tak banyak pegolf amatir Asia pria yang mendapat kesempatan bertanding di Augusta National. Selain Laopakdee, yang memulai debutnya hari Kamis (9/4) ini, hanya ada sembilan nama lain yang pernah mengikuti Masters Tournament. Mereka adalah Han Changwon, Hideki Matsuyama, Guan Tianlang, Lee Changwoo, Jin Cheng, Lin Xiyu, Takumi Kanaya, Keita Nakajima, dan Hiroshi Tai.
Lalu siapakah di antara mereka yang layak masuk daftar lima besar?

Hiroshi Tai (Singapura)
Bagi Hiroshi Tai, tahun 2025 akan selalu ia kenang sebagai salah satu periode paling menarik dan membanggakan dalam karier amatirnya. Setahun sebelumnya, sebagai mahasiswa Georgia Tech University, ia menikmati dua hak Istimewa yang sangat bernilai setelah menjuarai NCAA Divison One Men’s Championship 2024. Ia menjadi pegolf amatir pertama yang berhak mengikuti Masters Tournament dari jalur NCAA.
Penampilannya di Augusta National tahun lalu mungkin tidak cukup membawanya bermain penuh empat putaran. Skor 73-77 yang ia peroleh membuatnya harus puas bertanding hanya dalam dua putaran. Dalam dua hari itu, ia hanya menciptakan dua birdie. Sisanya ia harus menuliskan empat bogey dan dua double bogey.
Ia mungkin gagal lolos cut, namun kehadirannya pada ajang ini layak membuatnya menjadi salah satu pegolf amatir Asia terbaik yang pernah mengikuti Masters Tournament. Pasalnya, ia menjadi pegolf amatir asal Asia Tenggara pertama yang berhak tampil pada ajang Major tersebut. Fakta sejarah ini jelas meninggalkan kesan mendalam, khususnya bagi golf di Singapura.
Tai menjadi pegolf Asia kedua, setelah An Byeonghun, yang tampil pada The Masters lewat jalur di luar Asia-Pacific Amateur Championship.

Lin Yuxin (China)
Pegolf kidal ini menciptakan sejarahnya sendiri tatkala menjadi pegolf kedua yang menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship sebanyak dua kali. Ia meraih kemenangan pada edisi 2017 dan 2019 sehingga berhak tampil pada Masters Tournament 2018 dan 2020.
Lin meraih haknya untuk tampil di Augusta National untuk pertama kalinya pada tahun 2017. Ia harus mengalami kesulitan kala bermain di lapangan legendaris itu. Setelah membukukan skor 79, ia harus mengubur asanya bermain penuh empat putaran usai bermain satu stroke lebih banyak pada putaran kedua.
Ketika ia kembali pada tahun 2020, ia harus kembali menorehkan skor 79. Meski berhasil mencatatkan skor terbaik dalam partisipasinya pada ajang ini, skor 1-over 73 itu masih belum cukup untuk membawanya melangkah ke akhir pekan.
Meskipun gagal bermain penuh, ia menjadi pegolf Asia kedua setelah Hideki Matsuyama, yang tampil dua kali lewat jalur Asia-Pacific Amateur Championship, ajang yang juga turut diprakarsai oleh Masters Tournament.

Takumi Kanaya (Jepang)
Kredibilitas Takumi Kanaya sebagai pegolf amatir sudah terbangun bahkan sebelum ia melangkah ke Augusta National. Kemenangannya pada Asia-Pacific Amateur Championship di Sentosa Golf Club delapan tahun silam memberinya hak tampil pada Masters Tournament 2019.
Sebagai pegolf Jepang kedua setelah Matsuyama, yang tampil pada ajang bergengsi ini, juga dalam statusnya sebagai pegolf amatir No.1 Dunia, membuat banyak yang berharap ia bisa mengikuti jejak Matsuyama, yang sukses meraih status pegolf amatir terbaik pada Masters 2011.
Kanaya memang berhasil melangkah ke putaran akhir pekan usai mencatatkan skor 74-73. Harapan itu juga mulai terbuka usai menorehkan 4-under 68 pada putaran ketiga. Sayangnya, ia harus puas finis di posisi T58 setelah mencatatkan skor 78. Viktor Hovlandlah yang menyabet status amatir terbaik itu.
Setelah tampil di Augusta National, Kanaya menjadi pegolf Asia pertama yang memenangkan Medali Mark H. McCormack, penghargaan bagi pegolf teratas pada World Amateur Golf Ranking sejak 2007.

