Para jawara di Royale Jakarta Golf Club menegaskan pengakuan mereka terhadap status BNI Indonesian Masters presented by TNE.

Pekan ini, para pegolf yang telah mencatatkan nama mereka sebagai pemenang ajang BNI Indonesian Masters presented by TNE kembali berkumpul. Lee Westwood, Bernd Wiesberger, Anirban Lahiri, Poom Saksansin, dan Jazz Janewattananond menyuguhkan sebuah reuni para jawara. Meskipun minus juara edisi 2017, Justin Rose, kembalinya para juara kali ini menjanjikan level golf yang jauh lebih menarik dibanding sebelumnya.

Westwood menjadi sosok legendaris yang selalu membawa pulang kemenangan sejak pertama kali tampil di Royale Jakarta Golf Club pada tahun 2011. Ia menjadi satu-satunya pegolf yang sukses mempertahankan gelar juaranya ketika memenangkan ajang ini untuk kedua kalinya tahun 2012. Lalu ketika kembali lagi tahun 2015 pegolf asal Inggris ini kembali menjadi kampiun, meskipun kala itu harus berjuang keras dengan kondisi cuaca dan harus menempuh play-off.

”Senang bisa kembali ke sini. Tempat ini sangat istimewa buat saya karena tiga kali ke sini, tiga kali pula saya menang. Jadi, saya memang menantikan pekan ini,” ujar Westwood. ”Lapangan ini cocok untuk permainan saya dan saya selalu suka ke Asia, rasanya nyaman bermain di sini. Saya menyukai lapangannya, orang-orangnya, budayanya sehingga merasa senang bisa kembali.”

Dengan fokusnya berkarier pada LIV Golf, Westwood tak banyak mengikuti turnamen. Dengan musim dingin yang telah merambah Eropa, ia juga tak memiliki kondisi berlatih yang baik sehingga harus memanfaatkan beberapa hari sebelum mulai bertanding Kamis (1/4) besok.

Sementara itu, Wiesberger yang menjuarai edisi 2013, sempat menikmati finis meyakinkan pada ajang International Series Egpyt, dua pekan lalu. Kala itu ia finis sendirian di tempat ke-2, terpaut empat stroke dari Andy Ogletree, yang pekan ini juga meramaikan persaingan di Jakarta.

”Ada suatu perkembangan yang sangat besar dan bagus untuk Tour dan para pemainnya, beberapa minggu lalu saya juga berkesempatan untuk ikut bertanding dalam International Series (Egpyt) dan para pesertanya sangat kuat dan level golfnya sangat tinggi, sesuatu yang bisa diharapkan pada pekan ini juga,” ujarnya.

 

 

”Sama seperti Lee (Westwood), saya juga tidak banyak berlatih di Eropa karena cuaca yang makin dingin, saya malah bersiap untuk ski pekan depan, tapi saya pikir setelah pekan ini dimulai, permainan saya akan kembali.”

Bagi Lahiri, kemenangannya tahun 2014 menjadi salah satu kemenangan paling berkesan bagi pegolf asal India ini. Kemenangan tersebut begitu dramatis lantaran di bawah sorotan lampu di green hole 18, ia sukses membuat eagle dan menang satu stroke atas Baek Seukhyun dan Cameron Smith.

”Tahun 2014 itu sepertinya sudah sangat lama sekali, tapi beberapa kenangan terasa masih sangat segar. Sangat dramatis waktu itu, hari mulai gelap dan finis di posisi yang begitu ketat. Momen itu menjadi bagian besar dari karier Cam Smith, yang waktu itu masih menjalani tahun pertamanya sebagai profesional, dan kita tahu di mana posisinya sekarang,” tutur pegolf yang sempat finis di tempat kedua pada ajang THE PLAYERS Championship ini.

Setelah kemenangan Lahiri tersebut, para penggemar golf di Asia masih harus bersabar hingga 2016 ketika Poom mewujudkan kemenangan pertama bagi Thailand. Permainan fenomenalnya enam tahun silam memberinya kemenangan lima stroke atas tiga pemain lain, termasuk dua rekan senegaranya—Phachara Khongwatmai dan Suradit Yonghcaroenchai, serta pegolf Jepang Masahiro Kawamura—dengan skor 18-under.

”Saya suka lapangan ini. Saya juga senang bisa kembali ke sini, bisa memenangkan turnamen besar ini membuat saya bahagia. (Itu sebabnya) saya selalu berlatih setiap hari (untuk menghadapi pekan ini),” tutur Poom, yang juga menjuarai ajang ini tahun 2018 dengan mengungguli bintang Ryder Cup Justin Rose dan Henrik Stenson.

