Kegagalan mewujudkan harapan para pendukungnya di negeri sendiri bakal menjadi motivasi ekstra bagi Hideki Matsuyama ketika menatap Olimpiade Paris 2024.
Oleh Chuah Choo Chiang.
Dari semua pencapaian Hideki Matsuyama yang membuat negaranya merasa bangga, mempersembahkan medali emas pada Olimpiade Paris 2024 akan kian lebih mengukuhkan warisannya bagi golf dan mengimbangi kemenangan bersejarahnya pada Masters Tournament.
Megabintang Jepang ini telah mengibarkan bendera negaranya dengan bangga selama lebih dari satu decade di kancah golf pria. Ia telah delapan kali menjuarai ajang PGA TOUR, termasuk menjuarai jaket hijau terkenal di Augusta National tahun 2021. Ia menjadi pegolf Jepang pertama yang mencicipi kemenangan pada kejuaraan Major.
Dalam usia 31 tahun, Matsuyama nyaris menjuarai medali ketika Olimpiade digelar di Tokyo tahun 2021, dalam penyelenggaraan yang terpaksa ditunda setahun akibat COVID-19. Ia menjadi bagian dari play-off tujuh pemain untuk memperebutkan medali perunggu di Kasumigaseki Country Club, namun harus tersingkir lebih awal lantaran mendapat bogey di hole tambahan pertama.
Hatinya hancur, bahkan terempas, lantaran gagal memenuhi harapan negerinya yang memang menggandrungi golf, terutama setelah ia sempat mendapat peluang birdie di hole 18 dalam permainan regular untuk memastikan menaiki podium. Akan tetapi, hamper pasti kekecewaan di Tokyo itu akan menjadi api semangat untuk tantangan berikutnya di Paris pada musim panas tahun 2024.

”Karena saya masuk dalam persaingan, saya berharap bisa memenangkan medali. Saya sungguh kecewa tidak bisa mewujudkannya,” tutur Matsuyama, yang memasuki putaran final dari tempat kedua dan hanya terpaut satu stroke dari puncak klasemen.
”Target saya, pastinya, menjuarai medali. Saya tahu kalau bisa mengakhiri putaran saya dengan birdie, saya akan memenangkan medali perunggu. Saya sungguh merasa frustrasi karena tak bisa memanfaatkan banyak kesempatan. Pada titik ini, saya sama sekali tidak punya energi lagi, tapi saya terus berjuang sampai akhir dengan sepenuh hati. Sayangnya, pada akhirnya saya hanya nyaris menang.”
Sejak menonjol berkat dua kemenangan berturut-turut pada Asia-Pacific Amateur Championship tahun 2010 dan 2011, Matsuyama langsung membangun reputasinya sebagai salah satu pegolf terdepan di dunia, yang lekas meraih sukses di panggung PGA TOUR. Kini ia menjadi salah satu pemegang rekor kemenangan terbanyak oleh pegolf Asia bersama legenda Korea, K.J. Choi.
Sebagai pendatang baru saat berusia 22 tahun, ia menciptakan kemenangan yang memukau pada ajang Memorial Tournament di Muirfield Village pada tahun 2014. Kemenangan itu terbukti melambungkan kariernya di Amerika Serikat. Jack Nicklaus, tuan rumah Memorial Tournament, dan pemegang rekor 18 gelar Major, sejak saat itu menjadi pengagum Matsuyama, yang mulai bersinar.
”Semoga saya bisa menjadi pionir, dan banyak pemain Jepang lainnya yang mengikuti. Saya senang bisa membuka gerbang itu dan semoga lebih banyak lagi pemain yang mengikuti jejak saya.” — Hideki Matsuyama.
”Saya sungguh bersyukur bisa meluangkan banyak waktu di Jepang dan mengetahui kecintaan mereka terhadap olahraga golf. Saya bertanding menghadapi pemain besar Isao Aoki, dan tahu betapa ia begitu dihormati. Hideki pun kini akan selamanya menjadi pahlawan bagi negaranya,” ujar Nicklaus dalam kicauannya di Twitter menyusul kemenangan Matsuyama pada ajang Masters.
”Saya bisa menyaksikan tiap pukulan dan Hideki bermain dengan begitu indah. Ia tetap tenang dan kalem … hari dan momen ini menjadi milik Hideki Matsuyama! Ini hari besar buatnya, buat Jepang, dan buat olahraga golf yang mengglobal.”
Pegolf Australia Adam Scott, yang juga merupakan juara Masters, telah mengenal Matsuyama sejak menyambutnya ketika tampil untuk pertama kalinya pada ajang Presidents Cup tahun 2013. Ia memperkirakan Matsuyama akan terus membuka jalan bagi para pegolf Jepang dan golf di Asia.
”Ia seperti Tiger Woods bagi seluruh dunia, Hideki bagi Jepang,” ujar Scott. ”Jelas ia banyak berkembang. Ia akan terus meraih kemenangan. Saya pikir ia menjalani prosesnya dengan sangat baik dan sepertinya ia memiliki ketengangan. Ia memiliki karakter yang cukup intens, malahan, bahkan meskipun kita tidak benar-benar meliatnya, dan terobsesi dengan permainannya.”

