Wyndham Clark, Nick Taylor, Hideki Matsuyama, dan Jake Knapp menciptakan kemenangan yang sensasional untuk menyoroti bulan Februari yang berkesan pada PGA TOUR. Kami menjabarkan statustik-statistik yang paling penting.
Oleh Helen Ross.
Knapp Juara di Meksiko
Berkebalikan dengan yang mungkin Anda harapkan, tidaklah selalu mudah bermain dengan keunggulan besar, seperti keuntungan empat stroke yang Jake Knapp bawa ke putaran final Mexico Open at Vidanta. Sebagai tantangan tambahannya? Ia bermain dalam ajang PGA TOUR kesembilan dan driver-nya bermasalah.
Namun, pegolf 29 tahun asal California itu berjuang sepanjang hari dan bertahan sehingga akhirnya menang satu stroke dari debutan PGA TOUR lainnya, Sami Valimaki asal Finlandia. Knapp, yang menciptakan keunggulan dengan bermain 64-63 pada putaran kedua dan ketiganya, hanya mengantarkan bolanya ke dua fairway dan sembilan green pada putaran final.
Akurasi driving-nya juga hanya 15,38%, catatan terendah yang pernah dibukukan oleh seorang juara PGA TOUR sejak 1983. Ia menjadi pegolf kedua di belakang Scottie Scheffler (Arnold Palmer Invitational presented by Mastercard 2022) yang memiliki catatan menyedihkan, yaitu paling banyak kehilangan pukulan dari tee pada putaran final, yang dilakukan oleh seorang juara sejak era ShotLink, yaitu -2,10.
Toh tidak semua statistiknya buruk. Pada pekan itu, ia memimpin untuk urusan birdie dengan mengemas 25 birdie. Semuanya terjadi pada tiga putaran pertamanya. Ia juga berada di posisi pertama untuk Strokes Gained: Tee to Green (+11,40) dan Strokes Gained: Approach the Green (+8,729). Dan Knapp T5 untuk Green in Regulation dan peringkat kedua untuk Driving Distance.
Jadi, meskipun statistiknya tidak begitu memukau, ia bisa menang. Knapp menjadi debutan PGA TOUR ketiga yang mengangkat trofi tahun ini. Jumlah ini menyamai catatan dari musim lalu.

Matsuyama Mengamankan Kemenangan ke-9 yang Magis
Hideki Matsuyama menghadapi tantangan yang berat pada hari Minggu di lapangan ikonik Riviera Country Club. Ia memasuki putaran final Genesis Invitational dengan tertinggal enam stroke—hanya pegolf Kanada Mike Weir yang pernah menang dari ketertinggalan besar, yaitu 7 stroke pada tahun 2003.
Namun, permainan pegolf berusia 32 tahun asal Jepang ini seakan dipersiapkan untuk momen-momen besar—saksikan saja kemenangannya pada Masters 2021—dan ia menunaikan tugas itu dengan menorehkan skor 62 untuk menang tiga stroke. Kemenangan ini menjadi gelar ke-9, yang melampaui raihan pegolf Korea K.J. Choi sebagai kemenangan terbanyak yang diraih oleh pegolf Asia.
Skor 9-under Matsuyama juga merupakan skor putaran final terendah di Riviera yang dibukukan oleh juara Genesis Invitational. Ia bermain satu stroke lebih baik daripada Doug Tewell tahun 1983. Permainannya itu juga menjadi yang kesembilan kalinya ia bermain tanpa bogey pada 18 hole terakhir sejak awal musim 2020-2021. Hanya Chris Kirk dengan 11 dan Cam Davis dengan 10 kali tanpa bogey yang bermain lebih baik.
Alasan besar atas titik baliknya? Matsuyama mencatatkan Strokes Gained: Approach the Green dengan nilai +2,84 yang lebih baik daripada yang ia lakukan dalam tiga putaran sebelumnya (yang jika dikombinasikan menunjukkan angka -,40). Strokes Gained: Total miliknya menunjukkan angka +8,471 pada putaran final, yang menjadi catatan terbaik yang diraih oleh seorang juara PGA TOUR sejak Rory McIlroy melakukannya pada RBC Canadian Open 2019.