Rekan senegara Poom, Jazz, harus menunggu tiga tahun untuk bisa mempertahankan gelarnya pada pekan ini. Tahun 2019 menjadi tahun fenomenal bagi pegolf berusia 27 tahun ini. Kala itu ia bisa memenangkan empat turnamen dan menembus 50 besar dunia. Sayangnya, seiring pandemi, performanya juga mengalami tantangan.

 

Anirban Lahiri, Juara BNI Indonesian Masters presented by TNE 2014.
Anirban Lahiri menilai BNI Indonesian Masters presented by TNE telah menemukan jalannya untuk berada di status prestisius dalam jadwal Asian Tour. Foto: GolfinStyle.

 

”Saya berusaha mencari permainan saya lagi setelah semuanya mulai kembali menjadi normal. Mengawali tahun ini saya berharap bisa mengulangi pengalaman menang empat kali tahun 2019 itu, tapi saya sekadar berfokus untuk mengembalikan permainan saya ke kondisi yang sebelumnya, berusaha mencari rahasia golf kalau bisa,” jelasnya.

Kesaksian Atas Kualitas Turnamen
Status BNI Indonesian Masters presented by TNE yang kini menjadi bagian dari International Series menciptakan daya tarik tersendiri bagi para peserta yang tampil pada pekan ini. Meski demikian, keprestisiusan ajang ini sebenarnya telah dibangun sejak 2011 ketika tradisi menghadirkan pemain kelas dunia dimulai dengan membawa Westwood ke Jakarta.

Westwood menilai bahwa status sekarang ini tercapai berkat tim yang selama ini bekerja di belakang layar. Peningkatan statusnya menjadi bagian dari International Series hanya menjadi magnet tambahan bagi ajang ini.

”Saya pikir inilah kesaksian dari betapa prestisiusnya turnamen ini dalam hal bagaimana ajang ini diselenggarakan, bagaimana ajang ini disiapkan, dengan ajang ini menjadi International Series, otomatis memikat para pemain bagus tiap tahunnya, mereka suka lapangannya, mereka suka mereka diperlakukan di sini, …, dan saya pikir kalau ada kesempatan untuk kembali, mereka akan kembali ke sini,” tutur Westwood.

”Memang kami duduk di sini sebagai para pemain yang sudah pernah memenangkan turnamen ini di Royale Jakarta, tapi juga menjadi sebuah testimoni dari turnamen ini yang melebihi dari kami berlima di sini karena banyak pemain berbakat, pemain Asia berbakat yang sudah menang berkali-kali di sini,” timpal Wiesberger.

”Sudah pasti saya juga ingin bisa meraih kemenangan yang sama, seperti Lee dan Poom, tapi melihat para peserta kali ini, sudaha pasti akan menjadi tantangan untuk mewujudkan hal tersebut pada pekan ini.”

 

Jazz Janewattananond dan Poom Saksansin.
Poom Saksansin (kanan) mengaku tidak memikirkan persaingan pekan ini dan berfokus hanya untuk bermain dengan baik. Foto: GolfinStyle.

 

Jazz menilai keputusan menempatkan turnamen ini sebagai turnamen terakhir menjadi salah satu kunci lain yang mendorong para pemain top untuk ingin tampil di Jakarta, ”sehingga semua orang ingin ke sini dan menyelesaikan tahun ini dengan hasil yang bagus,” ujarnya. ”Setiap kami dan 140 pemain lainnya juga ingin menang, jadi sudah pasti akan menjanjikan permainan yang hebat dan tantangan yang tak kalah hebatnya juga.”

Meski menyadari persaingan pekan ini akan sangat ketat, mengingat kualitas pesertanya, Poom menegaskan mentalitas yang menarik ketika mengungkapkan, ”Saya hanya ingin bermain dengan baik. Saya pikir hal itu sudah cukup untuk saya bisa bahagia.”

Juara edisi 2014, Lahiri, menilai BNI Indonesian Masters presented by TNE telah mencapai status yang sangat prestisius karena beberapa hal.

”Saya ingat ketika datang ke sini untuk pertama kalinya. Beberapa turnamen menonjol pada jadwal Asian Tour karena para pemain bintang dan pesertanya, dan khususnya lapangan yang kami mainkan, dan saya pikir turnamen ini merupakan salah satunya. Anda mungkin berpikir tentang turnamen prestisius, seperti Singapore Open, dan dulu juga ada Thailand Golf Championship di Amata Spring. Kenapa? Karena para pemain yang datang dan jenis lapangan yang kami mainkan, dan saya pikir turnamen ini telah menemukan jalannya untuk menjadi turnamen yang naik kelas, kalau mau dibilang, dalam jadwal Asian Tour sepanjang tahun,” jelas pemegang tujuh gelar Asian Tour ini.

Kemenangan pada pekan ini jelas akan menjadi prestasi istimewa. Bukan hanya lantaran meraih kemenangan pada Asian Tour dan menjuarai International Series, melainkan juga karena menjuarai sebuah turnamen yang spesial.