Malam ini, waktu Indonesia, penggemar golf di Indonesia kembali mendapat suguhan ajang Major kedua tahun ini. Bagaimana kejuaraan sekaliber ini bakal bersaing menghadapi Tour saingan yang kian gencar? Apa relevansinya bagi Indonesia?

Oleh Raka S. Kurnia, GolfinStyle.

Bagi para petinggi organisasi golf profesional di Amerika Serikat dan Eropa, Greg Norman mungkin dianggap sebagai biang kerok. Pria asal Australia itu kian gencar menggoyang status quo yang dipertahankan selama ini. Terutama dengan kian dekatnya turnamen pertama LIV Golf Invitational Series di Inggris, dan beberapa pekan setelahnya menyeberang ke Amerika.

Konsep yang dijanjikan sangat menggoda. Tiga putaran tanpa cut-off, start secara serempak dan bukan berdasarkan waktu tee. Hadiah sebesar £20 juta (sekitar US$24,7 juta atau Rp363 milyar) dengan pemenangnya berhak membawa pulang £3,2 juta (sekitar Rp58 milyar), dan bahkan juru kuncinya masih bisa membawa £100.000 (sekitar Rp1,8 milyar). Bandingkan dengan ajang PGA TOUR yang bisa hanya memberikan US$7.955 (sekitar Rp117 juta)—berdasarkan turnamen yang menyediakan hadiah total US$3,7 juta pada ajang Corales Puntacana Championship, salah satu turnamen resmi FedExCup dengan hadiah terkecil.

Jika melihat ajang PGA Championship yang pekan ini dimainkan di Southern Hills, jumlah hadiah sebesar US$12 juta jelas hanya hampir separuh dari apa yang dijanjikan oleh LIV Golf Invitational Series. Namun, benarkah daya tarik uang seperti itu mujarab? Tergantung kepada siapa Anda membahasnya.

”Menurut saya apa yang Jack (Nicklaus) dan Arnold (Palmer) lakukan ketika memulai PGA TOUR … ada suatu warisan di sana. Saya sudah bermain selama beberapa tahun, selama beberapa dekade, dan saya pikir ada warisan dari itu semua. Saya masih berpikir kalau PGA TOUR masih bisa menawarkan banyak hal, begitu banyak kesempatan,” ujar Tiger Woods menjelang PGA Championship.

”Saya paham kalau ada beberapa pandangan, tapi saya percaya pada (pentingnya) warisan. Saya meyakini (nilai) kejuaraan-kejuaraan Major. Saya meyakini (nilai) ajang-ajang besar, perbandingannya dengan tokoh-tokoh sejarah masa lalu. Ada banyak uang di sini. PGA TOUR bertumbuh. Namun, seperti olahraga lainnya, seperti tenis, Anda mesti keluar dan meraihnya. Anda harus berjuang dan bermain untuk meraihnya. Kami memiliki kesempatan untuk melangkah dan mewujudkannya. Bukan dijamin sejak awal.”

Jelas ada banyak kacamata yang bisa kita gunakan untuk melihat perkembangan fenomena tersebut. Demikian juga dengan cara kita menerjemahkan kebijakan, baik PGA TOUR maupun DP World Tour, ketika mereka menegaskan tidak mengizinkan para pemainnya mengikuti turnamen perdana di Inggris awal Juni nanti.

Persaingan ini memang tidak bisa dielakkan pada pekan Major ini. Selain jadwal gelaran sang pesaing yang kian dekat, Phil Mickelson yang semula hendak mempertahankan gelar yang ia raih di Kiawah tahun lalu, justru kemudian kembali menarik diri tanpa penjelasan yang meyakinkan. Si kidal—yang sebenarnya tidak kidal—ini diserang habis-habisan setelah mengkritik PGA TOUR dan menyuarakan dukungannya kepada LIV Golf Invitational, yang didanai oleh Private Investment Funds, Arab Saudi.

 

Y.E. Yang saat menaklukkan Tiger Woods tahun 2009.
Yang menjadi pegolf Asia pertama yang menjuarai Major dengan mengalahkan Tiger Woods pada PGA Championship 2009. Foto: Getty Images.

 

Fokus ke Ajang Major
Namun, tidak baik juga jika kita ikut memusingkan apa yang dipusingkan oleh para pejabat Tour profesional AS dan Eropa itu. Mari melihat apa yang bisa kita harapkan pekan ini: Woods kembali setelah kampanye berat di Augusta; Rory McIlroy yang masih mengincar gelar Major tambahan, terutama setelah kemenangan Major terakhirnya terjadi pada PGA Championship 2014; No.1 Dunia Scottie Scheffler yang menjadi salah satu pemain paling dominan belakangan ini; termasuk sederet jawara Major lainnya, seperti mantan pegolf No.1 Dunia Martin Kaymer yang juga dikabarkan menjadi salah satu yang berniat tampil pada LIV Golf Invitational di Inggris.

