Para pegolf top mulai mengincar hadiah terbesar pada PGA TOUR, yaitu FedExCup.

Oleh Jim McCabe

Karier golf profesionalnya masih pada tahap yang begitu awal pada tahun 2007 dan Brand Snedeker hanya mengagumi lanskap yang kala itu didominasi oleh veteran ikonik. Tiger Woods, Phil Mickelson, dan Vijay Singh kala itu menempati peringkat 1, 2, dan 3 pada daftar peraih hadiah uang. Sementara Steve Stricker, Jim Furyk, dan Mark Calcavecchia ada di peringkat 4, 7, dan 13.

Namun, pemain yang kala itu baru berusia 26 tahun dan baru menjalani tahun keduanya sebagai profesional sebenarnya mengimbangi para pemain veteran itu ketika menyinggung soal FedExCup Playoff, yang kala itu masih menjadi sesuatu yang baru pada PGA TOUR.

”Sungguh sesuatu yang langka dalam dunia golf ketika semua orang menjadi pemain debutan pada sesuatu dan kami semua menjadi debutan pada pekan ini,” ujar Snedeker, persis sebelum ajang Playoff pertama, The Barclays. ”Cukup menarik juga.”

Sudah menjadi sesuatu yang dipahami kala itu bahwa PGA TOUR membutuhkan apa yang olahraga beregu profesional butuhkan, yaitu sebuah akhir yang meyakinkan pada musim kompetisinya dengan Playoff untuk memahkotai sang juara. Kala itu hal ini menjadi sesuatu yang baru, tapi hal yang menarik terjadi. FedExCup Playoff yang kala itu terlihat bagaikan anak kecil yang dilahirkan ke dunia, dalam sekejap saja sudah tumbuh besar. Tahun ini menjadi edisi ke-15 dari gelaran akbar itu.

Memang terkesan gila. Namun, seperti kata pepatah, waktu tidak menunggu satu pegolf pun.

”Sungguh sesuatu yang langka dalam dunia golf ketika semua orang menjadi pemain debutan pada sesuatu dan kami semua menjadi debutan pada pekan ini.” — Brand Snedeker, 2007.

Jadi, meskipun Woods telah berumur dengan emosinya yang pasang-surut, Stricker kini berfokus total pada perannya sebagai kapten pada Ryder Cup, sedang Singh dan Furyk menjadi anggota pada PGA TOUR Champions, FedExCup Playoff terus berjalan.

Mickelson, tentunya, juga sudah berusia di atas 50 tahun. Hanya saja ia belum menerima bahwa ia seharusnya bermain dengan para pegolf sebayanya.

Namun, jika melihat play-off mendatang dari berbagai kacamata, hal-hal berikut inilah yang bisa terlihat. Tahun 2007 dulu, hampir seluruh 125 pemainnya terdiri dari mereka yang bertumbuh pada PGA TOUR tanpa melakoni turnamen pasca-musim kompetisi, sebagian besar mereka yang bakal mengikuti Playoff kali ini adalah para pegolf profesional yang tidak mengalami kompetisi ketika FedExCup belum bergulir.

Inilah komoditi yang sangat berharga bagi PGA TOUR. Alih-alih menjual sesuatu yang baru, seperti yang terjadi 14 tahun silam, tidak ada lagi penawaran yang perlu dilakukan. Para pemain sekarang ini telah memiliki siklus FedExCup Playoff dalam kalender sejak awal tahun sehingga kredibilitasnya pun sudah ada.

Sesuatu yang juga berubah, demi kukuhnya olahraga ini secara global ke arah yang lebih baik, ialah komposisi para pesaing teratas pada FedExCup. Dengan hanya tersisa satu turnamen pada musim reguler, yaitu Wyndham Championship yang dimulai hari ini (12/8), sebelum Playoff, rata-rata pegolf di jajaran sepuluh besar ialah 28,7 tahun. Pada tahun 2007, rata-rata usianya ialah 34,2 tahun.

Hal ini sangat besar dampaknya, mengingat sembilan dari 14 FedExCup Playoff sebelumnya, keseluruhan pemenang mengawali kompetisi pasca-musim dari posisi sepuluh besar. Melihat jajaran sepuluh besar saat ini, mudah memperkirakan siapa saja yang bakal berada di peringkat lima besar—Collin Morikawa, Jordan Spieth, Patrick Cantlay, Harris English, atau Jon Rahm—yang berpotensi meraih hadiah terbesar di peringkat pertama (US$15 juta). Dan sekali lagi, peringkat 6-10—Abraham Ancer, Bryson DeChambeau, Louis Oosthuizen, Justin Thomas, dan Sam Burns—menghadirkan pengakuan yang sulit diabaikan, sambil menempatkan diri mereka juga sebagai pemain yang berpotensi memberi kejutan.

 

Xander Schauffele
Xander Schauffele berpotensi memberi kejutan pada rangkaian FedExCup Playoff menyusul suksesnya meraih medali emas Olimpiade. Foto: Getty Images.

 

Kunci keberhasilannya, sudah tentu, seperti yang pernah dikatakan sendiri oleh Tiger Woods—Juara FedExCup pada tiga edisi pertama, plus tahun 2012 dan 2013—yang berbunyi, ”Kemenangan akan mengurus sisanya.”

