Pemain debutan Lee Kyounghoon menyebut peran sang ayah ikut membawanya menuju Masters Tournament pekan ini.

Perjalanan golf yang ia mulai ketika Lee Kyounghoon baru berusia 13 tahun kini membawanya ke destinasi impian. Pekan ini pegolf Korea itu bakal tampil pada ajang Masters Tournament untuk pertama kalinya. Dan ia ingin menikmati tiap momen di Augusta National bersama sang ayah, Lee Sangmoo.

Lee meraih haknya bertanding pada The Masters setelah menjuarai gelar PGA TOUR pertamanya pada ajang AT&T Byron Nelson bulan Mei 2021. Jelas ia dan keluarganya benar-benar mesti menanti cukup lama hingga sebelas bulan sampai akhirnya mereka bisa melangkah ke Augusta National Golf Club.

Ia selalu menyebut peran sang ayah yang sangat berdedikasi dalam mendukung dan membesarkannya dalam olahraga ini. Tidak mengherankan jika pekan ini ia ingin membalas utang tersebut dengan mengajak sang ayah menjadi kedi di beberapa hole pada ajang Par-3 Contest sehari menjelang edisi Masters ke-86.

”Ayah sayalah yang memperkenalkan golf kepada saya dan saya sangat senang ia bisa hadir pada Masters pertama ini bersama saya. Ia sangat mendukung saya pada tahun-tahun pertumbuhan saya dan saya ingin memastikan ia bersama saya di sini. Pasti menyenangkan bisa ia temani sebagai kedi di beberapa hole The Par-3 Contest dan istri saya (Yo Jooyeon) juga akan menjadi kedi di beberapa hole,” tutur Lee menjelang tradisi Masters yang dimainkan di sembilan hole, par 27 itu.

Lee mempelajari golf ketika ia mengikuti sang ayah ke driving range di dekat restoran yang dikelola oleh keluarganya di Seoul. Pada musim dingin, ayah-anak ini bakal pergi ke luar negeri supaya Lee bisa terus berlatih. Ketika Lee bertanding pada Korn Ferry Tour tahun 2016, sang ayah hadir bersamanya di tiap perjuangan Lee untuk memberi dukungan moral demi mewujudkan impian Amerikanya.

”Saya sangat terkesan melihat Hideki (Matsuyama) menjuarai Masters. … Saya pikir mungkin berikutnya saya akan menjuarai Major.”

”Saya tahu ia mengalami masa-masa sulit dengan makanan karena tidak mudah menemukan restoran Korea atau Asia yang enak (di AS). Malahan ia sempat harus mencabut giginya di tengah salah satu perjalanan kami! Sebagai anak tunggal, orangtua saya memberi segala yang mereka bisa dan saya tidak akan pernah cukup mengungkapkan rasa terima kasih saya kepada mereka,” ujar Lee.

Pegolf berusia 30 tahun ini masih ingat ketika menyaksikan Masters lewat TV. Kala itu ia masih kecil dan membayangkan bersaing untuk memperebutkan Jaket Hijau tradisi juara. ”Saya ingat ketika bulan April tiba, mereka selalu menayangkan Masters. Melihat rumput hijau dan para pemain terkenal itu membuat saya mulai bermimpi besar. Suatu kehormatan bagi saya bisa bermain pada ajang ini,” ujar Lee, yang akan bermain dalam dua putaran pertama bersama Ryan Palmer dan Juara Masters 2000 Vijay Singh.

”Ini pengalaman pertama saya, mimpi yang menjadi kenyataan. Saya hanya menyaksikan Masters lewat TV. Saya sangat senang dan bersyukur bisa mendapat kesempatan ini. Saya akan berusaha tetap tenang dan sabar, dan berusaha sebaik mungkin sampai akhir. Saya pikir dengan begitu saya bisa mendapat skor yang bagus,” tutur peraih medali emas Asian Games 2010 ini.

Sebagai generasi yang ikut bertanding bersama sang juara bertahan Masters Hideki Matsuyama pada masa amatirnya, sukses bintang Jepang itu dalam menulis sejarah baru golf jelas menjadi motivasi bagi Lee. Sukses Matsuyama, yang didahului dengan menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship 2010, ajang yang juga Lee ikuti kala itu, sampai akhirnya meraih kemenangan satu stroke di Augusta National tahun lalu akan selalu menjadi inspirasi bagi banyak pihak, termasuk Lee.

”Saya sangat terkesan melihat Hideki menjuarai Masters. Saya sangat gembira karena kami pernah saling bersaing pada masa amatir dan saya bisa mengenal dia. Dia sangat rendah hati dan rajin berlatih. Dia pekerja keras dan kemenangannya sudah memotivasi saya dan para pegolf Asia lainnya. Saya pikir mungkin berikutnya saya akan menjuarai Major. Sungguh menyenangkan melihat dia mewujudkan kemenangan itu,” tandas Lee.