Sekali lagi, ajang pekan ini bukan sekadar soal nama-nama besar. Southern Hills mengalami perubahan yang siap mengguncang para pemain tangguh sekali pun. Woods, yang telah menjuarai satu dari empat PGA Championship di Southern Hills menjelaskan, ”Rough-nya sangat tebal. Ini menarik karena Anda bisa memukul dan melentingkan bola atau malah kesulitan mengeluarkan bola (dari sana). Itulah yang membuat penasaran kalau bermain di rumput bermuda. Ada lebih banyak bulir rumput ketimbang yang biasa kami hadapi. Bakal butuh beragam jenis pukulan. Saya sudah melihat pemain menggunakan hybrid, dan pemain lain memainkan 3-wood, putt, wedge, 4-iron. … Dan prakiraan cuaca juga bakal berbeda tiap harinya. … Kami bakal menghadapi lapangan golf yang berbeda hampir setiap hari.”

Pemegang dua gelar AT&T Byron Nelson Lee Kyounghoon menambahkan, ”Saya sempat bermain sembilan hole kemarin (Selasa), dan ini lapangan yang hebat dan cocok untuk kejuaraan Major. Drive Anda mesti bagus, terutama dengan rough Bermuda dan banyak green yang miring ke arah tertentu. Anda tentu ingin menjaga bola berada di bawah hole, dan tidak ingin melewati green. Dengan embusan angin sekitar 30 mil per jam pekan ini, bola Anda bakal sering meleset dari green. Punya sentuhan yang bagus di sekitar green bakal menjadi kuncinya. Anda mesti memukul bola ke fairway dan meleset di tempat yang tepat. Itu kunci untuk main bagus pekan ini.”

Dustin Johnson, salah satu pemukul jauh, bahkan mengaku, ”Lapangan ini jelas dimainkan sebagai lapangan yang panjang, memang mereka (panitia) bisa memindahkan tee, tapi kalau dimainkan dari tee belakang, ini lapangan yang panjang dan Anda bakal mesti banyak menggunakan mid atau long iron. Semua par 3 juga sulit. Sudah pasti Anda perlu berada dalam permainan terbaik. Fairway-nya agak ramah, tapi Anda mesti memukul ke sana karena sangatlah sulit mengendalikan bola dari rough. Namun, dengan green yang kecil dan bermain long iron, Anda mesti benar-benar bisa mengendalikan bola, jadi Anda mesti memukul ke green dari fairway.”

Juara The Open 2019 Shane Lowry memberi petunjuk bagi kita: ”Pemain yang bakal menang pekan ini adalah mereka yang bisa memukul bola ke 13 atau 14 green per hari, dan pukulannya meleset empat kali dari green, dia juga mesti sering melakukan up-and-down. Itulah yang mesti Anda lakukan (untuk bisa menang). Saya pikir putaran yang bagus ialah (memukul bola ke) 13, 14 green. Jadi, Anda mungkin butuh empat chipping sehari pekan ini, dan Anda mesti benar-benar mahir melakukannya.”

”Satu-satunya yang saya ingat dari Southern Hills adalah Tiger menang di sini tahun 2007,” ujar Hideki Matsuyama. Yah, perspektif tiap pemain juga berbeda-beda, bukan?

 

Lee Kyounghoon dan keluarganya, Round 4 AT&T Byron Nelson 2022.
Lee Kyounghoon sukses mempertahankan gelar AT&T Byron Nelson dengan torehan skor satu stroke lebih baik daripada tahun 2021. Foto: Getty Images.

 

Bagaimana Peluang Asia?
Keberhasilan pegolf Asia pada berbagai turnamen besar di Amerika memang menciptakan hegemoni baru. Dan pekan ini kita kembali menikmati PGA Championship. Inilah kejuaraan Major pertama yang berhasil dimenangkan oleh pria Asia bernama Yang Yongeun alias Y.E. Yang. Sampai sekarang, tiap kali menyaksikan video klip melalui kanal YouTube, saya masih merinding dan tergetar menyaksikan keberhasilannya menaklukkan Tiger Woods—video klip yang anehnya hanya di-like sebanyak 97 kali!

Awal pekan ini, salah satu generasi penerus Yang, Lee Kyounghoon juga mengaku mendapat rasa percaya diri karena sang legenda berhasil mewujudkan kemenangan Major pertama bagi Asia. Lalu Matsuyama kembali menegaskan kapasitas Asia dengan menjuarai Masters Tournament, sekitar 12 tahun setelah peristiwa bersejarah di Hazeltine itu.