Guan Tianlang (China)
Guan Tianlang menciptakan sejarah dalam beberapa hal. Kemenangannya pada Asia-Pacific Amateur Championsip 2012 menjadikannya sebagai pegolf China pertama yang meraih hak bertanding pada Masters Tournament. Tidak tanggung-tanggung, ia mengalahkan Matsuyama, yang dua edisi sebelumnya memenangkan ajang amatir paling bergengsi se-Asia Pasifik itu.
Ia juga sempat mencuri perhatian tatkala mendapat ajakan dari Tiger Woods untuk melakukan putaran latihan di sembilan hole terakhir Augusta National, bersama Dustin Johnson. Salah satu alasannya: Guan lahir pada 1998, lebih dari setahun usai Woods menjuarai Jaket Hijau pertamanya.
Dalam usia baru 14 tahun, Guan memang menjadi pegolf termuda yang tampil dalam ajang The Masters. Meski pada putaran kedua ia mendapat penalti akibat bermain lambat—ia menjadi pegolf pertama setelah Gregory Bourdy pada PGA Championship 2010 yang mendapat penalti akibat bermain lambat.
Toh ia masih berhasil lolos cut. Skor 73-75 membawanya melangkah ke akhir pekan, sekaligus menjadi pegolf termuda yang pernah lolos cut dalam ajang The Masters, dan ajang yang diakui PGA Tour. Ia pun dengan mudah menjadi pegolf amatir terbaik lantaran menjadi satu-satunya amatir yang bermain penuh empat putaran.

Hideki Matsuyama (Jepang)
Kemenangan Hideki Matsuyama pada Masters Tournament 2021 akan selalu dikenang sebagai prestasi terbesar yang pernah diraih oleh pegolf pria Asia di panggung golf global. Prestasi ini menjadi prestasi terbesar kedua setelah kemenangan ikonik Y.E. Yang atas Tiger Woods pada PGA Championship 2009.
Kemenangan Matsuyama itu seakan menjawab harapan publik, sekaligus menegaskan bahwa pegolf Asia bisa menaklukkan Augusta National dan memenangkan Jaket Hijau. Prestasi ini terwujud kurang dari setahun setelah pegolf Korea Im Sungjae nyaris memenangkan ajang Major ini dengan finis T2 di belakang Dustin Johnson, Ketika The Masters digelar dalam nuansa Covid-19.
Akan tetapi, jauh sebelum menciptakan sejarah besar itu, bakatnya sebagai calon bintang Asia sudah terlihat tatkala menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship 2010 dan 2011. Ia langsung menyabet predikat amatir terbaik pada The Masters 2011, dengan finis di posisi T27. Bahkan ketika kembali ke Augusta National sebagai amatir tahun 2012, ia kembali lolos cut dan finis di peringkat T54, meskipun tak lagi menjadi amatir terbaik.
Dari sana kariernya melejit. Usai beralih profesional, ia menjuarai tujuh gelar pada Japan Golf Tour Organization, melengkapi satu kemenangan yang ia raih ketika masih amatir. Dan, selain Jaket Hijau pada 2021 itu, ia telah menjuarai sepuluh gelar PGA Tour lainnya.
Sangatlah wajar jika ia menjadi pegolf Asia terbaik yang pernah tampil pada Masters Tournament—tidak hanya karena kemenangannya tahun 2021, tapi juga rekam jejaknya ketika masih amatir.


