Publik golf internasional kini menunggu sejarah baru dicatatkan di Melbourne besok. Menjelang putaran final ajang ISPS Handa Melbourne World Cup of Golf, sejumlah negara berpotensi melakukan pencapaian prestasi besar dalam karier golf mereka dan, tentu saja, bagi negara mereka.

Setidaknya, tiga negara berpeluang menorehkan sejarah baru pada ajang yang disokong oleh International Federation of PGA Tours ini. Tim Belgia, yang untuk sementara memimpin di puncak klasemen, Tim Meksiko, dan Tim Korea sama-sama belum pernah sekalipun menjuarai turnamen yang menyediakan total hadiah senilai US$7 juta ini.

Duet Thomas Pieters dan Thomas Detry masih melanjutkan upaya mereka menorehkan kemenangan pertama bagi Belgia. Dan upaya mereka itu seakan dianugerahi oleh surga lantaran mereka, dan secara praktis termasuk 27 tim lainnya, menikmati kondisi cuaca yang jauh lebih bersahabat pada hari Sabtu (24/11) ini.

Memulai putaran ketiga dalam format fourball dengan kedudukan 10-under 134, sama dengan Tim Korea, duo Thomas ini meraih birdie pertama mereka di hole 3, lalu menambah dua lagi di hole 7 dan 8, sebelum akhirnya mengakhiri sembilan hole pertama dengan sebuah eagle. Mendapatkan momentum yang demikian, mereka menambah empat birdie lagi, di antaranya tiga secara berturut-turut dari hole 14-16, di sembilan hole terakhirnya.

Duet Thomas ini seakan melanjutkan masa-masa ketika mereka masih membela tim University of Illinois, sesuatu yang mungkin juga menjelaskan mengapa keduanya bisa menampilkan kombinasi permainan yang sangat solid dan menempatkan mereka di posisi teratas pada akhir hari ketiga ini.

“Saya berharap musim ini tidak segera berakhir sekarang karena saya benar-benar menampilkan permainan yang sangat baik sekarang,” ujar Pieters. Melalui akun Twitter-nya, Pieters memang sempat mengungkapkan bahwa ajang ini akan menjadi ajang terakhir baginya sebelum rehat dan mempersiapkan diri menghadapi musim 2019.

“Saya pikir kepercayaan kepada rekan sendiri sangatlah penting, jadi saya mempercayai permainannya, dan ia mempercayai permainan saya.” – Roberto Diaz

“Semoga saja saya bisa membawanya ke tahun depan. Saya benar-benar merasa percaya diri saya bertumbuh dalam empat, lima turnamen terakhir ini,” sambungnya.

Detry menimpali dengan menyebutkan bahwa ia termotivasi ketika berjalan menuju tee pertama, berjalan melintasi trofi istimewa yang bakal dimenangkan oleh siapa pun yang layak mengangkatnya besok. “Sungguh mengagumkan melihat nama kami di papan klasemen dan di trofi dan membawanya pulang ke Belgia,” ujar Detry.

Skor 63 ini sekaligus mengulangi permainan gemilang mereka pada hari pertama. Ketika itu Pieters dan Detry sama-sama mencatatkan sembilan birdie dengan tanpa bogey. Skor total 19-under 197 ini pun menempatkan mereka lima stroke di depan tiga pesaing terdekat mereka, yaitu Tim Meksiko, Tim Italia, dan Tim Korea.

Seperti halnya Tim Belgia, Tim Meksiko, Tim Italia, dan Tim Korea juga mengusung satu tema yang serupa: rasa saling mempercayai rekan satu timnya, rasa saling menutupi kekurangan masing-masing.

“Saya pikir kepercayaan kepada rekan sendiri sangatlah penting, jadi saya mempercayai permainannya, dan ia mempercayai permainan saya,” Roberto Diaz memuji rekan mainnya, Abraham Ancer yang belum lama ini menjuarai Emirates Australian Open.

Buah saling percaya itu memang membuat mereka sukses membukukan tujuh birdie tanpa bogey untuk melambungkan posisi mereka ke peringkat kedua bersama Italia dan Korea.

“Untuk format yang akan dimainkan besok bakal menyiapkan kami karena saya banyak memukul dengan driver dan dia sendiri pemain iron yang hebat, jadi kunci untuk besok ialah meraih birdie sebanyak mungkin. Jadi, ya kami sudah siap dan tak sabar untuk (putaran final) besok.”

“Saya melakukan pukulan yang bagus ke green dan Siwoo melakukan putt yang hebat, jadi kami tinggal melanjutkan momentumnya besok.” – An Byeonghun

Tak seperti dua tim tadi, kartu skor Tim Italia kali lebih berwarna. Mereka membukukan sembilan birdie dengan satu bogeye dan satu double bogey. Namun, seperti halnya Tim Meksikos, Andrea Pavan juga mengaku bahwa format foursome besok akan menjadi keunggulan baginya dan rekan setimnya, Renato Paratore.

Adapun duet An Byeonghun dan Kim Siwoo masih meramaikan bursa juara besok dan berpeluang mencatatkan prestasi terbaik bagi Korea. Keduanya setelah menjadi tim ketiga yang mencatatkan skor total 14-under 202. Hari ini catatan skor mereka juga jauh lebih baik daripada ketika hanya sanggup bermain even par 72 kemarin. Mereka meraih empat birdie, dua eagle, dan sebuah bogey untuk skor 4-under 68.

“Sepanjang putaran ini kami kesulitan, tapi senang bisa mendapat eagle di hole 16. Tak cukup banyak birdie yang kami dapatkan dan kami tak memasukkan banyak putt juga. Bogey di hole 17 jelas sedikit menyakitkan, tapi kami bisa bangkit dengan birdie di hole 18 yang jelas mempertahankan momentum. Saya melakukan pukulan yang bagus ke green dan Siwoo melakukan putt yang hebat, jadi kami tinggal melanjutkan momentumnya besok,” ujar An.

Kim sendiri memuji posisi An yang menurutnya sangat membantu pada format fourball yang dimainkan pada putaran ketiga.

“Ia mengurangi beban saya hari ini. Birdie dengan sedikit sentuhan di hole terakhir juga bagus. Di hole 16, kami butuh birdie, tapi ia justru membuat eagle,” ujar Kim.

Putaran final besok jelas akan menjadi ajang kejar-mengejar, Tim Belgia yang berusaha untuk memperbesar selisih skor dengan para pengejarnya, dan tiga tim lain yang berusaha untuk mencatatkan kemenangan. Sejarah membuktikan bahwa keunggulan lima stroke tidak sepenuhnya memberi jaminan, selain bahwa skor tersebut memberi keuntungan bagi tim yang memilikinya.

Leave a comment