Taylor Sukses di Phoenix
Sekali lagi, Nick Taylor menunjukkan aksi dramatis. Sebelumnya, ia melakukan putt eagle sejauh 21,6 meter pada hole play-off keempat untuk menjuarai RBC Canadian Open musim panas 2023 lalu. Dan kali ini ia melakukan finis yang berapi-api dan dua hole tambahan untuk menjadikan WM Phoenix Open sebagai gelar PGA TOUR keempatnya.
Tertinggal tiga stroke dengan sisa empat hole, putter milik Taylor justru berfungsi dengan sangat baik justru ketika ia membutuhkannya. Ia menggulirkan putt untuk birdie di tiga dari empat hole terakhir, termasuk putt sejauh 2,1 meter di hole 18 untuk memaksakan play-off dengan Charlie Hoffman. Pada pekan itu, Taylor unggul 2,38 stroke lebih baik daripada para pesaingnya pada rangkaian hole penutup itu. Catatan ini bahkan melampaui statistik pemenang WM Phoenix Open lainnya sejak 1983!
Jika digabungkan dengan dua hole play-off, Taylor membukukan lima birdie di enam hole terakhir yang ia mainkan. Namun, sesungguhnya Taylor mengandalkan putter-nya sepanjang pekan itu. Ia mencatatkan statistik Strokes Gained: Putting terbaik dalam kariernya, +8,93, dan menggulirkan total 137,7 meter dan 9 inchi putt, melampaui yang pernah ia lakukan pada ajang PGA TOUR mana pun.
Pgeolf berusia 35 tahun asal Kanada itu juga menuai banyak birdie di hole par 4. Ia bermain 13-under di hole-hole tersebut untuk menjadi pemenang dengan catatan terbaik di TPC Scottsdale sejak era ShotLink. Tujuh birdie di antaranya tercipta pada putaran pertama dan skor terendah dalam kariernya, 60. Bahkan meskipun pukulannya meleset dari green, ia sudah seperti otomatis saja dalam melakukan up-and-down, dengan mencatatkan 92,31% untuk persentase scrambling, jauh lebih baik daripada juara WM Phoenix Open mana pun.

Clark Nyaris Bukukan Skor Ajaib 59
Dengan cuaca yang menolak untuk bekerja sama di Semenanjung Monterey, para pemain tahu kalau putaran ketiga AT&T Pebble Beach Pro-Am bakal menjadi putaran terakhir. Dan ketika Wyndham Clark memanfaatkannya dengan membukukan skor terendah dalam kariernya, 60, yang menempatkannya sebagai pimpinan klasemen dan unggul satu stroke ketika Signature Event ini diputuskan hanya dimainkan 54 hole.
Clark, yang kini telah menang tiga kali dalam rentang sepuluh bulan, termasuk U.S. Open 2023, memulai putaran ketiganya dengan tertinggal enam stroke. Dan bahkan dengan bogey di hole 12, yang menghentikan laju permainannya yang ia awali dengan eagle plus lima birdie berturut-turut, alumnus Oregon ini masih punya peluang menciptakan skor 59 yang ajaib ketika mulai memainkan hole 18 par 5. Sayangnya, putt eagle dari jarak 8,1 meter itu berhenti 7 inchi dari lubang.
Sungguh kegagalan yang langka bagi Clark, yang telah mmasukkan putt sejauh 56,7 meter dan 9 inchi pada hari Sabtu. Jarak total itu merupakan total kumulatif terbaik untuk sebuah putaran di Pebble Beach dan menjadi yang terbaik dalam karier pegolf berusa 30 tahun ini. Praktis ia mecatatka +5,28 untuk statistik Strokes Gained: Putting, angka tertinggi yang pernah diraih oleh seorang juara sejak 2004.
Meskipun ia gagal memasukkan eagle untuk mendapat skor 59, Clark menorehkan dua eagle di sembilan hole pertama pada hari Sabtu dan tiga eagle sepanjang turnamen. Catatan ini menyamai raihan Justin Rose dan hanya terpaut satu eagle dari Daniel Berger yang menjuarai ajang ini tahun 2021. Dan ia melakukannya hanya dalam 54 hole. Malahan, Clark memainkan hole-hole par 5 dengan skor 10-under pada putaran kedua dan ketiganya di Pebble Beach.


