Louis Oosthuizen melanjutkan dominasinya ke putaran final The Open Championship, namun sejumlah nama akan berjuang untuk mengejarnya, sekaligus menciptakan drama dalam ajang Major terakhir tahun 2021.

Dua tahun silam, Shane Lowry mencatatkan rekor 54 hole terendah dalam sejarah The Open Championship dengan torehan 16-under. Lalu tahun ini, ketika melihat Louis Oosthuizen menorehkan 11-under dalam dua putaran, rekor Lowry itu tampaknya bakal terulang. Apalagi melihat bagaimana Champion Golfer of the Year 2010 itu tampil luar biasa dalam dua putaran pertama. Sayangnya, Oosthuizen harus puas melangkah ke putaran final dengan skor 12-under 198.

Toh demikian pun pegolf Afrika Selatan ini akan memainkan putaran final hari ini dalam posisi teratas untuk ketiga kalinya dalam ajang The Open Championship. Pegolf terakhir yang memimpin sejak putaran pertama hingga menjuarai The Open ialah Rory McIroy pada tahun 2014. Apakah Oosthuizen akhirnya menghapus ”kutukan” finis di tempat kedua dalam ajang Major, masih harus ia buktikan dalam 18 hole terakhir.

Dua birdie di sembilan hole pertama mengukuhkan posisi Oosthuizen dengan 13-under, namun empat hole pertama di sembilan hole terakhirnya menghambat permainannya setelah ia mendapat bogey di hole 11 dan 13.

”Pada satu tahap saya sudah 13-under. Mungkin sembilan hole terakhir yang bagus bisa membantu saya mendapat 14 atau 15-under. (Namun,) ada beberapa pin yang sangat sulit di lapangan yang tidak bisa Anda serang sama sekali (sehingga) Anda harus melakukan putt birdie dari jarak 6 meter,” jelas Oosthuizen.

”Saya juga melakukan beberapa swing yang buruk di pertengahan putara dan membuat bola saya berada di posisi yang sulit dan akhirnya harus membuat dua bogey. Memainkan 4-iron di hole 14 dan melakukan swing yang mengerikan, (tapi saya) masih bisa mendapat par.

”Saya memang punya kesempatan untuk mendapat 2 atau 3-under dengan lebih baik, tapi begitulah yang bisa dilakukan oleh lapangan ini kepada Anda.”

Dalam perjalanan kariernya sejauh ini, Oosthuizen telah enam kali finis di tempat kedua dalam ajang Major. Dua di antaranya terjadi pada ajang PGA Championship dan U.S. Open tahun ini. Pada tahun 2015 ia juga finis di tempat kedua pada ajang The Open. Ia jelas harus berjuang keras agar fakta ini juga tidak membebani penampilannya dalam 18 hole terakhir hari ini. Dan ia sadar apa yang harus ia lakukan untuk memutus ”kutukan” finis di tempat kedua itu.

 

 

”Finis di tempat kedua bukanlah sesuatu yang hebat, jadi saya akan bermain dengan sepenuh hati besok (hari ini, 18/7) dan melihat apakah saya bisa mengangkat Claret Jug lagi,” ujarnya lagi. ”Meski memiliki keunggulan dua tiga hole di lapangan ini, jika melakukan pukulan tee yang buruk, Anda bakal menghadapi masalah. Keunggulan bukan sesuatu yang membuat Anda bisa bertahan dan sekadar melakukan beberapa pukulan menjelang hole-hole terakhir. Anda masih harus bermain dengan baik dan menempatkan bola dengan baik untuk menghindari bogey.

Namun, sudah jelas ada banyak pemain lain yang mengancam posisinya. Collin Morikawa menikmati pengalaman bermain di Skotlandia sepekan sebelumnya dan sengaja mengubah spesifikasi iron-nya untuk bisa bersaing pada pekan ini. Strategi itu terbukti berhasil membawanya hanya terpaut satu stroke dari Oosthuizen dalam debutnya pada The Open pekan ini.

Meskipun sempat mencatatkan 2-over di lima hole pertamanya, Juara PGA Championship 2020 ini sukses bangkit dan menorehkan empat birdie untuk skor 68 dan skor total 11-under 129. Bisa bersaing dalam debutnya ini menunjukkan kapasitasnya sebagai penantang bagi dominasi Oosthuizen, sekaligus memberi kemungkinan drama menarik bagi para penggemar golf pada hari Minggu.

”Saya tidak pernah berada dalam posisi seperti ini dalam sejumlah kesempatan lainnya (yang membuahkan kemenangan—termasuk kala menjuarai PGA Championship 2020). Sejujurnya, Anda membangun rencana permainan dan melihat apa yang harus dilakukan sepanjang turnamen ini dan mempertahankan semua itu. Persis itulah yang akan saya coba dan lakukan besok. Sudah jelas putaran final dalam ajang Major akan berbeda, tapi saya akan berusaha untuk mempertahankan suasana semirip mungkin dengan turnamen lain yang sudah saya mainkan,” jelas Morikawa.