Ketika masih kecil, Matsuyama mengidolakan Tiger Woods dan menyaksikan legenda Amerika ini memenangkan Masters 1997 di TV, dan mulai bermimpi untuk ikut bersaing di Augusta National. Ia mewujudkan impian masa kecilnya itu ketika menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship 2010, di mana pemenangnya mendapat undangan untuk bermain pada The Masters. Pengalaman bersaing di lapangan legendaris Augusta National itu menjadi awal dari perjalanannya di Amerika, sesuatu yang kini ia harapkan banyak diikuti pemain Jepang lainnya.
”Semoga saya bisa menjadi pionir, dan banyak pemain Jepang lainnya yang mengikuti. Saya senang bisa membuka gerbang itu dan semoga lebih banyak lagi pemain yang mengikuti jejak saya,” ujar Matsuyama setelah kemenangan Mastersnya itu.
Di balik wajahnya yang khas dengan kacamata yang membingkai sisi belakang kepalanya itu, Matsuyama menggambarkan dirinya sebagai seorang yang misterius dan jelas tak banyak bicara. Tiap pukulan yang ia lakukan pada PGA TOUR benar-benar diikuti oleh mitra TV PGA TOUR dari Jepang dan ia melayani wawancara dengan media Jepang tiap putaran, terlepas dari apakah ia membukukan skor 64 atau 75.
Bahkan meski begitu, ia menyimpan kepribadiannya erat-erat. Terkenal oleh privasinya yang demikian ketat, ia mengejutkan media pada tahun 2017 silam tatkala mengumumkan ia dan istrinya tengah menyambut bayi pertama mereka. Yang sebenarnya mengejutkan, bahkan mayoritasm edia saja bahkan tidak tahu kalau ia sudah menikah. ”Tidak ada yang benar-benar menanyakannya kepada saya,” ujarnya sedih.

Namun, mereka yang mengenal Matsuyama akan menyebut bahwa ia sosok yang lucu, perhatian, dan rendah hati.
Pegolf China Taipei C.T. Pan, yang menjuarai medali perunggu di Tokyo setelah memenangkan play-off, yang melibatkan Collin Morikawa dan Rory McIlroy, menyebut Matsuyama sebagai rekan yang ideal ketika mereka berduet untuk Tim Internasional pada Presidents Cup 2019.
”Ia cukup lucu. Partai-partai yang saya mainkan dengannya, saya bisa bilang dia sangat serius, tapi pada saat yang sama selalu berusaha untuk mencairkan suasana. Menurut saya dia tahu apa yang mesti dilakukan karena dia cukup veteran, tapi secara umum dia itu lucu!” ujar Pan.
Terlepas dari apakah Matsuyama mewujudkan targetnya meraih medali Olimpiade, rekan-rekan senegaranya, Shigeki Maruyama, yang menjuarai tiga gelar PGA TOUR sebelum Matsuyama tampil, sadar bahwa Matsuyama telaj membuka jalan bagi para pemain lain untuk mengikuti langkahnya.
”Ia telah memberi kami mimpi besar. Saya pikir itulah yang telah ia lakukan. Jepang tengah mengalami ledakan golf saat ini. Karena itulah jumlah pegolf junior yang ingin menjadi Hideki berikutnya pasti akan meningkat” tutur Maruyama.


