Selama tiga tahun berkiprah pada PGA TOUR, Im Sungjae telah menorehkan sejumlah rekor memukau. Inilah pengalamannya, target-targetnya ke depan, serta saran berharga bagi para pegolf lain yang ingin mengikuti langkahnya.
Oleh Im Sungjae.
Sudah tiga tahun berjalan sejak saya mulai berkompetisi pada PGA TOUR. Salah satu target saya tiap musim ialah bisa lolos untuk mengikuti TOUR Championship—yang hanya terbatas pada 30 pegolf teratas pada peringkat FedExCup—dan saya senang bisa mencapai target tersebut dalam tiga tahun saya pada PGA TOUR. Seiring dengan musim yang baru bergulir, saya kini berharap menjadi pegolf Korea pertama yang bermain dalam ajang tersebut empat tahun berturut-turut.
Sudah pasti akan lebih keren lagi kalau bisa mencatatkan lebih banyak rekor pada PGA TOUR. Saya menjadi pegolf Korea pertama yang menjadi Rookie of the Year dan Player of the Year pada Korn Ferry Tour tahun 2018. Dan saya meraih finis terbaik yang pernah dilakukan pegolf Korea pada Masters Tournament bulan November 2020 setelah finis di tempat kedua.
Sebagai tambahan, saya memainkan lebih banyak turnamen daripada pemain mana pun tahun 2020, dan pada musim 2020-2021 yang baru lalu, saya mencatatkan 498 birdie, yang terbanyak yang dilakukan seorang pegolf pada PGA TOUR dalam satu musim. Saya tak yakin kalau ada pemain yang memikirkan rekor saat bermain, tapi semua itu menjadi bonus yang menunjukkan kerja keras saya membuahkan hasil. Saya bangga pada diri sendiri sehingga bisa memegang rekor-rekor ini dan sudah jelas memotivasi saya untuk menjadi pegolf yang lebih baik lagi.
Saya juga ingin menjadi pegolf Korea pertama yang memainkan turnamen PGA TOUR paling banyak. Itu artinya saya harus bertahan pada Tour ini dalam waktu yang sangat lama. Sudah jadi target saya juga untuk melampaui rekor yang dipegang K.J. Choi dengan delapan gelar PGA TOUR-nya.
Musim Super, Prestasi Super
Kalau melihat musim lalu, saya merasa kesulitan seperti halnya pemain lainnya. Kami menghadapi Musim Super yang menampilkan enam turnamen Major dan memang bagus bisa finis di tempat kedua pada ajang Masters, tapi target saya masih menjadi juara Masters. Banyak orang yang mulai mengenali saya setelah performa tersebut, dan saya memikat banyak penggemar dari seluruh dunia, yang rasanya luar biasa menyenangkan. Begitu mendapat lebih banyak perhatian, saya pun memiliki hasrat yang lebih besar lagi untuk bisa main bagus, dan hal ini ternyata menimbulkan beban bagi saya.

Saya ingin finis di jajaran 15 besar tiap pekan dan berusaha untuk menjaga agar momentumnya terus berlangsung. Meskipun hal ini berjalan dengan baik musim lalu, ada beberapa turnamen yang saya mainkan dengan baik dalam dua putaran pertama dan hasilnya tidak berjalan dengan baik pada putaran ketiga. Untungnya, feel dan permainan saya kembali seiring dengan berjalannya musim lalu dan merasa saya bisa bermain lebih baik pada musim baru ini.
Saya gembira melihat perkembangan karier saya pada saat ini, dan saya ingin mencapai lebih banyak target lagi, selangkah demi iselangkah. Saya siap menjadui pemain yang lebih baik dan pribadi yang lebih baik.
Ketika mengamati para pegolf top di dunia, tidaklah banyak perbedaan ketika melakukan pukulan. Kalaupun ada, mungkin kemungkinan melakukan up-and-down untuk mengamankan par menjadi sesuatu yang sangat mahir mereka lakukan. Bola mereka masuk ke rough atau bunker dan mereka melakukan up-and-down dengan sangat baik. Mereka juga tidak meleset dalam melakukan putting pada saat-saat krusial. Kemampuan itu membangun momentum dan mempertahankannya selama putaran berlangsung. Saya tahu kalau saya harus menjadi lebih baik dalam area-area seperti ini dan tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan berlatih keras untuk menampilkan permainan golf terbaik saya dalam tahun-tahun ke depan.
