Kaito Onishi mengangkat trofi perdananya di kancah JGTO setelah memenangkan ajang Fujisankei Classic.
Kaito Onishi menciptakan kejutan pada putaran final ajang Japan Golf Tour Organization (JGTO), Fujisankei Classic. Pegolf berusia 23 tahun ini mengatasi ketertinggalan tiga stroke dan menorehkan skor 3-under 68 untuk memaksa pegolf Korea Selatan Park Sanghyun memainkan babak play-off.
Onishi menyamai skor total Park, yang hanya bisa menorehkan skor 71 pada putaran final itu, dengan raihan 11-under 273. Dalam babak play-off itu, justru Onishilah yang bersinar lantaran mencapai green dalam dua pukulan di hole 18 par 4, serta sukses menuai birdie dalam putt pertamanya.
Kemenangannya ini menjadikan Onishi sebagai pegolf ketiga yang meraih gelar perdananya pada JGTO. Dua pegolf sebelumnya ialah Yuto Katsuragawa dan Riki Kawamoto. Atas kemenangannya ini, Onishi juga membawa pulang hadiah sebesar ¥22 juta, sebagai hadiah uang terbesar dalam tiga tahun karier profesionalnya. Namun, yang tak kalah penting ialah bahwa ia memastikan keanggotaannya hingga akhir 2024.
Pegolf muda ini benar-benar merasa sumringah untuk bisa memenangkan gelar pertama yang telah lama ia impikan dalam tiga tahun terakhir.
Pada ajang Asia Pacific Open Golf Championship Diamond Cup, ia sempat memimpin dalam tiga putaran, sampai akhirnya harus puas finis di posisi T2. Lalu pada bulan lalu, ia meraih tempat kedua pada ajang Japan Players Championship, satu stroke di belakang Yuki Inamori.
”Seperti mimpi saja, jelas terasa sulit dipercaya bisa menjadi juara Tour,” ujar Onishi, yang menoroehkan enam birdie dan tiga bogey yang melambungkan posisinya. ”Rasanya kerja keras saya telah membuahkan hasil dengan kemenangan hari ini.”
”Anda mesti terus tampil dengan baik dalam semua aspek permainan untuk bisa menang di lapangan yang sulit.” — Kaito Onishi.
Onishi menyebut keberhasilannya untuk bermain tanpa kehilangan fokus merupakan sesuatu yang sangat membantunya mewujudkan gelar perdana ini. ”Prestasi ini berarti saya memiliki kekuatan kolektif. Anda mesti terus tampil dengan baik dalam semua aspek permainan untuk bisa menang di lapangan yang sulit ini,” sambungnya. ”Bisa menang di lapangan yang sulit dan panjang memberi saya banyak rasa percaya diri.”
Sementara itu, Park hanya bisa melihat bahwa ia cuma bisa nyaris menang, setelah sempat menampilkan permainan luar biasa untuk bisa kembali menjuarai turnamen yang sempat ia menangkan tahun 2019 ini. Ia sebenarnya hanya perlu mencatatkan par di hole terakhir, namun justru harus menuai bogey, yang memaksanya harus memainkan hole tambahan.
”Setelah menang tahun 2019, rasanya sangat disayangkan saya tidak bisa kembali mempertahankan gelar karena pandemi COVID-19. Jadi, saya sangat ingin menang ketika kembali tahun ini, tapi tidaklah demikian jadinya,” tutur pegolf yang menuai empat birdie di hole 1, 4, 9, dan 14 ini.
Meski gagal menang, Park juga tak segan memuji Onishi. ”Saya pikir saya memiliki peluang yang lebih baik untuk menang dalam partai play-off karena saya lebih berpengalaman daripada dia,” tutur Park. ”Ternyata justru sebaliknya. Menurut saya dia pemain yang mesti kita cermati pada masa mendatang.
”Bisa memenangkan kejuaraan ini lewat play-off dengan pengalaman yang minim tentu menunjukkan betapa berbakatnya ia.”
Sementara itu, Hiroshi Iwata, juara Shigeo Nagashima Invitational Sega Sammy Cup, hanya membukukan skor 70 sehingga hanya kurang satu stroke untuk ikut meramaikan play-off. Ia sendiri finis dengan skor total 274, satu stroke di atas pegolf peringkat keempat Mikumu Horikawa.