”Semoga ketika bisa memenangkan Major, saya bisa melakukan sesuatu yang sama menariknya. Ia (Yang) jelas membuka pintu dan merintis jalan bagi generasi muda Korea dan jelas memberi percaya diri bagi saya dengan mengingat Y.E. yang telah memenangkan PGA Championship,” ujarnya.

Matsuyama sendiri mencatatkan salah satu prestasi terbaiknya pada ajang Major lewat PGA Championship. Setelah finis T4 pada 2016, setahun kemudian ia finis T5.

”Saya sangat menikmati bermain pada PGA Championship. Saya selalu lolos cut tiap tahun main di sini. Kalau tak salah saya mungkin tiga kali finis di sepuluh besar, jadi saya selalu menantikan bisa mengikuti ajang ini,” tutur Matsuyama. (Maaf Matsuyama, Anda hanya dua kali finis di sepuluh besar pada ajang Major ini.)

Peluang terbaik Asia tampaknya masih ada di tangan mereka yang kerap bermain solid pada ajang Major, seperti Matsuyama dan Kim Siwoo. Lee, yang juga sedang dalam kondisi terbaiknya juga tidak bisa diabaikan. Lalu, mengingat Anirban Lahiri menyebut Southern Hills mirip dengan lapangan di Thailand, pemain seperti Sadom Kaewkanjana yang berasal dari Thailand bisa jadi bersinar, persis seperti yang dilakukan Jazz Janewattananond tahun 2019 lalu.

 

Anirban Lahiri, PGA Championship 2022.
Anirban Lahiri siap berlaga pada PGA Championship 2022 menyusul kelahiran lebih awal Avyaan, putranya. Foto: Getty Images.

 

Relevansi bagi Indonesia
Ajang Major akan selalu menjadi tontonan menarik, bahkan bagi para penggemar golf di Indonesia, negara yang sebenarnya memiliki kekuatan yang, sayangnya, masih tidur lelap untuk olahraga golf. Selain menikmati berita-berita dari portal, seperti GolfinStyle ini, atau melalui aplikasi mobile PGA Championship, para penggemar golf di Indonesia juga bisa menyaksikan langsung melalui Mola (berlangganan).

Indonesia pun siap begadang. Atau setidaknya tidur lebih awal, bangun lebih dini untuk mengikuti aksi dari Southern Hills di Tulsa, Oklahoma.

Mungkin sambil bertanya-tanya, akankah LIV Golf Invitiational Series bakal menciptakan daya tarik setinggi ini ketika mereka akhirnya bergulir awal Juni mendatang?

Satu hal yang pasti, sebagai satu dari empat ajang Major golf pria, sejarah panjang dan nilai yang dimiliki oleh PGA Championship—seperti halnya Masters Tournament, The Open Championship, dan U.S. Open—tidak bisa dibeli oleh uang. Seperti yang dikatakan Woods, inilah warisan yang disiapkan untuk generasi mendatang.

Oh, sudah tentu kami pun memiliki pandangan tersendiri mengenai LIV Golf Invitational dan Private Investment Funds yang berada di baliknya. Dan itulah alasan mengapa baru kali ini kami mulai mengangkat topik tersebut—karena kami mengusung semangat ”Unlike any other portals”. Namun, baiklah pandangan tersebut kita simpan dahulu.

Baiklah kita berfokus pada PGA Championship pekan ini. Sebab siapa tahu Lahiri, salah satu pegolf yang memiliki ikatan dengan Indonesia berkat kemenangannya pada Indonesian Masters 2014—gelar pertamanya di luar India—yang bakal menciptakan kejutan, seperti yang ia lakukan di TPC Sawgrass. Atau Padraig Harrington, yang juga punya kenangan indah di Indonesia lewat kemenangan Indonesia Open 2014.

Siapa tahu setelah menyaksikan ajang Major ini, makin banyak generasi muda Indonesia yang terpacu untuk meraih prestasi, dan kemudian memperbaiki raihan medali dari penampilan bersejarah Tim Indonesia pada SEA Games kali ini—selamat atas raihan satu perak dan satu perunggu di Heron Lake Golf Course! Kita kembali ke tradisi mempersembahkan medali, setelah puasa medali tahun 2019!

Oh, dan sebelum terlupakan, tahukah Anda bahwa Rolex juga kembali menjadi Official Timekeeper untuk gelaran Major ini? Ya, perusahaan arloji asal Swiss ini kembali memainkan peranan tersebut sejak edisi ke-103 di Kiawah tahun lalu. Sebagai salah satu pendukung golf terbesar, komitmen mereka menjadi pelajaran bahwa investasi melalui golf bukanlah investasi 2-3 tahun.

Selamat menikmati PGA Championship ke-104!