Statusnya sebagai juara Major jelas bakal menjadi salah satu modal penting ketika memulai putaran final nanti, meskipun pengalamannya memainkan lapangan links tidaklah banyak. Bahkan sebelum bermain di Royal St. George’s ini, ia hanya memainkan satu lapangan, yaitu di The Renaissance, ketika bertanding pada ajang European Tour, abrdn Scottish Open sepekan yang lalu.

”Menurut saya, hal terbesar yang bisa saya ambil dari PGA (Championship 2020) ialah bahwa saya tahu kalau saya bisa memenangkannya. Namun, rasa percaya diri itu saya pikir akan datang dari melakukan pukulan yang bagus, pukulan-pukulan berkualitas, dan melihat putt yang masuk. Ada begitu banyak hal yang bisa diambil, terutama dari pekan ini,” ujar pegolf yang sealmamater dengan George Gandranata ini.

”Saya tak punya banyak pengalaman bermain di lapangan links, dan sorotan yang cukup banyak melintas dalam benak saya berasal dari pekan ini. Semoga kami bisa memanfaatkan momentum dari tiga hari pertama dan membawanya ke 18 hole terakhir. Putaran final ini akan menjadi 18 hole yang melelahkan, tapi saya tak sabar menjalaninya.”

 

Rolex Testimonee Jon Rahm di green 18 putaran kedua The Open Championship.
Secara teori, pegolf No.2 Dunia Jon Rahm masih berpeluang menciptakan kejutan pada putaran final The Open Championship 2021, meski terpaut lima stroke dari Louis Oosthuizen. Foto: Rolex/Chris Turvey.

 

Kemudian masih ada Champion Golfer of the Year 2017 Jordan Spieth yang terpaut tiga stroke dari Oosthuizen. Sejak memasuki tahun 2021 ini, pemegang tiga gelar Major ini telah mengalami peningkatan prestasi. Ia telah enam kali finis di lima besar, dengan satu kemenangan pada Valero Texas Open, dan tiga kali finis di tiga besar, termasuk ketika finis T3 pada Masters Tournament 2021. Selain itu ia juga dua kali finis di sepuluh besar.

”Beberapa lokasi pin-nya mungkin terlihat tidak begitu sulit di layar televisi, tapi sesungguhnya luar biasa sulit, … dan menyisakan banyak peluang untuk membuatnya menjadi sangat, sangat menantang, dan … sudah jelas membuatnya sedikit lebih sulit untuk melakukan putt atau membuat bola berhenti di dekat lubang,” tutur Spieth. ”Green-green di sini secara efektif jauh lebih kecil daripada kelihatannya, di mana pin-pin-nya bisa ditempatkan di sejumlah area run-off.

”Buat saya secara pribadi, saya hanya melakukan apa yang sudah saya lakukan sejauh ini dan berusaha memasukkan beberapa putt lebih banyak.”

Adapun pegolf No.2 Dunia Jon Rahm untuk sementara berbagi perinngkat keenam bersama pegolf Kanada Mackenzie Hughes dan pegolf Afrika Selatan lainnya, Dylan Frittelli dengan skor total 7-under 203. Dengan terpaut lima stroke dari Oosthuizen, Rahm menegaskan kembali komentar Spieth mengenai sulitnya posisi pin di Royal St. George’s.

”Karena kondisi cuaca hari ini (yang cukup ramah), orang mudah berpikir seharusnya skor saya bisa sedikit lebih baik (Rahm membukukan skor 2-under 68—ED.), tapi lokasi-lokasi pinnya bukan main-main. Entah apakah anda bisa mengapresiasinya di TV, tapi beberapa di antaranya, secara kolektif, merupakan lokasi pin tersulit yang pernah saya lihat,” jelas Rahm.

Rahm melanjutkan, pukulan yang bagus sekalipun tidak akan menjamin menyisakan putt yang memudahkan dalam meraih birdie lantaran posisi pin membuat para pemain harus menghadapi break yang sulit plus kesulitan dalam menentukan kecepatan putt yang ideal. Ia menyebut bogey yang ia peroleh di hole 1 sebagai salah satu contohnya, di mana ia sudah melakukan approach dengan 9-iron, namun pukulannya justru meleset dari green sehingga skor bogey itu menjadi skor terbaik baginya di hole tersebut.

Dengan lapangan yang bisa dengan mudah menjatuhkan seorang pemain dari posisinya, secara teori Juara U.S. Open 2021 ini masih berpeluang untuk meraih Major keduanya, sekaligus kembali menjadi No.1 Dunia.