Rory Hie berharap tampil konsisten selama empat putaran untuk meraih hasil maksimal pada Mandiri Indonesia Open, yang dimulai Kamis (4/8) besok.
Finis T12 dan Chikungunya mewarnai perjalanan Rory Hie ketika jadwal kompetisi internasional di Indonesia mulai bergulir. Permainannya pada turnamen Asian Development Tour pertama bulan Juni lalu seakan menjanjikan musim ini ia bakal kembali menjadi salah satu kekuatan Indonesia dengan catatan skor total 11-under 277. Sayangnya, sepekan kemudian ia harus absen.
”Saya mengikuti ajang Asian Development Tour di Jakarta pada awal Juni lalu dan entah kenapa merasa tidak enak badan. Ternyata saya terkena virus Chikungunya,” tutur Rory.
”Virus itu disebabkan oleh gigitan nyamuk, tapi sekarang kondisi saya sudah lebih baik. Dua pekan itu saja saya merasa benar-benar sakit. Rasanya tidak ada energi sama sekali dan tiap hari kepala saya sakit. Jadi, sekarang saya senang bisa melewatinya tanpa masalah.”
Seiring waktu, ia mulai pulih dan terus membangun kondisi fisiknya untuk lebih siap menghadapi Mandiri Indonesia Open, yang dimulai Kamis (4/8) besok.

Seperti halnya bagi seluruh pegolf Indonesia, ajang nasional terbuka ini merupakan ajang yang sangat penting. Setelah Kasiadi pada tahun 1989, belum pernah ada pemain Indonesia yang berhasil memenangkan ajang ini. Rory sendiri masih tercatat sebagai satu-satunya pegolf Indonesia yang mencapai finis terbaik setelah sang pemain legendaris itu.
Tahun 2011 Rory sempat memberi harapan bagi publik Indonesia sampai penalti di hole terakhir memberi kemenangan kepada Thaworn Wiratchant.
”Saya suka bermain di rumah sendiri. Rasanya saya bisa bermain lebih baik ketika kami bertanding di sini. Saya selalu berpikir bahwa hal ini menjadi keuntungan besar buat kami, para pemain lokal, karena kami sedikit lebih mengetahui lapangan ini ketimbang para pemain asing,” ujar pegolf berusia 33 tahun ini.
”Meski demikian, lapangan ini tidaklah sesulit itu. Anda bisa bermain sekali di sini dan tahu mesti bermain seperti apa.”
Pegolf yang beralih profesional tahun 2008 ini memiliki sejumlah status pertama pada Asian Tour. Ia menjadi pegolf Indonesia pertama yang meraih kartu Asian Tour, serta menjadi pegolf Indonesia pertama pula yang menjuarai ajang Asian Tour. Kemenangan terbesar itu ia raih pada ajang Classic Golf and Country Club International Championship 2019.
”… permainan saya sudah kelihatan. Tinggal menampilkannya selama empat putaran saja.” — Rory Hie.
Sayangnya, ia juga kemudian mengalami kesulitan untuk bermain konsisten usai kemenangannya kala itu. Cedera yang sempat lama menghinggapi dirinya juga menjadi salah satu tantangan yang ia hadapi. Toh ia mengaku menghadapi berbagai rintangan itu dengan bersikap lebih positif.
”Saya pikir saya hanya harus mengatasi tekanan dengan lebih baik, jadi saya bisa tampil dengan baik, dan tampil seperti yang saya lakukan dalam dua putaran pertama,” imbuhnya lagi.
Meskipun belum meraih hasil maksimal dalam sejumlah turnamen yang ia ikuti tahun ini, ia merasa yakin kalau permainannya akan segera kembali.
”Bisa dibilang saya mendapat sejumlah putaran yang bagus menuju ke sini. Kami bermain Pro-Am pekan lalu dan kondisi lapangannya sangat berat, tapi saya bisa main bagus pada putaran pertama. Saya juga main bagus waktu ajang ADT bulan Juni lalu, cuma belum mendapat skor sebagus yang saya harapkan, cuma permainan saya sudah kelihatan. Tinggal menampilkannya selama empat putaran saja,” tandas Rory.
Rory akan memulai putaran pertamanya besok dari hole 10 mulai pukul 07:40.


