Anthony Quayle mempertahankan peluangnya untuk meraih gelar JGTO pertamanya. Kini ia berjarak 18 hole dari kemenangan yang ia nanti-nantikan itu.

Impian Anthony Quayle untuk meraih gelar JGTO pertama sekaligus debut dalam ajang Major dalam karier profesionalnya hampir terwujud. Pegolf Australia berusia 27 tahun ini berhasil mempertahankan posisi teratas pada ajang Gateway to The Open Mizuno Open pada putaran ketiga tadi (28/5). Skor 3-under 69 yang ia torehkan di JFE Setonaikai Golf Club itu membantunya mengoleksi 12-under 204, sekaligus keunggulan empat stroke atas tiga pegolf tuan rumah, yaitu Shintaro Kobayashi, Shingo Katayama, dan Ryuichi Oiwa, serta rekan senegaranya Brad Kennedy.

Perjuangannya pada putaran ketiga itu benar-benar bak pasang dan surut. Ia harus menorehkan birdie, bogey, dan birdie dari hole 2. Birdie di hole 7 dan 10 membantunya meninggalkan para pesaing terdekatnya.

Quayle kemudian mencatatkan bogey di hole 14. Namun, dengan sebagian besar peserta mengalami kesulitan untuk menaklukkan lapangan yang kali ini berangin, bogey tersebut tidak mengusik posisinya. Terutama setelah ia langsung membalas dengan birdie di hole 15, yang turut memberinya keunggulan empat stroke menuju putaran final.

Sebelumnya, Quayle telah menegaskan betapa penting bermain sabar pada pekan ini. Dan sekali lagi, ia berhasil mempraktikkannya dan menuai hasilnya. Kini ia bakal melihat kembali pengalamannya meraih kemenangan di Australia untuk mewujudkan gelar JGTO pertamanya.

”Yang mesti saya lakukan ialah mengendalikan emosi dan berusaha bermain dan membukukan skor seterbaik mungkin besok.” — Anthony Quayle.

”Beberapa bulan lalu saya menjuarai satu turnamen di Australia, dan memiliki keunggulan enam stroke menuju putaran final kala itu. Jadi, saya belum terlalu lama berada dalam posisi yang sama,” tutur Quayle.

”Saya mungkin belum pernah menang di Jepang sebelumnya, namun sudah dua kali menang di Australia. Pengalaman juara ini bisa membantu saya bermain besok dan tampil lebih percaya diri karena sudah pernah ada dalam posisi serupa, dan menang dalam posisi ini juga, jadi pasti pengalaman itu membantu.”

Pada putaran ketiga tadi, Quayle menjadi satu dari hanya dua pemain yang berhasil main di bawah skor 70. Pemain lainnya ialah Kobayashi, yang kini menjadi salah satu pesaing terdekatnya.

”Saya hanya berusaha main sabar, meskipun angin membuat suasanya menjadi sedikit lebih sulit. Saya menciptakan lebih banyak peluang untuk mendapat skor yang lebih baik, dan saya juga menghindari beberapa situasi sulit,” sambungnya. ”Rasanya permainan saya cukup bagus untuk menang di level yang sangat tinggi, dan hal yang terus menjadi fokus saya ialah berusaha tetap sabar, dan tidak berpikir terlalu jauh atau gampang marah, terlalu kecewa atau terlalu senang, cukup berada di tengah-tengahnya saja.”

Posisinya sekarang, terutama dengan keunggulan empat stroke, terkadang membuat seorang pemain terbawa suasana. Apalagi dengan debut Major pada edisi ke-150 The Open Championship. Namun, Quayle bertekad untuk tidak terlalu memikirkan dampak dari permainannya besok.

”Menurut saya hal yang mesti saya usahakan besok ialah menjuarai turnamen golf ini, dan apa pun yang terjadi,” ujarnya. ”Saya tidak perlu khawatir tentang hal lainnya. Yang mesti saya lakukan ialah mengendalikan emosi dan berusaha bermain dan membukukan skor seterbaik mungkin besok.”

”Saya mesti bermain dua kali lebih bagus daripada Anthony Quayle sejak awal.” — Brad Kennedy.

Sementara itu, rekan senegara Quayle, Kennedy, harus mendapat tiga bogey di sembilan hole terakhirnya, yang membuatnya harus berbagi tempat kedua dengan tiga pegolf lainnya. Catatan ini bisa dibilang mengecewakan, mengingat sebelumnya pegolf berusia 47 tahun ini sempat bermain solid dan menorehkan empat birdie dengan hanya satu bogey di sembilan hole pertamanya.

”Saya tak banyak melakukan kesalahan. Main saya justru bagus dalam kondisi berangin ini. Memang sulit. Anginnya berubah-ubah. Namun, saya harus mengambil beberapa hal positif dan berusaha tampil lebih bagus lagi besok,” ujar Kennedy.

”Masih banyak PR untuk besok. Saya mesti bermain dua kali lebih bagus daripada Anthony sejak awal. Sebab ketika ia bangkit, ia cenderung terus melaju. Jadi, saya berharap bisa main 5 ataut 6-under untuk memberi tekanan kepadanya.”

Kennedy juga sadar masih ada tiga pegolf tuan rumah lain yang mencatatkan skor total yang sama dengannya. Itu sebabnya, ia pun memilih berfokus pada permainannya sendiri dalam 18 hole terakhir. ”Kalau bisa main bagusu, rasanya saya bisa mencapai posisi terbaik,” tandasnya.