Terlepas dari apa pun hasil Masters Tournament pekan ini, posisi Hideki Matsuyama dalam sejarah golf tidak akan tergoyahkan.
Oleh Chuah Choo Chiang, Senior Director, Marketing & Communications – APAC untuk PGA TOUR dan berdomisili di Malaysia.
Dewa-dewa golf yang sama yang memastikan kemenangan bersejarah Masters Tournament pertama bagi Asia 12 bulan silam kini kembali dipanggil untuk menjamin Hideki Matsuyama bisa benar-benar bugar untuk mempertahankan gelarnya pekan ini.
Kemenangan monumental satu stroke-nya di Augusta National membuat negara pencinta golf itu ikut melambung. Ribuan orang dengan antusiasnya meramaikan driving range, membeli sejumlah perangkat golf yang ia gunakan dan mulai bermain di lapangan-lapangan golf setempat sambil meniru jeda di puncak backswing yang sudah menjadi ciri khasnya.
Negara itu memang tengah menantikan juara Major pria pertamanya sehingga ketika Matsuyama menang, Perdana Menteri pun menganugerahi penghargaan kepada Matsuyama yang dianggap pahlawan ketika kembali ke negerinya. Kemenangan berikutnya pada ajang ZOZO Championship, satu-satunya ajang PGA TOUR yang dimainkan di Jepang, dan Sony Open in Hawaii sebagai kemenangan ketiganya dalam rentang sembilan bulan seketika terlupakan setelah ia mundur dari dua turnamen terakhir, THE PLAYERS Championship dan Valero Texas Open, lantaran cedera di bagian leher dan punggung.
Pegolf berusia 30 tahun itu mengaku mundur dari Texas untuk menjaga kondisi tubuhnya dan mencurahkan semua fokus dan energinya untuk kembali ke Augusta National. Mungkin ini bukan persiapan terbaik untuk ajang Major pria pertama ini, tapi bagi mereka yang ingat, setahun lalu Matsuyama melangkahkan kakinya ke Georgia tanpa pertanda bahwa ia bakal mengenakan Jaket Hijau. Sampai sesuatu berjalan dengan baik di area latihan menjelang Masters dimulai.
Pegolf Meksiko Abraham Ancer yang menjadi salah satu rekan bermain Matsuyama dalam dua putaran pertama kala itu mengingat bagaimana bintang Jepang itu menikmati permainannya di green dan membukukan skor 69 dan 71 untuk menempatkan dirinya melaju pada akhir pekan. ”Kelihatannya ia menampilkan permainan golf yang bagus dan bahkan ketika pukulannya meleset, ia bisa menemukan cara untuk mendapatkan birdie atau memaksimalkannya. Ketika Anda melihat ada pemain yang memasukkan putt justru ketika mereka membutuhkannya, dan ketika pukulan yang meleset bisa kembali ke fairway, sudah pasti Anda menyaksikan sesuatu yang istimewa sedang terjadi,” tutur Ancer, yang juga bertanding bersama Matsuyama membela Tim Internasional pada Presidents Cup.
”… permainannya setelah jeda akibat hujan itu sungguh sulit dipercaya. Sungguh, dia melakukan semuanya dengan sempurna.” — Xander Schauffele.
Xander Schauffele juga menyaksikan langsung bagaimana Matsuyama melaju untuk menciptakan sejarah dalam dua putaran final. Sebagian besar karena kegagalannya yang sekali lagi membuatnya harus puas untuk sekadar nyaris menjuarai ajang Major. Bintang asal Amerika yang juga memiliki ikatan erat dengan Jepang lantaran ibunya tumbuh di sana, menyebut Matsuyama praktis meningkatkan level permainannya setelah jeda akibat cuaca pada putaran ketiga, di mana ia membukukan 6-under di delapan hole terakhir.
”Hari Sabtu itu, sejujurnya, adalah harinya dia … permainannya setelah jeda akibat hujan itu sungguh sulit dipercaya. Sungguh, dia melakukan semuanya dengan sempurna. Itulah momen-momen ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik dan astaga, betapa bagusnya ketika semua itu terjadi di Augusta atau ajang Major lainnya,” tutur Schauffele yang sejauh ini baru menjuarai empat gelar PGA TOUR.
