C.T. Pan sukses melakukan penggalangan dana hingga US$360.000, sekaligus mengadakan klinik golf junior di China Taipei.

Bintang golf asal China Taipei C.T. Pan membuktikan bahwa ketenaran dan kesuksesan tidak membuatnya melupakan tanggung jawab moralnya untuk memberi dukungan terhadap hal-hal yang sangat penting.

Bulan Desember lalu, peraih medali perunggu Olimpiade Tokyo ini menggelar ajang C.T. Pan Charity Pro-Am keduanya. Kegiatan yang berlanjut dengan santap malam itu berhasil mengumpulkan hingga TWD10 juta atau sekitar US$360.000 (sekitar Rp5,17 milyar). Dana tersebut disumbangkan kepada The First Social Welfare Foundation (TFSWF) yang mendukung anak-anak berkebutuhan khusus dan kaum dewasa yang menderita cacat. Sebelumnya, Pan juga berhasil menggalang dana hingga nyaris mencapai US$120.000 untuk yayasan yang sama.

Pemegang satu gelar PGA TOUR ini juga mengadakan klinik golf junior, kegiatan yang sudah ia mulai bertahun-tahun lalu. Baginya aktivitas ini menjadi tradisi yang ia jaga untuk mendukung perkembangan golf di level akar rumput di China Taipei. Keberhasilannya sejauh ini, plus komitmennya untuk terjun langsung seperti ini juga bermaksud memberi dorongan bagi para pegolf potensial untuk menempuh jalur kompetisi golf di tingkat universitas di Amerika guna meningkatkan kemampuan golf mereka.

 

Selain menggalang dana, C.T. Pan juga melanjutkan tradisi klinik golf bagi para pegolf junior, aktivitas yang ia lakukan sejak 2014. Foto: CT Pan.

 

Bersama Michelle, sang istri, yang membantunya dalam dua kegiatan ini, Pan terlihat sangat menikmati berada di negeri sendiri sembari menciptakan perbedaan bagi masyarakat setempat. Pentingnya aktivitas ini bahkan membuatnya tak merasa keberatan harus menghabiskan waktu dua minggu di kamar hotel untuk menjalani karantina seusai pulang dari AS.

”Kami menggalang TWD10 juta, saya sangat puas karena hal ini mencapai target saya untuk tahun ini (2021), dan angkanya melampaui angka tahun sebelumnya, TWD3,2 juta. Yang terpenting, saya merasakan hasrat dari seluruh peserta dan mereka yang mendukung kami, dan kami sangat bersemangat untuk membantu TFSWF. Saya merasa beruntung dan bersyukur karena kegiatan amal ini bisa dilihat dan mendukung lebih banyak orang lagi,” tutur Pan.

Sembari membawa medali Olimpiadenya, Pan juga menjalani wawancara dengan media dalam perjalanannya ini. Ia menuturkan betapa bahagianya dirinya bisa meraih medali perunggu pada Olimpiade Tokyo 2020 bulan Juli 2021 lalu. Apalagi kala itu ia berhasil mengalahkan enam pemain lainnya, termasuk Hideki Matsuyama, Rory McIlroy, Paul Casey, Collin Morikawa, Mito Pereira, dan Sebastian Munoz.

Ia menyebut prestasi Olimpiade itu telah meningkatkan perhatian publik terhadap kegiatan sosial, yang ia mulai kerjakan setelah melihat dampak kegiatan sosial yang dilakukan PGA TOUR di daerah-daerah lokasi penyelenggaraan ajang mereka sepanjang tahun.

”Uang yang dikumpulkan akan diserahkan kepada TSFWF. Organisasi amal ini memperhatikan orang-orang yang mengalami cacat secara fisik maupun mental di Taipei atau bahkan di seluruh China Taipei. Sekarang mereka fokus pada situasi di mana pasien-pasien ini mulai bertambah usia dan orangtua-orangtua yang merawat mereka juga bertambah usianya. Itulah sebabnya, TFSWF membantu para orangtua yang merawat mereka yang mengalami kelemahan. Penggalangan dana ini bisa digunakan untuk membantu mereka melalui berbagai kesulitan yang disebabkan oleh COVID-19,” jelas Pan.

 

Para peserta klinik golf berfoto bersama C.T. Pan. Foto: CT Pan.

 

Sebagai bagian dari penggalangan dana itu, ia juga menyertakan sejumlah kenang-kenangan dari Olimpiade saat lelang pada makan malam.

Pan, yang merupakan lulusan University of Washington, juga meluangkan waktunya bersama para pegolf junior unutk membagikan sejumlah tip dan saran untuk memainkan olahraga ini. Aktivitas ini sudah menjadi tradisi yang ia lakukan sejak 2014.

”Saya pikir kegiatan seperti ini sangatlah berarti. Saya selalu memiliki hasrat untuk melakukan hal ini dna berharap tiap tahun bisa pulang ke Taipei dan membagikan waktu dengan para pegolf junior,” ujar Pan, yang sempat menjadi pegolf amatir No.1 Dunia pada tahun 2013.

”Anak-anak itu mengajukan banyak pertanyaan … beberapa terkait dengan sekolah di Amerika dan beberapa terkait dengan kemampuan golf. Saya senang melihat mereka terlihat siap dan mengajukan banyak pertanyaan. Tujuan utama saya pulang kali ini juga untuk mendiskusikan edisi kedua C.T. Pan Junior Championship. Kami berharap bisa mengundang lebih banyak anak untuk berpartisipasi di AS dan kami berencana mengadakan ajang-ajang kualifikasi di dalam negeri. Saya berharap lebih banyak junior yang mengetahui tentang kegiatan ini karena mereka bisa mendapat perhatian dari para pelatih golf dari berbagai universitas di Amerika kalau mereka main bagus. Saya ingin membagikan berbagai pengalaman dan mengajari bagaimana karier golf bisa dimulai dengan kuliah di AS,” tandasnya.