Lee Kyounghoon menorehkan prestasi terbaik bagi Korea selama mengikuti THE CJ CUP dengan finis di peringkat ke-3.

Lee Kyounghoon mencatatkan finis terbaik yang pernah dibukukan wakil Korea pada ajang THE CJ CUP. Pada putarna final kemarin (23/10), ia menuntaskan turnamen yang kembali digelar di Amerika itu dengan finis sendirian di peringkat ke-3.

Memulai putaran final dengan terpaut satu stroke, Lee justru melewatkan sejumlah peluang birdie di Congaree Golf Club. Ia memang berhasil menghindari bogey, namun hanya bisa mencatatkan tiga birdie untuk skor 3-under 68. Catatan tersebut membuatnya harus merelakan kemenangan kembali bagi Rory McIlroy.

Bagi McIlroy, gelar kali ini menjadi gelar PGA TOUR ke-23, yang ia raih berkat skor 67 pada putaran final tersebut. Pegolf Amerika Kurt Kitayama finis di tempat kedua setelah gagal memaksakan play-off lantaran upayanya meraih birdie di hole 18 dari jarak 6,6 meter gagal terwujud.

Meskipun gagal menjadi pegolf Korea pertama yang menjuarai THE CJ CUP, Lee masih bisa berbangga. Pasalnya, prestasinya kali ini menjadi prestasi terbaik yang pernah dibukukan pegolf Korea pada ajang yang disponsori oleh perusahaan Korea, CJ Group ini.

”Saya tidak bisa memenangkan trofi, tapi bisa melihat Rory memenangkan gelar ini lagi sehingga saya bisa melihat di mana posisi saya dan apa yang perlu saya tingkatkan. Secara keseluruhan pekan ini pekan yang luar biasa,” tutur Lee, yang memperbaiki catatan Kim Whee, yang mencatatkan finis terbaik ketika menempati peringkat ke-4 pada edisi perdana tahun 2017 silam.

 

 

Tiga birdie yang ia raih tercipta di hole 3, 9, dan 15 dengan putt terjauh ia lakukan dari jarak 8,7 meter sebelum menuju sembilan hole terakhir. Namun, ia sadar bahwa peluang birdie di hole 2 dan 4 dari jarak di bawah 2,5 meter yang meleset sebenarnya bisa menciptakan perbedaan pada putaran final itu. Ia juga meleset memasukkan putt birdie dari jarak di bawah 7,5 meter di tiga hole terakhirnya. Padahal ia membukukan 16 green in regulation dan berperingkat No.1 untuk Strokes Gained: Approach the Green pada pekan tersebut.

”Saya punya cukup peluang, tapi putting saya tidak keluar seperti yang saya harapkan. Saya mesti melatihnya,” jelasnya. ”Jarak pukul driver saya pendek, sekitar 30-40 meter (di belakang McIlroy). Pastilah saya bisa melatih driver saya, tapi saya ingin melakukan setahap demi setahap untuk jarak pukul.”

Rekan senegaranya, Tom Kim, berhasil finis di peringkat T11. Lee kini berharap bisa mengikuti jejak rekan senegaranya itu, yang telah meraih satu kememangan pada musim 2022-2023 ini. Seperti halnya pemain lain, Lee menuai pengalaman berharga dari mewakili Tim Internasional bulan lalu. Ia menyebut kian banyaknya pegolf Korea pada PGA TOUR ikut menciptakan lingkungan yang positif.

”Saya sangat ingin menang pada musim gugur ini. Saya senang bisa bersaing pekan ini, tapi masih ada beberapa turnamen lagi jadi saya ingin melakukan hal serupa lagi. Saya berharap bisa lebih sering bersaing dan bisa menargetkan kemenangan lainnya. Saya ingin menang dan semoga juga bisa memenangkan Major. Itu target besar saya sekarang,” tutur Lee, yang menjuarai AT&T Byron Nelson 2021 dan 2022.

”Sekarang ada banyak pemain Korea. Kami masih merasa kesepian karena masih jauh dari rumah, tapi kami sering mengobrol saat bersantap, kami saling menyoraki dan berbagi informasi dan menertawakan semua putaran. Jadi, suasana ini sangat membantu.”

Sementara itu, kemenangan bagi McIlroy kali ini turut mengembalikannya ke No.1 Dunia, menggeser Scottie Scheffler. Ini pertama kalinya sejak Juli 2020.