Kemenangan menjadi sesuatu yang mutlak di panggung elite dunia. Menang, atau nikmati kritikan keras!
Oleh Jim McCabe
Lebih dari 10 tahun lagi, ketika Tiger Woods masih menjadi juara kelas berat dunia yang tak tergoyahkan, dan juga masih berusia 34 tahun, bugar, yang segala pemikirannya tentang golf sangatlah penting.
Pada hari itu, topik percakapannya ialah posisi sulit yang dialami oleh Corey Pavin. Haruskan ia menjatuhkan pilihan kapten Ryder Cup-nya kepada Rickie Fowler, pemuda penuh warna yang sangat populer dan kala itu berusia 21 tahun, yang baru melakoni tahun debutnya pada PGA TOUR?
Woods dihadapkan pada pertanyaan, ”Apakah Anda akan memilih Rickie?” dan mendapati bahwa Pavin cenderung hendak memilih bocah itu. Woods berhenti, menggelengkan kepalanya secara perlahan, dan menyadari satu hal yang mengusiknya.
”Pada satu titik, bukankah Anda seharusnya meraih kemenangan?”
Oh, ya. Tantangan utama pada level elite ialah meraih kemenangan, meskipun mudah bagi Woods untuk mengungkapkan sentiment tersebut. Bukankah ia mesin juara yang sulit ditandingi?
Tapi coba tebak! Sebelas tahun sejak mengungkapkan sudut pandangnya, Woods, meskipun masih berjuang dengan masalah kesehatannya dalam usia 46 tahun, masih menjadi ikon yang pemikirannya soal golf masih dipandang penting. Sentimennya soal nilai sebuah kemenangan juga belum berubah.
”Pada satu titik, bukankah Anda seharusnya meraih kemenangan?” — Tiger Woods.
Kemenangan memang penting. Misi untuk meraih kemenangan hanyalah salah satu dari begitu banyak kisah yang akan menyapu porsi tahun 2022 pada jadwal PGA TOUR dalam kesadaran kita. Fokusnya ada pada Anda, Scottie Scheffler dan juga Anda, Will Zalatoris. Jika kalian ingin menanjak ke peringkat 19 dan 32 pada Official World Golf Ranking tanpa meraih kemenangan, seperti yang Scheffler dan Zalatoris lakukan, inilah alasan untuk segera memperoleh kritikan.
Sentimen rasionalnya ialah bahwa dalam usia mereka yang baru 25 tahun, mereka baru bermain sebanyak 68 (Scheffler) dan 38 (Zalatoris) turnamen. Jadi, berilah mereka waktu. Mungkin begitulah sudut pandang yang adil. Namun, ingat, mereka berada di panggung kelas dunia, dan orang lain bisa lekas memberi pengakuan betapa tekanan bisa lekas bertumpuk dan waktu bisa terus berlalu.
Tony Finau meraih kemenangan pertamanya tahun 2016 dan selama lima tahun hanya menuai finis di sepuluh besar tanpa merengkuh kemenangan keduanya. Ia mulai muak dengan kritikan dan akhirnya merasa lega setelah meraih gelar keduanya musim panas 2021 lalu.
Fowler, yang tak kunjung meraih kemenangan hingga tahun ketiganya, kini telah berusia 32 tahun. Meskipun kemudian meraih lima kemenangan dari 278 turnamen yang ia ikuti, kritikan terus mengingatkan bagaimana ia seharusnya bisa memenangkan lebih banyak gelar dan seiring dengan anjloknya peringkat dunianya, yang kini menempatkannya di posisi 82, perjuangannya untuk mendaki kembali ke jajaran juara jelas akan menjadi lebih sulit.
Bukan berarti misi untuk akhirnya meraih kemenangan membuat Scheffler dan Zalatoris menjadi kisah utama ketika hendak memasuki fase tahun 2022 dari jadwal PGA TOUR. Selama Woods masih ada, dialah yang menguasai Kisah itu—terutama mengingat cedera kaki yang ia derita akibat kecelakaan sembilan bulan silam dan realita bahwa kariernya, sebagaimana yang kita ketahui, sudah berakhir.
”Saya akan bilang begini: sejauh bermain di level PGA TOUR, saya tidak tahu kapan hal itu akan terwujud,” ujar Woods, yang bertemu dengan media untuk pertama kalinya pada 29 November 2021 sejak kecelakaan mengerikan di Los Angeles itu.