Tetap Memilih Pelatih dari Korea
Terkadang saya mendapat pertanyaan, kenapa tidak berlatih dengan pelatih swing di AS. Menyampaikan hal-hal terkait swing golf adalah sesuatu yang sangat peka dan rumit. Karena masih belajar bahasa Inggris, saya masih belum cukup mahir untuk menjelaskan bagaimana yang saya rasakan, dan itu sebabnya saya memiliki pelatih swing saya, Choi Hyun, di Korea. Saya sudah berlatih dengannya sejak berusia 17 dan saya akan mengirimkan video-video swing saya kepadanya, memintanya mengecek, dan kami akan membahasnya. Sejauh ini hal tersebut berjalan dengan baik di antara kami.
Pelatih saya juga menjadi jimat keberuntungan saya. Ketika ia melihat saya bermain dalam sejumlah turnamen, saya bisa membukukan skor 8-under ketika bermain pada Japan Golf tour dan 12-under pada Korn Ferry Tour Qualifying School Final ketika ia hadir. Kami memang tim yang bagus.
”Saya memang menerima sejumlah penghargaan, tapi tidak pernah dianggap sebagai pemain yang sangat menjanjikan ketika masih junior. Justru setelah beralih profesionallah permainan saya meningkat, ….”
Satu perubahan yang saya lakukan tahun ini ialah bahwa saya mulai berlatih dengan pelatih kebugaran. Kapan pun ketika saya sedang mengikuti turnamen, saya akan menjumpai dia tiap pagi dan petang untuk latihan 30 atau 40 menit. Dan kalau sedang tidak ada turnamen, kami berlatih lebih keras. Ketika hari-hari turnamen mendekat, kami banyak melakukan peregangan dan latihan dengan band resistance untuk menjaga tubuh saya tetap segar dan bisa melakukan swing dengan bebas. Selama jeda singkat, saya berlatih dengan pelatih kebugaran ini secara online selama tiga pekan dengan tujuan menjadi lebih kuat dan mencegah cedera.
Tersanjung Sebagai Anutan
Saya merasa tersanjung ketika mendengar ada anak-anak atau pegolf lain yang menyebut saya sebagai anutan mereka. Ada rasa bangga dan saya ingin masih berada bermain pada PGA TOUR ketika mereka bergabung dan bersaing bersama saya. Saya akan berjuang untuk berada di sana bagi mereka dan mengusung tanggung jawab untuk menjadi teladan yang baik.
Ketika masih junior, saya tidak pernah menjadi No.1. Saya memang menerima sejumlah penghargaan, tapi tidak pernah dianggap sebagai pemain yang sangat menjanjikan. Justru setelah beralih profesionallah permainan saya meningkat, dan saya merasa bersyukur karenanya. Saya akan menyarankan siapa pun yang ingin menjadi pegolf profesional agar menetapkan target-target untuk diri sendiri dan mencurahkan banyak usaha pada permainan sendiri.
Melalui pengalaman, saya mendapati pemain-pemain bagus selalu menentukan rencana dan menetapkan target-targetnya. Ketika berlatih, mereka tak hanya memukul bola. Mereka mematok target dan fokus pada target itu. Sebagai contoh, ketika ingin melatih pukulan 100 yard, mereka akan melatihnya sepanjang hari. Mereka memastikan merasa percaya diri dalam melakukan pukulan dan saya bisa merasakan kalau mereka berada di zonanya sendiri saat berlatih. Bukan soal mencucrahkan banyak waktu untuk berlatih, melainkan mendapatkan waktu berkualitas dengan keyakinan diri. Mentalitas yang kuat sangat dibutuhkan, tak hanya ketika berkompetisi, tapi juga saat berlatih.
CATATAN
Im Sungjae, yang baru berusia 23 tahun, merupakan pemegang satu gelar PGA TOUR dan mewakili Tim Internasional pada Presidents Cup 2019 dengan rekor 3-1-1. Anda bisa menyaksikan Im dan aksi-aksi PGA TOUR lainnya melalui GOLFTV powered by PGA TOUR.


