Jonathan Xavier Hartono menunjukkan perbedaan performa yang signifikan untuk menjuarai Taman Dayu Junior Challenge.
Dari membukukan even par 216 pada turnamen terakhirnya dan hanya finis di peringkat ketiga, Jonathan Xavier Hartono menampilkan permainan yang jauh berbeda ketika berhasil menjuarai Taman Dayu Junior Challenge hari ini (16/3). Pegolf berusia 18 tahun ini tampil sebagai kekuatan dominan sejak putaran pertama, sampai akhirnya memastikan kemenangan delapan stroke dengan skor total 10-under 206 di Taman Dayu Golf Club & Resort.
Pegolf yang akrab disapa Jojo ini berhasil menorehkan 11 birdie dan bermain tanpa bogey dalam 28 hole pertama yang ia mainkan di lapangan Jack Nicklaus Signature ini. Ia baru mendapatkan bogey pertamanya di hole 11, dan mendapat dua bogey lagi di hole 14 dan 18, dengan diselingi dua birdie di hole 15 dan 17 untuk mengukuhkan posisinya menuju putaran final.
Dalam putaran final yang pagi tadi dimainkan secara shotgun, praktis tidak ada yang benar-benar bisa mengejar permainan pegolf yang melakoni debutnya pada Asia-Pacific Amateur Championship 2021 dengan bermain penuh selama empat putaran ini. Ia bermain 2-under dalam tujuh hole yang ia mainkan, yang sekaligus memperbesar peluangnya untuk menuntaskan tengah pekan ini dengan kemenangan.
Meski memegang keunggulan besar, Jojo mengaku tidak memikirkan kemenangan sampai hendak melakukan approach di hole terakhir. Permainannya pada putaran final itu pun memang tidak sesempurna putaran pertama. Ia mendapat bogey keempatnya di hole 8, disusul dengan bogey di hole 13, dan, untuk kedua kalinya secara berturut-turut ia gagal menghindari bogey di hole 18. Namun, dengan birdie ketiganya di hole 15, ia berhasil menutup putaran final dengan even par 72 dan skor total 10-under 206.
”Akhirnya, saya bisa memenangkan sebuah turnamen! Dan secara mental hal ini menjadi sebuah langkah besar,” ujarnya dengan nada lega. ”Saya tidak pernah mengira bakal menang sampai hole terakhir setelah pukulan kedua saya masuk ke green. Dan kemudian saya malah melakukan tiga putt, mungkin terlalu gugup.”
Perasaannya itu jelas bisa dimengerti ketika kita melihat bagaimana permainannya mengalami pasang-surut. Dalam enam putaran kompetitif pada tiga ajang Indonesian Elite Amateur pertama, pegolf yang juga menjadi salah satu atlet binaan Ciputra Golfpreneur Foundation ini hanya sanggup mencatatkan dua putaran dengan skor under, dengan skor 69 sebagai skor terbaiknya. Ia sempat membukukan skor 6-under 66 pada putaran pertama Indonesian Elite Amateur IV, namun harus melanjutkan dengan skor 72 dan menutup dengan skor 78.
Jojo menyebut diskusinya selama beberapa jam dengan Lawrie Montague yang menangani National Golf Institute menjadi diskusi yang sangat membuahkan hasil. Dan perubahan mendasar yang terjadi padanya sama sekali tidak berkaitan dengan urusan teknik, tetapi lebih kepada perubahan pola pikir.
”Akhirnya, saya bisa memenangkan sebuah turnamen! Dan secara mental hal ini menjadi sebuah langkah besar.”
Meskipun pesan-pesan, seperti tetap fokus, bermain dengan sabar, dan tidak berpikir terlalu jauh terdengar terlalu klise, hal-hal tersebut terbukti tidak pernah sesederhana kedengarannya. Dan mempraktikkannya dalam konsentrasi 18 x 3 putaran atau 18 x 4 putaran jelas bukanlah perkara mudah.
”Hari Rabu yang lalu (sepekan sebelum turnamen) saya menjumpai Lawrie. Kami mengobrol sampai tiga jam tanpa memukul satu bola pun. Saya pikir itulah yang disebut golf dengan performa yang tinggi,” jelas Jojo. ”Ia melihat saya bermain tidak sabar dan ceroboh (dalam beberapa turnamen terakhir),” jelasnya.
Perspektif yang kembali dicerahkan ini terbukti membantunya untuk bermain dengan baik … bahkan jauh lebih baik. Akan tetapi, sulitnya mempertahankan hal-hal klise tadi, misalnya, terlihat ketika Jojo gagal memasukkan putt par di hole 18 putaran kedua, meskipun hanya menyisakan jarak sekitar setengah meter, jarak yang bagi pemain selevel Jojo seharusnya menjadi jarak pantang gagal.
”Cuaca cerah pada putaran kedua kemarin dan pada tengah hari cahaya matahari justru memantul dari putter saya sehingga saya kesulitan melihat jalur putt. Saya pikir saya salah melakukan alignment (lantaran garis alignment pada putter-nya terhalang pantulan cahaya matahari), jadi hari ini saya lebih hati-hati lagi,” ujarnya lagi.
Permainannya memang belum sesempurna yang diharapkan. Dari skor 64 ke 70 dan menuntaskan dengan even par jelas bukan sesuatu yang ideal. Namun, hal terpenting yang ia tuntaskan pekan ini ialah bahwa dalam dua putaran terakhir ia berhasil terhindar dari membuang-buang pukulan, yang pada akhirnya membantunya mempertahankan keunggulan dan kembali ke lingkaran para juara.
Tidaklah mengherankan jika ia bisa merasa lega bisa kembali meraih kemenangan. Apalagi kemenangan terakhirnya dalam ajang World Amateur Golf Ranking terjadi pada tahun 2019 silam, tatkala ia menjuarai Indonesian Junior Golf Premier League ke-9 pada tahun itu.
Akhir pekan ini, ia akan berusaha membawa perubahan pola pikir dan momentum kemenangan ini pada ajang Indonesian Junior Golf Premier League #2 yang akan dimainkan di Gombel Golf, Semarang.