”Jadi, ia mendapatkan momen tersebut pada hari Sabtu dan melanjutkan permainannya pada hari Minggu.”
Apakah Matsuyama bakal sepenuhnya bugar, yang jelas ia akan bermain sebagai juara bertahan Masters dan bersaing dengan melampaui batasan rasa sakit sampai ia tak mampu lagi mengatasinya. Atlet-atlet Jepang selalu mengusung kebanggaan ketika mewakili benderanya dan Matsuyama juga tidak jauh berbeda.
Menjuarai Masters adalah target jangka panjang baginya sejak ia melakoni debutnya di Augusta National pada tahun 2011. Kala itu ia tampil sebagai juara Asia-Pacific Amateur Championship 2010 di Tokyo, sebuah ajang yang diciptakan oleh Augusta Natioal, R&A, dan Asia Pacific Golf Confederation untuk mendukung pengembangan golf di Asia Timur. Matsuyama juga sangat gembira kala itu karena ia justru bisa mengikuti ajang amatir tersebut setelah Jepang, selaku tuan rumah, menerima empat pemain tambahan dari semula hanya enam.
”Sungguh berkah yang luar biasa bisa menjadi juara Masters. Bisa mengikuti berbagai turnamen dan diperkenalkan sebagai Juara Masters jelas luar biasa,” imbuhnya. ”Menjadi pegolf Jepang pertama yang menjuarai ajang Major, dan terutama The Masters, membuat saya sangat gembira. Saya tahu kalau saya sekarang menjadi orang yang paling bahagia.”

Ancer juga turut senang melihat kegembiraan Matsuyama. Pasalnya, pegolf Meksiko ini juga memahami beban yang ia pikul tiap pekan. ”Sulit dipercaya … dia pergi ke mana-mana dan ada banyak orang dan media yang mengikutinya. Mugkin hanya Tiger (Woods) pemain yang mengalami tekanan yang melebihi Matsuyama, tapi saya bisa melihat betapa besar tekanan yang ia rasakan. Setelah beberapa kali berada di Jepang, saya sadar betapa besar golf di sana dan Hideki sudah pasti menjadi legenda bagi seluruh negara itu. Jelas saya bisa melihat besarnya kemenangan pada sebuah ajang seperti itu dan apa artinya bagi Jepang.”
Sebelum mempersingkat keberadaannya di Texas, Matsuyama sempat memberi tahu media bahwa ia sering mematok ekspektasinya, yang sudah pasti menjadi tenaga pendorong bagi kesuksesannya dalam meraih delapan gelar PGA TOUR sejauh ini. Ia juga mengungkapkan beberapa kegugupannya untuk menyiapkan jamuan dalam tradisi Santap Malam Juara. Ia berkewajiban menyiapkan menu dan mengungkapkan beberapa patah kata di ruangan yang secara eksklusif ditempati oleh para juara Masters.
”Tak sabar adalah salah satu cara untuk mengungkapannya; selain itu, saya juga berharap bisa main bagus. Ada beberapa ekspektasi dari diri saya, entah itu tekanan atau tidak,” ujarnya. ”Sama halnya dengan Santap Malam Juara itu. Saya tidak mahir berbahasa Inggris, jadi ini seperti dua sisi koin. Sudah pasti saya tak sabar untuk bisa bersama nama-nama besar yang merupakan juara Masters itu, tapi pada saat yang sama saya juga gugup memikirkan sambutan yang bakal saya berikan.”
Dengan edisi ke-86 yang segera dimulai dalam hitungan hari, tiap penggemar golf Jepang akan duduk dengan cemas untuk melihat apakah Matsuyama bisa benar-benar bugar dan menampilkan perjuangan meyakinkan untuk mempertahankan gelarnya. Namun, sesungguhnya, tidak ada hal yang benar-benar perlu ia lakukan atau buktikan selain menikmati panggilan sebagai Juara Masters 2021 di tee pertama. Ia juga telah menginspirasi ribuan anak di Jepang, Indonesia, dan seluruh Asia untuk mengejar mimpi mereka. Dan tentulah tak diragukan lagi ia bakal memenangkan lebih banyak gelar PGA TOUR, kalau bukan beberapa Jaket Hijau lainnya.
Tempatnya dalam sejarah golf juga sudah terukir, terlepas dari apa pun yang bakal terjadi pekan ini.


