Hideki Matsuyama dan Im Sungjae kini berlomba untuk menjadi pegolf Asia pertama yang mencapai puncak dunia sebagai pegolf No.1 Dunia.

Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director, Marketing & Communication Asia-Pacific untuk PGA TOUR, berdomisili di Malaysia.

Persamaan swing golf keduanya sungguh luar biasa. Salah satunya sengaja melakukan take-away yang seolah-olah seperti gerakan lambat dalam video. Sementara yang lain memiliki jeda yang lama di puncak backswing yang menjadi meme populer pada media sosial.

Terkadang terasa sangat lama bagi keduanya untuk melakukan pukulan. Namun, tatkala mereka akhirnya melakukannya, pegolf Korea Im Sungjae dan pegolf Jepang Hideki Matsuyama jelas memiliki kemampuan untuk menghasilkan gambaran tenaga yang berpadu dengan presisi tatkala mereka berusaha mengejar kesuksesan melalui PGA TOUR.

Matsuyama (29) dan Im (23) telah bertahan sebagai dua pegolf papan atas Asia di mana gaya mereka yang unik telah mengukuhkan status mereka sebagai pegolf Asia berperingkat tertinggi pada Official World Golf Ranking, masing-masing berperingkat 12 dan 23. Mereka juga menyandang kebanggaan sebagai dua pegolf dari Asia Timur yang menembus ajang pamungkas FedExCup Playoff, TOUR Championship dalam tiga musim terakhir.

Dalam dua bulan terakhir, Im dan Matsuyama menghasilkan kemenangan mengagumkan, yang mengingatkan dunia golf pada bakat dan potensi mereka yang berlimpah. Im, yang berjulukan ”Ironman” membukukan skor 62 untuk meraih gelar PGA TOUR keduanya lewat ajang Shriners Children’s Open di Vegas. Sementara Matsuyama menjuarai ZOZO CHAMPIONSHIP di negeri sendiri setelah bermain dengan skor 65 pada putaran final untuk gelar ketujuh dalam kariernya. Prestasi tersebut menjadi sukses terbarunya usai kemenangan bersejarahnya pada Masters Tournament bulan April 2021.

”Dia jelas memiliki semua yang dibutuhkan. Pemain ini punya semua kriteria untuk menjadi yang terbaik di dunia.” — Trevor Immelman, Kapten Tim Internasional Presidents Cup 2022.

Meskipun tak diragukan lagi bahwa keduanya akan mengoleksi lebih banyak gelar PGA TOUR dalam tahun-tahun ke depan dan melampaui rekor delapan kemenangan K.J. Choi, prestasi terbaik yang dilakukan oleh wakil Asia sejauh ini, siapa di antara keduanya yang bakal meraih hadiah utama PGA TOUR, FedExCup, dan juga mencapai No.1 pada Official World Golf Ranking.

Trevor Immelman, Tim Kapten Internasional untuk Presidents Cup 2022, memiliki wawasan pada kedua pemain itu dan menikmati peluang terbaik menyaksikan bagaimana Im berkembang menjadi pegolf kelas dunia tatkala menjadi asisten kapten di Royal Melbourne tahun 2019 dan komentator Golf Channel. Pegolf Afrika Selatan yang cerdik ini juga menyaksikan langsung bagaimana Matsuyama menalukkan Augusta National dan menjadi pegolf Asia pertama yang mengenakan jaket hijau.

Ketika menyaksikan Im meraih kemenangan empat stroke di Vegas, Immelman terpukau saat siaran langsung, menyebut bintang baru dari Korea, yang belajar golf sejak usia empat tahun, memiliki semua yang ia butuhkan untuk menjadi pemain terbaik di dunia.

”Dia jelas memiliki semua yang dibutuhkan. Pemain ini punya semua kriteria untuk menjadi yang terbaik di dunia,” ujar Immelman penuh antusias. ”Salah satu pemukul driver terbaik di Tour, jarak pukulnya jauh, (presisi) iron-nya seperti laser, dan short game-nya juga solid. Dia memiliki masa depan yang mengagumkan, dan saya tak sabar menantikan hal tersebut terwujud.”

