Jazz Janewattananond menikmati keberhasilannya menembus putaran akhir pekan pada The Open Championship.

Bagi Jazz Janewattananond, penampilannya di Royal St. George’s pekan ini bukanlah pengalaman pertamanya bermain di lapangan top tersebut. Sebelas tahun silam, ia pernah bertanding di lapangan ini. Kesempatan tersebut menciptakan pengalaman yang tak terlupakan baginya.

”Saya mengikuti ajang Duke of York Young Champions Trophy ketika masih berusia 14 tahun,” kenangnya. ”Waktu itu saya sedang melakukan putaran latihan dengan membawa tas golf dan payung dan hujan tengah turun. Sepertinya saya tersesat di hole 5 atau di mana waktu itu dan tidak bisa kembali ke clubhouse. Jadi, saya harus menunggu sampai hujan berhenti.”

Bagi pegolf yang sempat menyandang status No.1 pada Asian Tour ini, pengalamannya itu menjadi sebuah kenangan manis, meskipun unik. Namun, kini ia kembali ke Royal St. George’s dengan posis yang berbeda. Ia kini bertanding pada The Open Championship sebagai pegolf No.144 Dunia dan pemegang enam gelar Asian Tour.

The Open Championship pekan ini merupakan penampilan ketiga baginya. Dan kesempatan ketiga ini benar-benar ia maksimalkan setelah memastikan melangkah ke putaran akhir pekan untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya.

”Ini lolos cut pertama saya pada ajang The Open dalam karier saya, jadi saya senang sekali,” ujarnya. ”Saya pikir, saya memang butuh waktu (untuk bisa bermain dengan baik di lapangan seperti ini) karena saya besar di Asia, di mana lapangan links bukanlah jenis lapangan yang biasa kami lihat. Sudah jelas kami juga tidak mengalami cuaca seperti di sini.”

”Anda bisa termotivasi ketika mendapatkan birdie dan juga tahu bahwa ketika pukulan kami meleset, para penonton akan menyemangati kami juga.” — Jazz Janewattananond.

Setelah pada putaran pertama hanya bermain even par berkat dua birdie dan dua bogey, kali ini Jazz menorehkan skor 1-under 69 berkat tiga birdie dan dua bogey untuk memastikan melangkah ke putaran akhir pekan.

Dengan diperbolehkannya para penggemar untuk meramaikan Royal St. George’s, Jazz dan seluruh peserta yang tersisa bakal bisa menikmati dukungan dan emosi yang diberikan lewat kehadiran para penggemar ini pada akhir pekan. Seperti kebanyakan pemain lainnya, kehadiran para penggemar memberikan perbedaan dalam performa Jazz.

”Senang sekali melihat para penggemar bisa kembali ke lapangan. Kami tak banyak bermain di hadapan penggemar pada tahun ini. Mungkin ini keempat kalinya saya bermain dengan kehadiran mereka, dan sungguh menyenangkan bisa mendapatkan reaksi mereka,” tuturnya lagi.

”Saya tak selalu bisa melihat apakah bola mendarat di green atau tidak, tapi para penonoton membantu kami. Anda bisa termotivasi ketika mendapatkan birdie dan juga tahu bahwa ketika pukulan kami meleset, mereka akan menyemangati kami juga.”

Apapun hasilnya pekan ini, Jazz akan meninggalkan catatan positif dalam kariernya pada ajang ini. Sejauh ini penampilan terbaiknya pada ajang Major tercipta pada tahun 2019 ketika ia berhasil finis di posisi T14 pada ajang PGA Championship.

Pekan ini, sejumlah wakil Asia lainnya berhasil melangkah ke putaran akhir pekan. Selain rekan senegaranya, Poom Saksansin, masih ada pegolf Jepang Ryosuke Kinosihta, dan pegolf amatir dari China Lin Yuxin. Pegolf Korea An Byeonghun kini memimpin kontingen Asia dari posisi T25.