Jakarta International Championship resmi menjadi wajah baru International Series di Indonesia dan akan digelar di Damai Indah Golf PIK Course pada 2-5 Oktober 2025.
Oleh Raka S. Kurnia/GolfinStyle.
Dalam beberapa bulan terakhir masyarakat golf Indonesia cukup mempertanyakan kelangsungan Indonesian Masters pada tahun ini. Kekhawatiran bahwa ajang ini tidak berlanjut juga mengemuka tatkala BNI tak lagi mendukung gelaran Ciputra Golfpreneur Tournament setelah tiga tahun berturut-turut. Meskipun berada dalam level kompetisi yang berbeda, BNI merupakan salah satu pendukung terbesar gelaran kedua turnamen tersebut, seakan-akan keduanya menjadi paket komitmen di jenjang kompetisi yang berbeda.
Kehadiran Indonesian Masters sebagai turnamen terbesar, atau istilah masa kini flagship, di Indonesia kian kukuh tatkala statusnya menjadi International Series pada tahun 2022 lalu. Selain peningkatan status, jumlah hadiahnya juga turut meningkat dari semula US$750.000 menjadi US$1.500.000. Setahun kemudian, angka ini kembali bertambah menjadi US$2.000.000, mengikuti standard baru International Series, yang kemudian berlanjut hingga tahun ini.
Posisinya sebagai ajang dengan jumlah hadiah terbesar membuatnya menjadi sangat penting bagi hampir semua kalangan. Kemenangan di Jakarta tak hanya memberikan status keanggotaan pada Asian Tour untuk musim depan, tapi juga berpotensi membawa sang juara ke level yang lebih tinggi lagi dengan jumlah hadiah yang tentunya lebih besar—LIV Golf atau malah DP World Tour, tergantung perjalanan selanjutnya.
Akan tetapi, kompetisi tanpa Indonesian Masters jelas menjadi pukulan besar bagi para pegolf Indonesia. Sejak tahun 2024, mereka hanya punya dua turnamen di level Asian Development Tour—Ciputra Golfpreneur Tournament dan The Indonesia Pro-Am presented by Combiphar & Nomura. Selain itu, sulitnya mendapat dukungan korporasi untuk gelaran sirkuit dalam negeri membuat para pegolf Indonesia kesulitan untuk mendapatkan kompetisi yang layak.

Itulah sebabnya, peluncuran Jakarta International Championship pada Selasa (16/9) lalu menjadi sesuatu yang perlu diapresiasi. Tidak hanya menjawab keraguan tadi, tapi kepastian ini turut mempertahankan formasi dua turnamen Asian Development Tour dan dua turnamen Asian Tour sejak 2024 lalu.
Meskipun terasa bagaikan pengganti gelaran Indonesian Masters, nuansa yang dihadirkan dalam peluncuran Jakarta International Championship ini jelas menunjukkan identitas baru yang menjanjikan warisan baru bagi sejarah golf, khususnya di Jakarta.
Berbeda daripada ajang International Series sebelumnya, yang mengadopsi nuansa hitam, ajang ini menonjolkan warna biru yang tampak menarik. Logonya terlihat unik dengan bentuk global siluet posisi finis swing pegolf.
”International Series itu, pada dasarnya, adalah sebuah platform, di mana pemain-pemainnya adalah pegolf kelas top Asian Tour sehingga hadiah uangnya juga ditingkatkan. Kalau kemudian namanya Jakarta International Championship (dan bukan International Series Indonesia), tidak apa-apa karena justru itulah yang kami harapkan,” tutur Jubilant A. Harmidy, Dewan Direksi Asian Tour.

”Kami memberikan satu platform supaya semua pemangku kepentingan bisa mendapatkan manfaatnya, jadi kami bukannya sekadar ingin menonjolkan International Series itu”
Apa yang disampaikan mantan atlet golf nasional tersebut tidak hanya terlihat dari dominasi warna biru, tapi juga melalui piala yang akan diperebutkan.
Piala berupa lidah api ini juga mengingatkan kita pada lidah api yang juga menghias bagian atas Monumen Nasional, yang juga merupakan salah satu ikon dari Jakarta. Dengan demikian, lengkap rasanya melihat bagaimana ajang ini tidak sekadar diadakan di Jakarta, tetapi juga memperebutkan piala yang menjadi ikon kota metropolitan ini. Apalagi lidah api itu juga bisa ditafsirkan sebagai dorongan bagi peserta, bahkan pemenangnya nanti untuk berusaha berjuang mencapai level yang lebih tinggi lagi.
Uniknya, lidah api itu sendiri sebenarnya terlihat pada bagian bawah logo turnamen.
Sementara itu, dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk ajang ini tidak terlepas dari fokus mereka membangun Jakarta sebagai destinasi sport tourism global. Hal ini turut ditegaskan oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi DKI Jakarta Andri Yansyah, yang hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta yang berhalangan hadir.
”Kemarin (5-7 September) kami sudah melakukan Jakarta International Marathon, sekarang Jakarta International Championship, … ini menjadi bukti perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan sports tourism di DKI Jakarta.” — Andri Ansyah, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi DKI Jakarta.
”Kemarin (5-7 September) kami sudah melakukan Jakarta International Marathon, sekarang Jakarta International Championship, kami juga akan melaksanakan kejuaraan dari AFC untuk futsal dan akan mengadakan 12 cabang olahraga pantai di Ancol, dan ini menjadi bukti perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan sports tourism di DKI Jakarta,” papar Andri.
Pada kesempatan yang sama, Komisioner Damai Indah Golf Nararya Ciputra Sastrawinata mengungkapkan bahwa keberhasilan Jakarta International Championship nantinya bisa menjadi warisan ke depan yang sangat penting.
”Jumlah pegolf kita bisa terus bertumbuh, dari level anak-anak sampai mereka yang sangat antusias. Jakarta International Championship ini memberi kesempatan kepada mereka, bukan hanya untuk menonton, tapi juga bertemu dengan para pegolf profesional yang tidak bisa selalu datang ke Jakarta,” jelas Nararya.
”Semoga ajang ini bisa memberi inspirasi kepada pegolf Indonesia tidak hanya golf sebagai karier, tapi semoga dari level dukungan sponsor dan pengembangannya bisa terus ikut meningkat juga.”


