Ida Ayu Indira Melati Putri, Inez Wanamarta, dan Viera Permata Rosada memperbaiki catatan penampilan Indonesia dalam ajang Women’s Amateur Asia-Pacific.
Jika Jepang berhasil menambah daftar prestasi membanggakan dengan keberhasilan Mizuki Hashimoto menjuarai Women’s Amateur Asia-Pacific, Indonesia pun rasanya pantas memiliki kepingan kebanggaan di kancah internasional pada tahun yang masih memprihatinkan ini.
Menyusul keberhasilan Naraajie Emerald Ramadhan Putra, Alfred Raja Sitohang, Jose Suryadinata, dan Jonathan Xavier Hartono pada ajang Asia-Pacific Amateur Championship di Dubai, tiga pegolf wanita Indonesia juga berhasil mencatatkan prestasi membanggakan pada ajang Women’s Amateur Asia-Pacific.
Pekan lalu, Naraajie mencatatkan finis terbaiknya sejak mengikuti ajang paling bergengsi se-Asia Pasifik itu (T21, setelah sebelumnya finis T24 pada tahun 2018, sementara Alfred (T26), Jose (T36), dan Jojo (T48), sapaan Jonathan Xavier Hartono, mendulang pengalaman mengagumkan setelah berhasil bermain penuh di Dubai Creek Golf & Yacht Club. Penampilan mereka ikut memperbaiki sejumlah catatan penampilan Indonesia pada ajang Major tersebut—di antaranya
Kali ini giliran perwakilan wanita Indonesia yang menampilkan permainan memukau di Timur Tengah. Ida Ayu Indira Melati Putri, Inez Wanamarta, dan Viera Permata Rosada tampil memesona untuk memperbaiki catatan penampilan Indonesia pada kejuaraan yang telah digelar sejak tahun 2018 ini, sekaligus meninggalkan catatan tersendiri bagi karier amatir masing-masing.
Memulai putaran final dari posisi T14, Mela mencatatkan tiga birdie dengan satu bogey di sembilan hole pertamanya. Meski tak kunjung menambah catatan birdie di sembilan hole berikutnya, ia juga berhasil menghindari menambah bogey pada kartu skornya sehingga berhasil mencatatkan finis terbaik yang pernah diraih Indonesia pada ajang Women’s Amateur Asia-Pacific ini.

Ia sempat mengawali pekan ini dengan skor 75, bahkan nyaris gagal melangkah ke putaran ketiga, namun berhasil menuntaskan pekan ini dengan skor total 7-under 281. Skor terbaik Indonesia sebelumnya ialah 15-over, yang dibukukan Rivani Sitohang, ketika ia finis T42 pada edisi 2018.
”Pekan ini sungguh luar biasa. Saya mengawalinya dengan kurang meyakinkan, tapi berhasil finis dengan meyakinkan. Jadi, saya sangat senang dengan hasil ini,” ujar Mela.
Meskipun permainannya pada putaran final tadi tidak fenomenal, kemampuannya untuk menghindari bogey di sembilan hole terakhir ikut membantunya finis di posisi T11, hanya satu stroke di luar sepuluh besar.
”Ketika datang ke sini saya berharap bisa masuk 20 besar. Tapi bisa finis di 15 besar tentunya sangatt bagus. Saya finis dengan baik. Seluruh pemain, para pesaing, semuanya hebat, para pegolf terbaik di seluruh dunia dalam konteks Asia Pasifik. Saya merasa sangat terhormat bisa berada di sini, sangat bersyukur menjadi bagian dari turnamen ini,” sambung pegolf asal Bali ini.
Ada nuansa reuni yang kental ketika Mela bermain dengan Inez pada putaran final tadi—keduanya sama-sama sempat membela tim golf Purdue University. Keduanya sama-sama melakoni debutnya pada kejuaraan ini. Dan keduanya juga sama-sama menciptakan kenangan yang membanggakan tatkala menyudahi ajang ini.
Inez, yang memulai putaran final dari peringkat T12, meski akhirnya harus finis di posisi T13, juga menampilkan perjuangan yang mengagumkan. Sempat mendapat bogey di hole 2, ia lekas bangkit dan menorehkan dua birdie di hole 4 dan 6. Ia juga berhasil menghindari menambah bogey lagi, terutama setelah mencatatkan bogey kedua di hole 11, dan menuntaskan putaran final dengan skor even par dan skor total 6-under 282.

Sementara itu, meskipun harus finis di peringkat 50 dengan skor total 13-over 301—ia bermain 78 pada putaran finalnya—Viera Permata Rosada berhasil memperbaiki catatan penampilannya sejak melakoni debutnya di Jepang pada edisi 2019. Pada putaran final tadi, ia mendapat dua birdie dan terpaksa mendapat enam bogey dan sebuah double bogey. Meski demikian, skor total yang ia raih masih jauh lebih baik daripada skor terbaik Indonesia dalam dua edisi terdahulu.
Dalam kondisi pandemi yang membuat kompetisi berkualitas tinggi sangat langka, prestasi Indonesia di Timur Tengah pada tahun ini membuktikan bahwa para pegolf papan atas Indonesia masih memiliki potensi yang bisa terus digali, selama mereka mendapatkan kesempatan dan wadah yang baik. Prestasi Naraajie dan Mela—yang seakan mengulangi kemenangan keduanya pada ajang OJAO beberapa bulan lalu—menjadi buktinya.
Sementara itu, kompetisi tingkat tinggi di Amerika telah memberikan bekal yang sangat berharga bagi para pegolf lainnya, seperti Alfred, Jose, dan Ocha. Jojo menjadi satu kasus menarik, di mana ia lebih banyak berlatih dan mengasah dirinya di bawah naungan Ciputra Golfpreneur Foundation sejak 2019. Toh apa yang dicapai oleh Naraajie, Jojo, dan Mela juga ikut menunjukkan bahwa dalam konteks tertentu, atlet Indonesia masih bisa menyaingi para pegolf Asia Pasifik, bahkan ketika mereka menempa dirinya di tanah air.
Sudah tentu keberadaan para pemain, seperti Timothius Tirto Tamardi, Almay Rayhan Yaquta, Patricia Sinolungan, Michela Tjan, dan Lydia Sitorus yang, meskipun hanya bermain dua putaran pada masing-masing kejuaraan ini, tidak menutup peluang untuk mereka mencapai hasil yang melampaui apa yang mereka raih saat ini. Determinasi dan kegigihan masing-masing akan menentukan pencapaian mereka pada masa mendatang. Pencapaian masa junior dan amatir jelas tidak akan menentukan pencapaian pada level berikutnya. Pemegang dua gelar PGA TOUR dan pegolf Korea No.1 saat ini, Im Sungjae, menjadi contoh terbaru tentang hal tersebut.
Jadi, inikah tahun membanggakan bagi Indonesia? Jika kita mempertimbangkan pandemi dan kondisi yang diakibatkan oleh COVID-19, rasanya patutlah kita berbangga.


