Park Gunwoong menjadi pegolf Korea pertama yang memenangkan Pondok Indah International Junior Golf Championship.
Park Gunwoong menuntaskan dominasinya di Pondok Indah Golf Course dengan menjuarai kelompok putra pada Pondok Indah International Junior Golf Championship (PIIJGC). Skor even par 71 pada putaran final itu sudah lebih dari cukup untuk memberinya kemenangan meyakinkan. Seperti halnya rekan senegaranya, Kim Gyubeen, yang bertanding di kelompok putri, Park juga menuai kemenangan dengan jarak enam stroke dari wakil Indonesia Jayawardana Dornan.
”Rasanya senang bisa mendapatkan hasil akhir yang sesuai dengan harapan saya, dan senang karena saya bisa memainkan permainan saya sendiri dan memetik buahnya,” ujar Park.
Hujan yang turun sejak pagi benar-benar memberikan pemandangan dan tantangan yang tidak biasa. Sebagian besar peserta harus berjibaku untuk menjaga skornya. Beruntung ia memiliki modal lima stroke sehingga langkah remaja berusia 18 tahun ini tidak mudah goyah. Hal ini terlihat dari dua bogey yang segera ia perbaiki dengan dua birdie di sembilan hole pertamanya.
”Hujan pada putaran final ini sangat mengganggu permainan; saya tidak bisa melihat lapangan dengan baik, tidak bisa menggenggam club saya dengan baik juga, tapi begitu hujan mulai berhenti saya bisa bermain dengan lebih baik,” sambung Park.

Setelah birdie kedua dari hole 9, Park kembali meraih birdie dari hole 11 dan 13, sebelum akhirnya kembali mendapat bogey lewat hole 14. Ia kembali ke posisi 2-under untuk putaran final itu berkat birdie kelima, yang tercipta di hole 15. Sayangnya, ia justru mendapat dua bogey berturut-turut di hole 17.
Itu sebabnya, ketika berhasil melakukan pukulan approach hingga berjarak sekitar kurang dari dua meter di hole 18, wajahnya terlihat bersinar tatkala melangkah ke atas green. Birdie di hole terakhir tak hanya membuatnya menjadi satu-satunya pegolf yang bermain under sepanjang tiga putaran, tapi juga memberinya finis yang meyakinkan untuk kemenangan penting ini.
Sayangnya, tidak ada break pada jalur bola sehingga bola justru bergulir di sisi kanan bibir lubang. Meski demikian, par di hole tersebut sudah lebih dari cukup untuk memberinya gelar internasional pertama dalam karier junior yang tak lama lagi akan ia tinggalkan. Skor 6-under 210 itu memberinya keunggulan enam stroke atas Jayawardana, dan tujuh stroke atas juara bertahan Kenneth Henson Sutianto (69).
”Ya, ini menjadi kemenangan internasional pertama saya. Seingat saya, sejauh ini saya telah memenangkan 4-5 turnamen di Korea. Tahun ini saya hanya menang sekali di Korea, tapi pekan ini saya bisa memenangkan kejuaraan pertama saya di luar Korea,” tutur Park.

”Saya kira hal terbaik yang saya lakukan pekan ini ialah saya bisa mengabaikan seluruh kondisi yang ada, seperti hujan dan angin, dan memainkan permainan saya. Rasanya saya bisa berbangga pada diri sendiri karenanya.
Sejak kejuaraan ini bergulir pada tahun 2012, para pegolf Indonesia (7 edisi) dan Thailand (4) kerap mendominasi ajang ini. Kemenangan Park pada hari Kamis (18/12) kemarin memastikan sejarah baru.
”Pertama-tama, saya merasa terhormat bisa bermain di Jakarta, Ibu Kota Indonesia, juga bermain di lapangan yang sangat bagus, dan akhirnya bisa memenangkan kejuaraan ini juga menjadi suatu pencapaian yang sangat luar biasa. Rasanya bangga bisa membawa pulang trofi ke negara saya. Senang juga mengetahui bahwa saya menjadi pegolf Korea pertama yang memenangkan ajang ini,” sambung Park lagi.
”Saya ingin menutup dengan menyampaikan bahwa tidak ada jawaban yang tepat untuk cara meraih skor ketika bermain golf. Semua tergantung bagaimana Anda menempatkan bola ke fairway, bagaimana Anda membayangkan pukulan berikutnya, saya kira itulah hal yang juga saya pelajari minggu ini.”