Ujaran ini sangat tepat, mengingat tahun 2019 PGA TOUR menerapkan suatu penyederhanaan: menangkan TOUR Championship dan Anda menjadi juara FedExCup. Tidak ada lagi keputusan berbeda, seperti 2018 ketika Woods menjuarai TOUR Championship, namun Justin Rose yang menjadi pemain pertama yang pernah memenangkan gelar FedExCup tanpa memenangkan satu turnamen Playoff sama sekali.

Seiring dengan rangkaian Playoff yang segera bergulir (THE NORTHERN TRUST di New York pada 19-22 Agustus, BMW Championship di Baltimore pada 26-29 Agustus, TOUR Championship pada 2-5 September), fakta tersebut sekaligus menepis kekeliruan banyak orang. Perlu kita ingat bahwa rangkaian Playoff ini bukanlah periode yang terlambat untuk menjadi panas, seperti yang Dustin Johnson lakukan pada tahun 2020 lalu.

Johnson yang kala itu berada di peringkat 17 klasemen FedExCup memenangkan THE NORTHERN TRUST dan TOUR Championship untuk gelar FedExCup pertamanya.

Namun, perlu dicatat juga bahwa hanya ada 30 dari 125 peserta Playoff yang bisa tampil pada TOUR Championship. Begitu berada di ajang pamungkas itu, format skor yang mengejutkan itu mulai berlaku. Pemain No.1 pada klasemen FedExCup akan memulai turnamen itu dengan skor 10-under, No.2 dengan 8-under, No.3 dengan 7-under, demikian seterusnya sampai level par. Dengan kata lain, seorang pemain harus bermain dengan solid secara konsisten dalam rangkaian Playoff itu. Dan itu juga yang memberi alasan mengapa Anda bisa memprediksi empat nama ini sebelum Playoff dimulai.

Morikawa kini menjadi pimpinan klasemen berkat kemenangannya pada The Open Championship. Namun, permainannya sepanjang musim ini juga cemerlang. Ia telah delapan kali masuk sepuluh besar termasuk kemenangan World Golf Championships pada Workday Championship. Ia juga sempat mengikuti play-off untuk medali perunggu pada Olimpiade Tokyo. Semua pembawaannya meyakinkan Anda bahwa ia tidak mungkin bermain buruk. Tentu saja bisa saja permainannya buruk, mengingat golf itu rentan, namun jelas bakal mengejutkan melihat pegolf berusia 24 tahun ini melakukannya.

Pada akhirnya, inilah FedExCup Playoff, di mana pemain terbaik selalu tampil ke permukaan.

Ada juga nama Spieth, yang bangkit dengan permainan scramble yang sulit ditandingi. Sembilan turnamen terakhirnya memberinya kemenangan, dua kali finis di tempat kedua, posisi ketiga pada Masters, dan mantan pegolf No.1 Dunia ini bermain sangat efektif pada hari Jumat dan Sabtu—16-under dalam 18 kesempatan.

Rahm, yang kini menjadi No.1 Dunia dengan serangkaian hasil permainannya memberi alasan yang meyakinkan. Lima turnamen terakhirnya memberinya gelar U.S. Open, peringkat ketiga The Open Championship, posisi 8 pada PGA Championship, peringkat 7 pada Scottish Open, dan memimpin pada ajang Memorial, lalu, oh ya, dia dipaksa mundur setelah bermain 54 hole menyusul hasil tesnya yang positif COVID-19. Namun, dengan keunggulan enam stroke kala itu, kita tidak bisa memungkiri bahwa pegolf Spanyol ini sedang berada dalam puncak permainannya.

Dalam usia 38 tahun, Oosthuizen menjadi pemain tertua yang berada di jajaran sepuluh besar klasemen FedExCup. Tidak ada kemenangan yang bisa dibanggakan, selain konsistensinya. Dia sudah bermain 50-under dalam tujuh turnamen terakhirnya. Dalam periode itu, ia sudah tiga kali finis di tempat kedua, sekali di tempat ketiga. Bukan sesuatu yang mengejutkan jika kita melihatnya bersaing pada salah satu, jika tidak seluruh, ajang Playoff. Dan jika hal itu terjadi, cepat atau lambat, Anda bisa menduga bahwa namanya bisa terpampang pada kolom pemenang.

Tentunya, meskipun keempat nama ini menjadi penantang terutama untuk gelar FedExCup, Anda juga layak melihat beberapa nama lain. Cantlay, English, dan DeChambeau sudah dua kali menang pada musim 2020-2021 ini. Hideki Matsuyama, peringkat 14 pada klasemen, menunjukkan ketangguhannya pada The Masters dan sudah dua kali kalah pada play-off—untuk medali perunggu Olimpiade dan pada WGC-FedEx St. Jude Invitational.

Lalu ada juga Xander Schauffele, yang ada di posisi 13, yang tentulah sedang memiliki rasa percaya diri yang tinggi usai meraih medali emas Olimpiade. Lalu ada juga parade bintang-bintang muda—Viktor Hovland, Joaquin Niemann, Scott Scheffler, Im Sungjae—yang permainannya juga bisa lekas panas. Jadi, jangan mengabaikan mereka juga.

Pada akhirnya, inilah FedExCup Playoff, di mana pemain terbaik selalu tampil ke permukaan. Namun, patut diingat, semua itu dimulai dengan begitu banyak pemain yang tangguh.