Lee Kyounghoon telah meraih status bintang PGA TOUR berkat prestasinya meraih satu kemenangan pada musim 2020-2021. Kini ia berniat meraih gelar keduanya!
Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director, Marketing Communications Asia Pacific PGA TOUR, berdomisili di Malaysia.
Ketika Lee Kyounghoon melihat kembali titik awal perjalanan golfnya, ia hanya bisa mengagumi bagaimana jalan hidupnya membuatnya memperlajari olahraga ini dengan pelatih swing bergaya Ted Lasso membawanya mencapai ketenaran pada PGA TOUR.
Bulan Mei 2021 lalu, Lee menjadi pegolf Korea ke-8 dan terkini yang menjuarai sebuah ajang PGA TOUR, menyusul kemenangannya pada ajang AT&T Byron Nelson. Kemenangan itu ikut mengukuhkan posisinya sebagai salah satu bintang baru. Dan semua itu bermula dari driving range setempat ketika ia dalam usia 13 tahun berusaha menurunkan berat badannya setelah sempat berniat menjadi atlet tolak peluru.
”Ayah saya punya restoran dan di sebelahnya ada driving range. Saya mengikuti dia untuk main-main dan akhirnya malah mengambil kelas. Motif utama saya ialah latihan dan menurunkan berat bada, tapi berat badan saya tidak turun-turun,” ujar Lee sambil tertawa. Berat badannya waktu remaja ialah 99,7 kg!
Setelah mengalami demam golf, Lee mendapatkan dorongan melalui cara yang inspirasional dan membangkitkan semangat dari seorang pelatih profesional lokal, yang mengusung gaya mengajar yang bisa diibaratkan dengan Ted Lasso. Ted Lasso merupakan pelatih sepakbola fiktif yang tampil dalam sebuah seri TV drama komedi olahraga streaming yang berjudul sama.

”Alasan saya meneruskan karena pro yang mengajar para junior, dan ia terus memberikan masukan positif tentang swing saya. Dia sering memberikan semangat dan memuji dan saya merasa senang. Itu sebabnya saya terus menggeluti golf dan ia kerap menyombongkan saya kepada yang lain, dan hal itu mendorong saya untuk berlatih dengan keras. Saya ingat ibu saya adalah seorang guru biola dan ia berusaha mengajar saya, namun upayanya tidak membuahkan hasil. Ketika ia meminta saya melatih sebuah partitur hingga sepuluh kali, saya melakukannya tanppa konsentrasi. Golf justru berbeda. Golf menyenangkan dan saya bisa melakukannya selama berjam-jam.”
Dalam beberapa tahun kemudian, bakat Lee yang memukau itu membawanya menjadi bagian dari Tim Korea peraih medali emas Asian Games 2010 di China. Prestasi ini membuatnya terbebas dari mengikuti wajib militer. Ia segera beralih profesional dan mengemas dua kemenangan pada Korean Golf Tour, dan dua kemenangan lain pada Japan Golf Tour pada rentang 2012-2016. Ia kemudian melakukan lompatan ke Amerika dan menembus Korn Ferry Tour tahun 2016. Dua tahun kemudian, tiga kali finis runner-up memberinya kartu PGA TOUR impiannya, sesuatu yang sangat ia kenang, terutama karena pengorbanan dan dukungan yang orangtuanya berikan selama bertahun-tahun.
”Seperti kebanyakan orang, kedua orangtua saya telah banyak berkorban. Mereka mendukung saya dengan segala sesuatunya. Mereka tidak pernah meminta saya berhenti bahkan ketika permainan saya sedang tidak bagus. Ayah ingin menjadi pemain baseball, tapi kedua orangtuanya menentangnya. Lantaran ia tak bisa melakukan apa yang ia inginkan, ia memutuskan untuk mendukung putranya, saya,” jelas Lee, yang merupakan anak tunggal.
”Ia mendorong dan membantu saya dengan berbagai cara yang mungkin ia lakukan. Ia selalu ada sejak awal. Kami akan pergi keluar negeri untuk berlatih tiap musim dingin dan ia menjadi supir saya ke berbagai turnamen. Ketika ayah bersama saya pada Korn Ferry Tour, ia mengalami kesulitan dengan makanan. Sungguh sulit menemukan restoran Korea atau Asia yang enak di pinggir kota, dan saya ingat ia terpaksa mencabut giginya di tengah perjalanan! Mereka memberikan semua yang bisa mereka beri, dan saya takkan bisa cukup mengungkapkan rasa syukur saya.”
Lee kini menjadi salah satu pegolf paling riang pada PGA TOUR, dan ia gemar bergurau saat melakoni wawancara dengan mengungkapkan dua target besar dalam hidupnya: menjadi pegolf No.1 Dunia dan pegolf terseksi di dunia yang pernah hidup. ”Ketika menang bulan Mei lalu, target-target saya ini menjadi viral karena banyak pegolf yang merasa geli karena cerita ini,” ujarnya.
”Saya akan berusaha untuk berfokus meraih kemenangan dan jika bisa masuk 50 besar, mungkin posisi itu akan menjamin tempat saya pada Presidents Cup.”
”Menjadi seksi berarti menjadi pria berotot. Itu impian saya, tapi faktanya tidak cukup memungkinkan. Saya ingin berotot, tapi saya suka makan banyak. Contohnya saja, saya tidak ingin makan besar pada malam hari kalau sudah banyak makan pada siangnya, tapi saat waktu makan malam tiba, biasanya saya merasa lapar lagi. Saya akan berlatih keras, tapi tetap saja banyak makan.”
Dengan THE CJ CUP @ SUMMIT di Las Vegas, yang mulai berlangsung Kamis (14/10) ini akan menjadi pertandingan ”rumah” bagi Lee dan 11 pegolf Korea lainnya—turnamen ini dimainkan di luar Korea untuk tahun kedua secara berturut-turutr lantaran pandemi—Lee berharap bisa kembali meraih hadiah utama seiring bergulirnya musim 2021-2022. Sejauh ini, performanya pada musim baru ini memang menjanjikan, dengan finis T15 pada ajang pekan lalu, Shriners Childern’s Open, yang juga digelar di Vegas.
”Musim lalu merupakan musim terbaik dan saya benar-benar merasa gembira. Itulah tahun terbaik saya di lapangan golf, dan kami juga mendapatkan seorang bayi,” tutur Lee, yang menyambut kehadiran putri pertamanya bersama Yu Jooyeon, sang istri, yang mereka namakan Celine Yuna Lee, pada bulan Juli lalu.
”Saya tak sabar mengarungi musim yang baru ini, dan targetnya ialah meraih kemenangan lain dan menembus 50 besar di dunia. Bermain bagi Korea, mewakili Tim Internasional pada ajang Presidents Cup tahun depan juga akan menjadi ambisi yang besar. Saya akan berusaha untuk berfokus meraih kemenangan dan jika bisa masuk 50 besar, mungkin posisi itu akan menjamin tempat saya pada Presidents Cup. Saya akan merasa luar biasa terhormat jika bisa mewakili negara saya,” tandas Lee, yang sukses meraih finis di posisi 31 pada klasemen akhir FedExCup musim lalu.