Sejauh apapun media mendorong Woods untuk berspekulasi soal kapan dan apakah ia bakal kembali bermain golf, ia tetap bersikukuh pada pengakuan bahwa energinya telah ia arahkan untuk hal yang lain—terutama, untuk bersyukur bahwa ia masih hidup dan bisa melihat kedua anaknya.
”Saya beruntung masih hidup (dan) masih memiliki kedua kaki ini,” ujar Woods, yang mengakui kemungkinan kaki kanannya bisa saja diamputasi. ”Saya sangat bersyukur bahwa Yang Di Atas masih memperhatikan saya.”
Kini kesehatan Woods jelas bukan kisah baru. Sebaliknya, kesehatannya sudah menjadi topik yang dominan sejak 2010. Pertimbangkan bagaimana ia menang 71 kali dalam 239 (0.237 klip) turnamen dari tahun 1996-2009, tapi telah meraih kemenangan hanya 11 dari 115 (0,095) turnamen sejak 2010, sebagian besar karena cederanya, dan Anda bisa melihat betapa semua ini cenderung menjadi tarik-ulur.
Saat ini, perkembangannya sepenuhnya terhenti, meski Woods masih berkeras bahwa meski harus tersisih ”Saya masih bisa menjadi bagian dari Tour.” Jika ini sekadar berarti meramaikan pertandingan dan tetap berkomitmen untuk PGA TOUR ketika para pemain lebih tertarik kepada ajang lain, ia sepenuhnya masih akan ikut.
”Saya mendukung PGA TOUR; di sanalah warisan saya,” ujarnya. ”Kesetiaan saya ada pada PGA TOUR.”
Ketika musim 2021-2022 kembali berlanjut pada 6 Januari di Pulau Maui, Woods bisa bergabung bersama kita untuk melihat semenarik apa plot yang akan dimainkan. Misalnya saja, dengan Brooks Koepka dan Bryson DeChambeau berkesempatan memperbaiki hubungan (pada ajang Ryder Cup) dan bertikai lagi (pada ajang The Match), bisakah mereka menyingkirkan perselisihan dan kembali ke formula yang kerap mereka rengkuh, yaitu mengejar kemenangan dan gelar Major?

Kalau konsistensi lebih menarik bagi Anda, masih ada Dustin Johnson, yang telah meraih kemenangan setidaknya meraih satu kemenangan dalam 14 musim, dan Justin Thomas, yang hanya gagal menang dalam tahun perdananya (2015), namun mencatatkan setidaknya satu gelar dalam enam musim terakhir.
Bagi mereka yang menantikan bintang-bintang baru yang menuju level yang berbeda, ada Sam Burns. Pemain menonjol ketika masih bersama Louisiana State University, mencatatkan rekor 0-71 dalam karier PGA TOUR yang ia lakoni. Namun, ia meraih dua kemenangan dalam 14 turnamen terakhirnya. Tegas, agresif, dan berlimpah percaya diri, Burns menjamin akan menyita perhatian Anda.
Perhatikan juga pada sederet pemain terkuat Amerika di jajaran atas Official World Golf Ranking. Dengan para pemain yang dinamis, yang masih muda dan memiliki kecepatan clubhead yang mengesankan, AS menempatkan 14 dari 20 pegolf teratas OWGR pada awal musim ini.
Mungkin bukan pemain Amerika yang memegang posisi teratas—Jon Rahm memegang kehormatan tersebut—tapi saat ini ada sederet pemain sehat di jajaran 20 besar. Mereka adalah Collin Morikawa, Dustin Johnson, Xander Schauffele, Patrick Cantlay, Thomas, DeChambeau, Jordan Spieth, Finau, Harris English, Koepka, Daniel Berger, Burns, Scheffler, dan Jason Kokrak.
Api semangat, resume yang mengesankan, dan peluang untuk sekeping sejarah pada OWGR adalah skenario yang sangat mungkin. Sebanyak 14 pegolf Amerika di jajaran 20 besar pada awal musim ini sebelumnya hanya pernah tercapai sekali dalam 36 tahun sejarah OWGR, dan hal itu terjadi ketika peringkat ini baru dimulai, yaitu pada bulan April 1986.
Semua ini jelas bukanlah sesuatu yang buruk untuk melanjutkan musim ini.


