Lin Xiyu sukses mengikuti jejak Feng Shanshan dalam memenangkan medali pada kompetisi golf wanita Olimpiade Paris 2024.

Sebelum bertolak ke Perancis untuk mengikuti kompetisi golf wanita Olimpiade Paris 2024, Lin Xiyu merasa tidak yakin dengan permainannya. Meskipun merasa meraih sejumlah hasil yang bagus, ia juga tidak bisa mengelak fakta bahwa permainannya tidak begitu tajam.

Hingga menjelang Olimpiade, pegolf berusia 28 tahun ini memang belum menampilkan permainan yang istimewa. Meskipun empat kali masuk sepuluh besar—T6 pada LPGA Drive On Championship, T10 pada Blue Bay LPGA, T4 pada Cognizant Founders Cup, dan T5 pada Dana Open—ia juga tiga kali gagal lolos cut, termasuk pada turnamen terakhir yang ia ikuti, CPKC Women’s Open.

Bagi Lin, Olimpiade Paris 2024 ini merupakan penampilan ketiganya membawa negara di panggung olahraga terbesar di dunia ini. Dalam dua penyelenggaraan terdahulu pada Rio 2016 dan Tokyo 2020, Lin ditemani oleh seniornya, Feng Shanshan. Feng bahkan telah lebih dahulu menikmati podium ketika memenangkan medali perunggu delapan tahun silam.

Tidaklah mengherankan jika dalam kondisi yang gundah itu ia menghubungi Feng.

”Ketika hendak terbang ke Paris, saya menelepon Shanshan, dan Anda tahu karakternya seperti apa, tiap hari pembawaannya selalu riang. Jadi, dia bertanya, ’Kenapa?’” tutur Lin.

 

Lin Xiyu, Round 4 Olimpiade Paris 2024.
Skor 3-under 69 sudah cukup membawa Lin Xiyu untuk mengikuti jejak Feng Shanshan dalam memenangkan medali perunggu Olimpiade. Foto: Ben Jared/PGA TOUR/IGF.

 

”Saya merasa sangat gugup karena tahun ini rasanya saya belum banyak mendapat hasil yang bagus, memang ada beberapa yang bagus, tapi permainan saya sama sekali tidak benar-benar tajam. Saya mengalami kesulitan sendiri. Jadi, saya memberi tahu Shanshan kalau saya bingung mesti memikirkan apa menuju ke Olimpiade kali ini.

”Dia cuma bilang, ’Ini kesempatan ketigamu, jadi finish seperti apa yang menurutmu bisa membuatmu senang?’ Ya, saya bilang, ’Meraih medali.’ Jadi dia mendorong saya melakukannya.”

Percakapan itu terbukti sangat penting bagi pegolf asal Guangzhou ini. Ia memang tidak terlihat bakal bersaing setelah hanya mencatatkan skor 71-70-71 dalam tiga putaran. Namun, permainan solid hari terakhir dengan skor 3-under 69 itu sudah cukup membawanya ke podium dan mengulangi prestasi Feng delapan tahun silam.

Sepanjang pekan itu, permainan Lin di sekitar green terlihat solid. Statistik di kategori Strokes Gained: Around the Green miliknya mencatatkan angka 2,942 yang menempatkannya di peringkat 3 dari seluruh peserta. Sementara untuk Strokes Gained: Putting, ia mencatatkan 7,553 dan berada di peringkat 2. Dan dengan Strokes Gained: Total 11,102, Lin berada di urutan 3.

Lin juga menunjukkan ketangguhan mental yang luar biasa. Ia telah bermain 7-under setelah menorehkan empat birdie dan satu bogey dalam 16 hole pada putaran final itu, sampai akhirnya ia kembali mendapat bogey di hole 17. Dengan bermain dua grup di belakang grup terakhir, skor 6-under masih tidak menjamin apa-apa sehingga ia harus kembali bangkit di hole terakhir.

 

Esther Henseleit, Lydia Ko, Lin Xiyu, Olimpiade Paris 2024.
(Ki-ka) Esther Henseleit, Lydia Ko, Lin Xiyu berpose dengan medali masing-masing di Le Golf National. Foto: PGA TOUR/IGF.

 

Toh ia masih sanggup mengantarkan bolanya ke fairway sempit di hole pamungkas tersebut, bahkan berhasil mencapai green dalam dua pukulan. Meski melewatkan peluang eagle, birdie di hole terakhir itu membawanya ke peringkat ketiga dengan skor total 7-under 281.

”Rasanya percakapan (dengan Feng) itu sangat penting buat saya dan memfokuskan diri saya lagi. Rasanya pekan ini sangat berbeda dengan turnamen lainnya dalam berbagai hal. Tidak ada cut, tapi juga Anda bermain bagi negara, dan ini lapangan yang susah. Pengaturannya persis seperti ajang Major, dan saya juga merasa turnamen ini memberi hadiah bagi mereka yang finis di tempat kedua dan ketiga, di mana biasanya tidak begitu,” sambung Lin.

”Saya berusaha membayangkan apa yang ia lakukan di Rio ketika memenangkan medali perunggu. Rasanya ia sangat menikmati pekan itu. Dia tersenyum kepada semua orang, melambaikan tangan kepada para penggemar yang mengelu-elukannya, dan rasanya saya akan meniru dia dan saya kira itulah yang saya lakukan pekan ini.

”Kami menikmati pekan yang luar biasa di dalam dan luar lapangan dan ada tunangan saya beserta keluarga dan agen, banyak orang yang bersama saya di sini.”

Kini Lin menatap ajang Major terakhir pada tahun ini, AIG Women’s Open. Keberhasilannya meraih medali ini bakal mendorongnya untuk mewujudkan gelar LPGA pertama sejak menembus kompetisi papan atas itu tahun 2014.

 

Lydia Ko, Peraih Medali Emas Olimpiade Paris 2024.
Lydia Ko melengkapi koleksi medali Olimpiadenya dengan meraih medali emas pada Olimpiade Paris 2024. Foto: PGA TOUR/IGF.

 

Sementara itu, Lydia Ko sukses melengkapi koleksi medali Olimpiade miliknya setelah mencatatkan birdie di hole terakhir. Setelah mendapatkan double bogey di hole 13, Ko berhasil menghindari membuang lebih banyak pukulan dan melakukan pendekatan konvensional di hole 18 untuk mencatatkan skor 71 dan skor kemenangan 10-under 278.

”Ketika berbagi posisi teratas menjelang putaran final, saya tahu kalau 18 hole berikutnya akan menjadi 18 hole terpenting dalam hidup saya. Salah satu hal yang saya ungkapkan awal pekan ini ialah saya tidak tahu apakah bakal mengikuti Olimpiade lain, dan saya akan bilang tidak, ini merupakan Olimpiade terakhir saya,” ujar Ko.

”Saya terus mengingatkan diri kalau saya mesti menulis akhir kisah saya sendiri … dan saya ingin menjadi satu-satunya yang mengendalikan nasib saya dan mengakhiri pekan ini. Bisa mengakhirinya seperti ini (meraih medali emas), sejujurnya, adalah mimpi yang menjadi kenyataan!”

Kemenangan Ko ini juga kian memastikan tempat baginya pada LPGA Hall of Fame.

Adapun medali perak akhirnya dimenangkan oleh pegolf Jerman Esther Henseleit setelah menuntaskan 72 hole dengan skor total 8-under 280.