Dalam setahun terakhir, Im terus memperkukuh fondasinya pada olahraga ini. Ia menyewa pelatih kebugaran dan menetap di rumah barunya di Atlanta dengan kedua orangtuanya, setelah menginap dari hotel ke hotel dalam beberapa tahun pertamanya di Amerika. Baru-baru ini ia juga meminta jasa kedi veteran, Billy Spencer, dan terus berlatih dengan pelatih swing-nya sejak lama, Choi Hyun, yang bertanggung jawab pada take-away Im yang lambat itu.

Im memilih bersikap rendah hati meskipun sang kapten memberi sanjungan yang demikian. ”Komentar tersebut jelas sungguh luar biasa dan saya sangat berterima kasih. Rasanya perjalanan saya masih sangat jauh untuk menjadi pemain terbaik di dunia, tapi saya punya golf dan berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya, jadi semoga suatu hari saya bisa menjadi pemain bagus itu,” ujar Im, yang sejauh ini sempat mencapai No.16 dunia sebagai peringkat tertingginya, dan peringkat 11 sebagai finis terbaiknya pada klasemen FedExCup 2020.

 

Im Sungjae
Dengan backswing yang ia lakukan secara perlahan, Im Sungjae mengoleksi dua gelar PGA TOUR. Foto: Christian Petersen/Getty Images,

 

Peringkat dunia Matsuyama juga sempat melambung hingga peringkat 2 pada tahun 2017—tahun yang sama ketika ia memulai FedExCup Playoff dari peringkat 1, sebelum akhirnya finis di peringkat 8—namun ia harus puasa gelar, sampai akhirnya meraih kemenangan Masters yang ajaib itu. Ia kembali bersaing pada ajang WGC-FedEx St. Jude Invitational bulan Agustus 2021, sebelum akhirnya meraih kemenangan di negeri sendiri pada ajang ZOZO CHAMPIONSHIP dan menjadi pegolf Jepang pertama yang menjuarai satu-satunya ajang PGA TOUR di Jepang itu.

Menariknya, bintang Jepang yang kerap tampil dingin ini memberikan sekilas gambaran tentang setinggi apa batasan yang ingin ia raih dalam golf. Dalam wawancara pra-turnamennya, ia memberi tahu media melalui penerjemahnya bahwa permainannya jauh dari standard. ”Pukulan, putting, chipping, semua itu belum mencapai level yang saya inginkan. Jika permainan saya bernilai 10 dari 10 pada The Masters, sekarang saya bisa bilang tak sampai 1,” ujarnya. ”Saya bakal kesulitan pekan ini, tapi saya ada di Jepang pekan ini, jadi saya termotivasi untuk bisa bersaing.”

Namun, lihatlah, putaran dengan skor 64, 68, 68, dan 65 memberinya kemenangan lima stroke di hadapan 5.000 penggemar memastikan Matsuyama menikmati kemenangan di negerinya. Namun, begitu dihadapkan pada pertanyaan soal performanya setelah kemenangan itu, ia membalas, ”Saya bisa menilai performa saya di angka 2 atau 3. Dari perspektif hasilnya, mungkin sekitar 8, tapi menurut saya semua itu karena energi yang saya peroleh dari para penggemar. Kalau kalian berkesempatan melihat saya di driving range, bola saya ke mana-mana dan tidak konsisten, tapi begitu di lapangan, saya bisa menyerap semua energi dari para penonton.

”Pemahaman orang lain soal konsistensi berbeda dengan konsistensi yang saya kejar.”

Jika Im atau Matsuyama dapat mencetak sejarah dalam tahun-tahun ke depan, entah dengan menjuarai FedExCup atau menjadi pegolf No.1 Dunia pertama dari Asia, komentar terakhir itu jelas menjadi dorongan besar bagi mereka untuk benar-benar menjadi pegolf kelas dunia.